"Awas, Kuperkosa, Kau!"

(Versi editan yang berbeda sudah pernah ditampilkan di Mojok)

Dulu sekali, saya tidak ingat tahun berapa, tapi mungkin lebih dari 15 tahun yang lalu, saya memutuskan untuk berhenti berhijab. Seketika saja, banyak kawan SMA yang kepo. Bahkan mereka yang tidak pernah berkomunikasipun tiba-tiba muncul di pesan Friendster saya. Ada yang bertanya alasan berhenti berhijab, ada yang menuduh saya dikristenisasi, ada juga yang menyangka saya jadi atheis.

Dari semua tuduhan standar tersebut, ada satu yang paling mengejutkan. Katanya, “Kau ni nyari sensasi ye? La bagus aurat ditutup, kau buka pulo. Yo pantes bae sih kalo kau diperkosa. Ati-ati, kuperkosa, gek kau.” Begitu ujarnya, atau kalau dibahasaindonesiakan menjadi “Kamu tuh cari sensasi ya? Sudah bagus aurat ditutup, malah dibuka. Ya pantas saja kalau kamu nanti diperkosa, hati-hati, nanti aku perkosa, kamu.”

Wow, jadi karena tidak lagi berhijab, maka saya pantas diperkosa. Padahal, kita semua paham bahwa nenek-nenek pakai jilbab panjang menutupi badan pun ada yang diperkosa. Namun, kali ini kita tidak akan membahas persoalan klasik siapa yang pantas diperkosa (hint: tidak ada orang yang pantas diperkosa *emoji senyum cute yg matanya melengkung*).

Sampai sekarang, dari drama awas nanti kau kuperkosa tersebut, ada satu hal yang masih mengganjal, kok bisa ya orang menggunakan pemerkosaan sebagai ancaman. Tentu banyak diskusi dan jurnal yang membahas seks sebagai alat opresi, tapi, saya yang saat itu masih 16 tahun (atau 17) belum pernah terbayang akan mengalaminya langsung. Pemerkosaan digunakan sebagai ancaman untuk membungkam pilihan atas tubuh saya sendiri.

Dalam berbagai diskursusnya, seks ini jadi semacam benda mistis saja; dipakai untuk mengajak pada kebaikan, dipakai untuk menakut-nakuti, dipakai untuk memotivasi, dipakai pula untuk mengopresi. Urusan ena-ena aja dibuat jadi rumit betul.

Tentu saja apa yang saya alami tersebut cuma satu titik kecil dari ribuan kasus. Pemerkosaan dan ancaman pemerkosaan sejak dahulu digunakan untuk menghilangkan suara perempuan. Saat bocah saya terobsesi pada mitologi Yunani yang termashur itu, sampai akhirnya menyadari hampir semua dewa-dewa gagah macam Zeus dan Posoiden adalah pelaku kekerasan seksual dan pemerkosa. Pada saat yang sama, dewi-dewi berpengaruh sering kali ditampilkan sebagai tokoh jahat atau dianggap lemah, Hera dan Medusa misalnya. Dalam tradisi negara-negara Arab, bahkan perempuan tidak dianggap pantas untuk menjadi saksi pemerkosaan sehingga saksi mata sering kali harus laki-laki.

Dalam tradisi timur, kita tahu Dewa Indra menyaru menjadi Gautama supaya bisa ena-ena sama Ahilya, tapi saat ketauan, yang disuruh menyucikan diri justru Ahilya. Sama seeprti kisah Rama yang meminta Shinta membuktikan kesuciannya usia diculik Rahwana. Salah aja terus jadi perempuan.

Zaman berubah, maka rape culture pun berubah. Kalau dulu Zeus harus repot mindik-mindik di hutan ngintipin Diana dan membuat Diana merasa terancam, sejarang sih tidak perlu repot. Cukup siapkan keyboard saja untuk bisa mengancam memperkosa mbak-mbak di seantero dunia. Internet kini adalah kursi panas untuk para aktivis hak-hak laki-laki dan mas-mas misoginis. Ancaman pemerkosaan daring ini jelas perpanjangan dari rape culture yang sudah terbentuk dari masa dewa-dewa masih perang melawan Kurawa.

Tapi, penasaran kita masih belum terjawab, kenapa pemerkosaan sering dijadikan ancaman terhadap perempuan dan digunakan untuk membungkam perempuan?

