Mawar merah dalam keranda

Kerjaanku selain berak dan kencing adalah makan dan berfikir. Aku banyak berfikir soal kemungkinan-kemungkinan. Rupanya terlalu banyak berpikir adalah gejala tak terelakan bagi mereka yang memiliki persoalan kecemasan.

Aku juga berfikir soal doa-doa. Aku pernah kecewa dengan doa-doa. Merapal doa apapun, sebanyak apapun, bagaimanapun caranya, tak akan berguna untuk membuat ayah terjaga. Saat petinya tiba di jakarta, aku merapal doa, tak juga berandai-andai pada kemungkinan bertemu lebih awal, saat hangat masih ada. Kucium keningnya, dingin. 

Subuh itu aku terjaga, meronta. Siang sebelumnya aku telepon ibu. Saat itu aku mengatakan dengan bimbang akan segera pulang, tapi ibu bilang ayah membaik. Ayah sudah bisa berjalan-jalan keliling komplek perumahan, bahkan ikut mencoblos pada pemilu kali itu. Dia juga minta diajak ke tukang cukur. 

Ayah begitu taat pada negara. Bahkan pada hari akhir, hal terakhir yang dilakukan adalah menggunakan hak pilih dalam Pemilu. Dan aku, sebagai anak yang tidak peka, senang saja ketika ibu mengatakan ayah ikut mencoblos. Senang karena ayah membaik. Senang karena tidak perlu mengambil keputusan sulit, pulang di tengah pengerjaan skripsi bukanlah hal yang menarik. 

Entah purnama, entah sabit, entah tanpa keduanya saat ibu menghubungiku tengah malam itu. Ayah tak lagi ada katanya. Ah sial, ini bukan jenis berita yg ingin kudengar di tengah bab empat skripsi. Saat itu aku pikir aku mendengar kata kematian dari iklan Prabowo Subianto atau Wiranto. Atau jangan-jangan kata kematian itu berasal dari buku Barthez. 

Namun, kematian menggantung di corong telepon. Air mata memburamkan pandang ke monitor. Jelas tampak Prabowo Subianto sedang melintasi sawah. Skripsi yang pada akhirnya ditinggal dosen pembimbing pada bab lima ini adalah salah satu faktor yg menyebabkan ayah hanya bisa berucap "jaga adik-adik" melalui telepon genggam. 

Bisa-bisanya aku menunda pulang karena skripsi sialan yang akhirnya menggelendoti hingga pemakaman. Bahkan kubawa juga buku-buku referensi itu. Buku-buku itu hanya berada beberapa jengkal saat peti kayu dibuka, dan ayah dikeluarkan dari dalamnya. Tak sekedar menggunakan kafan, tapi juga terbungkus plastik, prosedur standar menerbangkan jenazah dengan pesawat, kata ibu. 

Andai tangan kananku tak melarat pada kesibukan fatamorgana, maka bukan hanya melalui gambar kamera kulihat sosok terakhirmu. Kuingat pintamu tuk menjaga adik-adik. Menjaga adik bukan tugas mudah, kau tinggalkan mereka begitu saja, seperti kumpulan mawar merah muda yang harus kulindungi dari sengatan matahari agar tidak layu. 

Mataku berkedip tapi hatiku tidak. Hati tak tahu harus apa. Ketika bapak-bapak dan anak muda yg semuanya pria mulai menyolatinya, aku bahkan tak lagi peduli pada rapalan doa-doa. 

Mati atau tidak matinya seseorang, aku tetap harus bersegera menyelesaikan analisa semiotika soal pencitraan prabowo lewat iklan politiknya. Lalu kuteringat, Ayah selalu mengenalkan Prabowo sebagai seseorang yg lulus bersamanya di akademi hukum militer. 

Sejak SD, aku ingin sekali menjadi wartawan. Ayah tentu tak pernah bersepakat kalau wartawan adalah jenis pekerjaan yang pantas dicita-citakan. Apalagi aktivis, terlebih aktivis lingkungan. Keduanya adalah pekerjaan sia-sia bagi Ayah.

Sesaat malam gelap gulita, aku teringat Ayah. Dia yang membelaku jika adik tak mau sejenak mematikan TV yang menayangkan audisi manusia paling tidak takut hantu. Acara bodoh yg sia-sia. Aku yang ketakutan setiap melihat acara itu, tentu lebih tinggi kadar kebodohannya. 

Ayah juga yang memarahiku jika Sailor Moon diputar di Indosiar, karena biasanya aku tak mau mengerjakan PR matematika demi menonton Usagi beraksi. Kala itu, aku langsung merapal doa--berdoa dengan khusuk kepada Tuhan yang kesepian, sendirian, agar besok pagi sekolah roboh saja, agar tak ada lagi PR matematika. Namun, kukerjakan juga PRnya sambil bersimbah air mata, membayangkan Sailor Moon yang sedang melayangkan bulan sabit kembar. 

Sayangnya yang kali ini kudapati adalah ayahku yg terbujur kaku, seperti baru saja terkena mawar merah Tuxedo Bertopeng. Dipanggul menuju lubang menganga di antara gundukan tanah merah. Tak pernah kusangka kalau aku kan menabur melati di pemakaman ayah seperti saat kulihat anak-anak Soeharto menyiramkan berton-ton melati ke makam mewah Tien Soeharto melalui televisi. 

Meski tak mewah, tetapi makam ayahku juga harum melati, dicampur daun pandan, kenanga, dan sedap malam.

Aku tak yakin apa ada alam barzah itu, ataukah reinkarnasi. Tak akan juga pernah tahu hingga ku mati. Karena doa terlalu kosong atau terlalu gaib untuk menjawabnya. Maka biarlah ayah terbaring kaku, karena doa dan segala lelayu tak membantu, setidaknya sudah kuhadiahkan toga hitam pada hari jadinya yang ke lima puluh, November 10 tahun lalu

Comments

Popular posts from this blog

Privileges Transfer and The Leftover of Colonialism

First Travel dan betapa seksisnya media kita

luka