orang tua Indonesia lebih suka liat anaknya kawin dari pada bahagia

Belakangan, banyak betul bergelimpangan tulisan yang makin memperbesar jurang anak muda dan orang tua. Si anak muda bilang: orang tua di Indonesia itu cuma pengen liat anaknya kawin, ga pengen lihat anaknya bahagia. Si orang tua bilang: anak zaman sekarang sok tahu dan susah dibilangan. Kemudian masing-masing menghabiskan waktu untuk saling berasumsi tentang yang lainnya.

Dua pekan lalu saya dan Ibu membicarakan salah satu artikel yang membahas hal ini. Kata Ibu: “Setiap orang tua pasti ingin anaknya bahagia!” Dia sering kali berkata: "Mama sih yang penting teteh seneng," ketika saya meminta pendapat. Padahal di sisi lain Ibu juga tidak bahagia atas keputusan saya hanya menikah di city hall saja. Dia tetap ingin kami menikah dengan cara yang menurut dia lebih benar dan memenuhi ekspektasi masyarakat. Yungalah, lagi-lagi urusan ekspektasi masyarakat kan.

Mungkin sampai invasi mahluk luar angkasa ke Indonesia pun, pola pandang kami tetep nggak akan ketemu. Saya tahu kami akan tetap berdebat sampai kapanpun tentang pernikahan saya dan Ibu akan tetap dalam mode denial. Namun, saya tetap percaya sebagian besar orang tua ingin anaknya bahagia, kecuali orang tua penuh drama seperti di sinetron atau film India dan Latin Amerika, juga yang mata duitan.

Hanya saja, mereka punya definisi bahagia yang berbeda. Saya tidak percaya orang tua lebih ingin anaknya menikah dari pada bahagia. Banyak orang tua yang ingin anaknya menikah lantaran menurut mereka menikah itu memberi kebahagiaan, plus bisa jadi juga memberi keamanan ekonomi dan sosial. Jangan lupa, sebagian besar orang tua kita hidup di masyarakat 60-70-80-an di Indonesia yang feodal, patriarki, dan mungkin misoginis. Lebih parah lagi, nilai-nilai ini juga ditekankan oleh rezim berkuasa, dari Hari Kebangkitan Perempuan yang diganti Hari Ibu, timpangnya pelajaran tentang pahlawan perempuan dibanding laki-laki, sampai Dharma Wanita. Rezim dengan sadar menekankan seksisme kepada orang tua kita. Dengan rezim semacam ini, kebahagiaan bagi orang tua kita adalah menikah, punya anak, mapan secara ekonomi, memiliki rumah dan kendaraan roda empat, lalu bisa berwisata keluarga setahun sekali ke Bali atau Danau Toba. Kalau tidak, apa kata tetangga?

Saya tak mau mengamini sikap patriarki, misoginis dan feodal. Namun, saya paham bahwa meski Ibu berusaha lebih membuka pikiran, dia tetap tidak hidup dalam silo, dan masyarakat pasti mempengaruhi pola pikirnya. Jangan lupa, di negara yang katanya liberal abis aja women’s suffrage baru tercapai tahun 1920, lebih dari 100 tahun sejak Declaration of Independence mereka pada 1776. Panjang betul memang perjalanan untuk kesetaraan.

Orang tua kita bisa jadi patriarkis dan misoginis, dan kita jangan pernah membenarkan sikap patriarkis dan misoginis tersebut. Namun apakah kita sudah berusaha berkomunikasi dan saling memahami? Sudahkah kita duduk bareng menjelaskan arti kebahagiaan masing-masing? Ada aja pasti orang tua yang saklek, ga mau dibantah, dan ga mau duduk bareng. Ayah saya begitu. Mereka hidup di massa sandiwara radio dan baca koran, sementara kita pagi-pagi baca sortiran berita di Twitter, atau Guardian app. Yang dibaca dan dimengerti juga akhirnya beda. Mereka terbiasa komunikasi satu arah, nggak boleh menjawab kalau ditanya sama orang tua, sementara, kita terbiasa dengan diskusi dan keterbukaan.

Namun, saya percaya sebagian besar orang tua ingin anaknya bahagia, kecuali orang tua penuh drama seperti di sinetron atau film India dan Latin Amerika, juga yang mata duitan.

Sudah tentu zaman berubah, hal yang dianggap baik juga berubah. Orang tua pun jangan melulu merasa sebagai generasi yang lebih baik dari pada generasi anaknya. Merasa lebih punya moral dan jalan yang lebih lurus. Ini ada tulisan menarik mengenai hal tersebut.



sumber: https://www.facebook.com/4bright.indonesia/posts/1548305178550751

Masalah nilai apa saja yang fundamental ini bisa memicu perdebatan lagi. Fundamental bagi orang tua, belum tentu fundamental bagi anaknya. Misalnya, banyak saya kenal orang tua yang menganggap nilai tertentu adalah fundamental, sementara anaknya tidak berpendapat demikian.

Yang pasti, kata teman saya, Ema, "urusan orang tua-anak dan komunikasi ini memag complicated ya… Selama kita ga buka jalur komunikasi ya segala sesuatu ujung-ujungnya pake asumsi dan generalisasi."



Comments

  1. Butuh waktu lama buat nyokap untuk menghargai keputusanku dengan nggak asal nikah hanya karena dikejar umur. Apalagi, sempet nyaris terjebak dalam toxic relationship. Aku terang-terangan bilang mau nikah karena mau dan udah sreg dengan pilihanku, bukan karena takut stigma perawan tua atau dikejar umur.

    ReplyDelete
  2. Yups. Komunikasi itu yg diperlukan. Kalau ortu udah tau mau kita gimana, biasanya sih mereka paham. Kalau kita gak komunikasikan, gimana mereka bs tau, ya kan?

    ReplyDelete
  3. Komunikasi dan keterbukaan. Dua hal yg sebenernya simple tp karena ego masing masing anak dan orangtua yg menyebabkan dua hal tersebut tidak bisa tercapai.

    Jadi pada akhirnya banyak anak yg mencoba mengalah karena tidak ingin berbelitbelit dg orangtua.

    Btw terima kasih atas tulisannya.

    ReplyDelete
  4. Ga sengaja nemu tulisan ini. Jadi pengen komen, mudah2an ga mengganggu.

    Menurut gua masalah hub ibu anak itu adalah sebuah putaran sejarah yang udah berulang ribuan kali.

    Selalu sama kejadiannya: anak merasa makin dewasa, ibu mau atur, anak punya pendapat sendiri, ibu menyalahkan, anak bilang jaman udah beda, ibu bilang anaknya ga penurut, lalu anak berkata ke dirinya sendiri bahwa suatu saat dia ga akan gitu sama anaknya.

    Dan saat sianak udah tua dan dia udah jadi ibu2, ya ternyata dia gitu sama anaknya dan sejarah berulang.


    Gua ga mau bilang siapa yg bener dan salah. Dua duanya ada benar versi masing masing. Cuma gua mau bilang, kadang butuh waktu untuk mengerti kebenaran versi ibu. Kadang sehari, kadang puluhan tahun sampe kita berada di posisinya. Itu aja.

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular posts from this blog

Aku tumbuh sembari membenci payudara

keterbiasaan pada pelecehan seksual

First Travel dan betapa seksisnya media kita