Karena usia cuma deretan angka-angka!

Pekan lalu saya tepat menjadi 30 tahun. Sering saya dengar 30 adalah angka keramat, si dirty thirty. Jadilah 30 sering menjadi hal besar. Konon rezim perawatan kecantikan agar terlihat muda juga dimulai sejak usia 30.

Katanya, mulai 30 tahun, kulit kita kehilangan kolagen, sehingga tak kencang lagi. Kulit juga tak mulus lagi, dan mudah timbul bercak hitam. Selain itu, metabolisme perempuan juga menjadi semakin lambat, sehingga akan mudah sekali menambah berat badan. Kalau belum menikah, segeralah menikah, karena laki-laki tak tertarik pada perawan tua. Kalau belum punya anak, segeralah berusaha memberi momongan karena tubuh kita tak lagi perkasa untuk hamil dan melahirkan.

Banyak betul momok mengerikan tentang 30an.

Saya tidak tahu apakah kapitalisme atau patriarki yang menciptakan momok tersebut. Yang pasti, kapitalisme membonceng isu-isu tersebut, dan mengambil keuntungan sedalam-dalamnya, seluas-luasnya. Kapitalisme berusaha membuat perempuan 30an kehilangan kepercayaan diri, agar kemudian dapat muncul dengan solusi.

Solusi yang mereka siapkan agar para perempuan 30an ini dapat meraih kepercayaan diri kembali tentu saja tak jauh-jauh dari konsumsi. Tumpah ruah produk perawatan tubuh di pusat perbelanjaan dan dalam halaman-halaman mengilap majalah perempuan. Dokter serta klinik kecantikan muncul di setiap sudut kota besar. Sedot lemak, botok, implan payudara, segala macam produk pun lebih sering diperbincangkan dari pada isu-isu penting macam kesehatan reproduksi dan menstruasi.

Saya tentu tak menyindir mereka yang memilih untuk melakukan hal-hal tersebut. Jika memang dilakukan dengan kesadaran, membuat nyaman, tidak terpaksa, dirasa penting untuk kebutuhan pribadi, dan memiliki dana yang cukup untuk melakukannya, mengapa tidak. Setiap orang memiliki cara tersendiri untuk merasa nyaman dan bahagia. Namun, yang saya kritisi adalah tekanan sosial dan tekanan pasar untuk melakukan hal-hal tersebut agar merasa bahagia dan nyaman dengan diri sendiri.

Industri kecantikan adalah jalan panjang berliku yang tak ada habisnya, mau sejauh mana perempuan ditekan untuk melalui jalan tersebut?

Di sisi lain, saya juga skeptis pada mereka yang percaya bahwa kepercayaan diri dan nyaman atas diri sendiri adalah melalui kebahagiaan. Maka kita harus selalu bahagia dan selalu berfikir positif. Salah satu merek perawatan kecantikan beberapa tahun lalu bahkan pernah menggunakan tag line: don't wait, start recording happiness, now!

Kapitalisme sering kali mempromosikan dan mengajarkan bahwa bahagia adalah sebener-benarnya perasaan yang harus dirasakan manusia. Sedang perasaan lainnya adalah kurang hakiki dibanding rasa bahagia.

Kita seperti hidup dalam tirani bernama kebahagiaan. Ribuan artikel ditulis mengenai bagaimana caranya menjadi bahagia, bagaimana menciptakan kebahagiaan, bagaimana mendapat kebahagiaan, bagaimana meningkatkan kebahagiaan, bagaimana menjaga kebahagiaan dan rasa bahagia, juga bagaimana caranya membuat kebahagiaan bertahan lama.

Tentu menjadi bahagia adalah hal baik, namun bahagia hanyalah salah satu bagian dari kepenuhan emosi manusia. Merasa HARUS bahagia, adalah obsesi. Padahal, marah, sedih, dan frustrasi tidaklah lebih buruk dari rasa bahagia. It's ok to be angry, sad, or frustrated. We are human, embrace those feelings!

Saya percaya, satu-satunya cara untuk merasa cukup, dan memiliki kepercayaan diri, bukanlah dari keharusan untuk bahagia, atau keharusan terlihat muda. Melainkan dari mencintai diri sendiri. Saya ketika 20an memiliki lebih banyak energi dan mungkin lebih sedikit lemak, tapi saya yang 30an lebih memahami diri sendiri dan apa yang dibutuhkan dalam hidup. Saya uang berusia 27, mungkin memiliki level kebugaran yang jauh lebih baik dan bisa jadi 27 adalah masa paling prima kehidupan berolah raga, tapi saya yang sekarang lebih paham kapan harus mendengarkan tubuh.

Jangan takut menjadi tua, jangan tertekan pada rezim kecantikan dan iklan yang menuduh-nuduh kulit wajah kusam atau kurang berwarna terang. Jangan takut pada tetangga yang suka menuding-nuding agar segera punya anak. Ibu yang lebih matang justru lebih resilien dan memiliki lebih banyak stamina untuk mendidik anak yang lebih welas asih. Jangan khawatir pada metabolisme, kita hanya perlu perlu sayang pada tubuh, memberi asupan baik dan berolah raga agar sehat. Jangan khawatir pada tekanan sosial.

Saya tidak percaya bahwa saya yang lebih dewasa adalah lebih baik dari saya yang masih muda. Karena saya tidak percaya bahwa kita harus mendiskriminasi diri sendiri. Saya percaya bahwa saya yang 30 adalah berbeda dari saya yang 27, 25, 20, 17, atau 15.

Kami bertumbuh, membuat banyak perubahan, menciptakan perubahan positif, atau mungkin juga negatif. Namun yang pasti, kami terus membangun diri agar menjadi versi yang paling nyaman untuk diri kami sendiri. Karena hubungan paling lama yang akan kita jalani adalah dengan diri sendiri, sementara  usia cuma deretan angka-angka.



Comments

  1. "Padahal, marah, sedih, dan frustrasi tidaklah lebih buruk dari rasa bahagia. It's ok to be angry, sad, or frustrated." I am completely agree with you. Ada sebuah video menarik soal ini, dari school of life: https://www.youtube.com/watch?v=PaZ1EmPOE_k

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular posts from this blog

Aku tumbuh sembari membenci payudara

keterbiasaan pada pelecehan seksual

First Travel dan betapa seksisnya media kita