utang pernikahan

Semalam saya ngobrol soal pernikahan dengan seorang teman. Saat menikah dulu, dia harus mengundang ribuan tamu atas permintaan keluarga. Tabungannya ludes, tapi tekadnya membahagiakan orang tua tercapai. Katanya, uang bisa dicari, tapi membahagiakan orang tua tidak mudah diwujudkan.

Beberapa tahun yang lalu, seorang teman lain bercerita bahwa keluarga ingin merayakan pernikahan di gedung yang terbilang cukup mewah. Saya ingat, karangan bunga dari berbagai perusahaan terkemuka terpampang di depan gedung. “Aku akhirnya ya ngutang ke bank, Rik.”

Saya juga dengar ada yang kemudian terbelit masalah keuangan lantaran pernikahan yang besar-besaran.

Saya tidak percaya bahwa kebahagiaan Ibu hanya terletak pada seremoni pernikahan. Keinginan mengadakan perayaan pernikahan adalah sekadar keruwetan manusia dalam berhubungan sosial. Saat menelepon Ibu pekan lalu, saya katakan pada Ibu, kalau Ibu ingin saya melakukan seremoni pernikahan, saya ingin permintaan tersebut datang dari kesadaran (consciousness) Ibu, bukan lantaran tradisi masyarakat, bukan karena: “apa kata masyarakat dan keluarga, masak anak mama kawin, mama nggak ngundang siapa-siapa.”

Sampai akhirnya sampailah kami pada pembicaraan: paling tidak mengundang orang terdekat.

Ini adalah posisi di mana saya tidak akan pernah bisa menang. Mengundang sebatas keluarga saja, akan menimbulkan bisik-bisik tetangga. Mengundang keluarga dan tetangga dekat, akan menimbulkan gossip: ih ngundang kok pilih-pilih. Sementara, undangan terbatas untuk keluarga, tetangga, dan teman dekat, akan menimbulkan: ih sombong yang diundang orang tertentu doang. Begitu saja seterusnya sampai akhirnya kedua teman saya tadi harus menguras kocek demi acara pernikahan.

Sekarang saja saya sempat diprotes seorang teman baik, katanya mengapa saya tidak mengundang atau minimal memberi tahu dia bahwa kami akan menikah. Tapi, kami memang hanya ke Balai Kota lalu menandatangani surat, tidak ada hal istimewa yang harus diumumkan.

Saya percaya, pernikahan tak lebih dari sekadar dua orang yang berkomitmen untuk ada bagi satu-sama lain. Komitmen ini, tak wajib lah dipamerkan ke ribuan orang. Toh bukan jaminan kalau berkomitmen dihadapan ribuan orang lantas pernikahan akan lebih bahagia, lebih langgeng, dan lebih penuh cinta. Namun, kalau memang ingin melakukannya di depan ribuan orang, ya boleh juga. Setiap orang berhak melakukan dengan cara-cara yang dipercaya masing-masing. Bagi saya, tidak ada yang berhak menuding cara satu lebih baik dari cara lain. Mau dirayakan kecil-kecilan, dirayakan besar-besaran, pilihan masing-masing.

Kembali lagi ke soal utang. Pernikahan adalah industri besar yang membuat anak-anak muda bangkrut, atau bahkan tidak jadi menikah, karena alasan: tidak punya cukup uang. Di desa, pernikahan bisa sama dengan mengundang orkes dangdut hingga tujuh hari tujuh malam, di kota, pernikahan bisa jadi menyewa ruangan di hotel paling mahal.

Saya masih ingat bagaimana nenek dan orang-orang di kampung pada awal 90an saling membantu dan bergotong royong untuk upacara pernikahan. Bagi saya ini adalah satu-satunya alasan mengapa pernikahan membutuhkan banyak orang, atas dasar gotong royong, bekerja sama, saling membantu, dan dapat meningkatkan hubungan baik sebagai tetangga dan saudara. Seperti bikin acara bersama, dan menikmati bersama.

Namun, selain itu, pernikahan sering kali cuma display kekayaan. Seberapa banyak makanan disajikan, seberapa banyak menu daging, seberapa bagus pakaian pengantin (atau mungkin berapa kali pengantin berganti pakaian), seberapa banyak tamu yang datang, seberapa penting jabatan para tetamu, seberapa besar dan bagus gedung yang digunakan… Seberapa besar utang yang harus kamu bayar usai pernikahan.

Mengapa pernikahan tidak jadi ruang untuk lebih banyak mengenal kedua keluarga, atau teman-teman terdekat dengan lebih baik?

Sekali lagi, saya tidak mengatakan seremoni pernikahan yang satu lebih baik dari lainnya, saya cuma mau bilang setiap orang memiliki pilihannya masing-masing, dan setiap keputusan pasti melalui proses berpikir. Siapalah kita menuding-nuding dan menilai-nilai pernikahan orang lan. Setiap orang harus menghargai keputusan orang lain terkait pernikahan mereka sendiri.

Namun, lebih penting lagi, menikah atau tidak menikah adalah pilihan personal. Jangan sampai tidak menikah karena urusan finansial, juga jangan sampai harus menikah cuma karena hubungan sosial dan tekanan masyarakat.


Baca juga:
Menikah
Karena menikah bukan merger
Pernikahan saya dalam masalah

Comments

  1. Banyak orang yg rela ngutang buat resepsi mewah megah. Habis nikah banyak hutang, malah ada yang sampai bangkrut. Ngeri aja dengernya. Gpp sih klo mw resepsi megah tp ya jgn ngutang jg, kasihan pengantin baru udh puyeng dgn utang, hehe.

    ReplyDelete
  2. Memang banyak yang seperti ini di masyarakat kita. Setelah nikah malah terlilit hutang. Tetangga saya sampai pada jadi TKI untuk menebus hutang nikahnya.

    ReplyDelete
  3. Begitu giliran adek mulai lebih 'tega' dan gak dengerin omongan orang, alias hanya ngundang keluarga dan teman dekat aja. Bahkan, ngundang 40 org aja hrsnya gak masalah asal sah. (Bahkan, dlm Islam nikah yg sesuai sunnah justru yg sederhana. Malah disarankan ngundang anak yatim daripada tamu kenalan.)

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular posts from this blog

orang tua Indonesia lebih suka liat anaknya kawin dari pada bahagia

Aku tumbuh sembari membenci payudara

keterbiasaan pada pelecehan seksual