Dari Zeus sampai Dewa Indra, kita lihat bahwa perempuan yang dianggap baik adalah perempuan yang menurut, tidak punya kuasa, dan berguna sabagai pemuas laki-laki. Perempuan harus perawan kecuali jika dia berhubungan seks dengan laki-laki yang dapat diterima oleh masyarakat (misal, suaminya). Sebab itu Shinta adalah permepuan baik, karena dia menurut saja pada Rama, dan terbukti belum pernah berhubungan seksual. Sementara, perempuan yang memiliki kuasa dan tau apa yang dia inginkan (termasuk menginginkan kepuasan dari alat kelaminnya) seperti Hera dan Medusa dianggap perempuan yang tidak baik, tidak sesuai standar, dan tokoh antagonis.

Sebab masyarakat melihat kemaslahatan tertinggi perempuan terletak pada pernah atau tidaknya panis memasuki vagina, maka ancaman pemerkosaan adalah pemberi kerusakan tertinggi atas harga diri perempuan. Pada saat yang sama, para pengancam pemerkosa ini jadi mendapatkan ilusi kuasa yang lebih tinggi dari perempuan yang mereka ancam: harga diri kalian ada di ujung tanduk penis. Jika sudah begitu, diharapkan perempuan akan ketakutan dan jadi tidak lagi banyak berbicara.

Tapi kan cuma ngancam online, nggak usah lebay!

Loh, kalau kejadian online dianggap tidak penting, ngapain negara mewacanakan ada polisi online?

Jawaban cepatnya, meski dianggap tidak berbahaya, ancaman online memiliki dampak yang juga berbahaya untuk kesehatan psikis. Para penerima ancaman online jadi sering merasa ketakutan, stress, depresi, dan trauma.

Di banyak negara, pengancam pemerkosaan yang dilakukan pada platform online sudah terkena ancaman pidana. Misalnya saja kasus Joshua di India. Pelawak Agrima Joshua mendapatkan ancaman pemerkosaan melalui media sosial karena kritiknya terhadap pemerintah. Sementara itu, bertahun-tahun sebelumnya, jurnalis investigasi Neha Dixit berulang kali menerima ancaman pemerkosaan terkait investigasi mendalam yang dilakukan selama lima tahun mengenai penculikan dan perdagangan anak perempuan.

Ancaman pemerkosaan kepada keduanya adalah upaya untuk membungkam keduanya melalui teror yang dianggap paling ampuh untuk menghancurkan harga diri perempuan. Selain itu, ancaman pemerkosaan kemudian juga menjadi cara untuk mengalihkan perhatian terhadap hal-hal penting yang sedang mereka bagikan. Atau dalam banyak kejadian lain, mengalihkan perhatian dari pencapaian-pencaiapan perempuan.

Ancaman pemerkosaan pada platform online merupakan cerminan dari kejadian offline. Apakah kalian masih marah pada kejadian pemerkosaan anak yang baru pulang sekolah? Diperkosa beramai-ramai, dibunuh, lalu dibuang ke semak-semak. Begitu keadaan offline kita. Berapa kali kalian mendengar bercandaan terkait pemerkosaan dan terpaksa harus ikut tertawa, sebab, jika tidak, maka kalian tidak asik, tidak punya selera humor, dan paling parah: kalian adalah feminis (seolah-olah menjadi feminis sama buruknya dengan menjadi pemerkosa dan menjadi misogini, padahal feminins artinya kita percaya bahwa laki-laki dan perempuan punya hak-hak yang setara. bah!)

Ancaman-ancaman pemerkosaan ini sering kali adalah cara-cara cupu untuk membungkan suara perempuan dari isu-isu penting yang mereka suarakan. Jika perempuan memiliki inisiatif untuk bersuara, atau bahkan sekadar eksis di media sosial (yes, perempuan berhak eksis di media sosial dengan gayanya masing-masing tanpa harus takut diancam), ancaman pemerkosaan tidak seharusnya membungkan mereka. Dan ketika ancaman pemerkosaan terjadi, jangan sampai kita bertanya kepada perempuan: kamu habis mengunggah apa? seperti Rama meminta pembuktian kepada Shinta.

Kalau ada perempuan mendapat ancaman diperkosa, yang harus kita lakukan adalah: bajingan, endi ki sing njaluk diantemi?

Comments

Popular posts from this blog

First Travel dan betapa seksisnya media kita

Ustad yang berfikir dengan penisnya

10 tahun dan 24 jam