Jihad

Aku kelahi dengan kenangan.
Kenangan datang seperti hujan,
tak henti-henti dan tak habis-habis.
Hujan saja masih bisa diprediksi oleh ramalan cuaca,
tapi kenangan tidak.
Kenangan datang meninju ulu hati tanpa aba-aba.
 Lalu berdiam saja di sudut ruangan.

Kelahi juga aku dengan kekasihku.
Dia tak suka-kalau aku terus saja mengenang-ngenang kenang.
Ku bilang: kau goblok sekali jika kau kira aku senang mengenang-ngenang.
Kau bahkan goblok dua kali jika kau kira aku tidak lelah.
Lalu kekasihku marah-marah.
(padahal aku bilangnya juga dalam hati saja)

Aku abaikan saja sisa kenangan dan amarah di pojokan.
Lalu ku telepon ibu.
Kelahi juga aku dengan ibu.
Susah betul jadi anak perempuan di tahun 2000-an,
kawin salah, tidak kawin salah juga.
Tidak sekolah salah, sekolah salah juga.
Bodoh salah, jadi pintar salah juga.

Lalu hujan datang lagi.
Tapi kenangan bukan salju, yang hilang saat hujan datang.
Biar sajalah.
Anggap saja sedang berjihad
melawan kenangan.


Comments

Popular posts from this blog

Aku tumbuh sembari membenci payudara

keterbiasaan pada pelecehan seksual

First Travel dan betapa seksisnya media kita