mempersiapkan aplikasi sekolah

Mendaftar sekolah di Amerika sedikit lebih rumit dari pada mendaftar di negara lain. Saya mendaftar sekolah di kampus bergengsi di London, Inggris, selain gratis, prosesnya juga mudah (cuma kirim satu essay, dan IELTS 7). Dua minggu kemudian, langsung mendapat LoA.

Namun, mendaftar di kampus Amerika lebih panjang prosesnya, selain bisa juga mahal. Ada banyak tes, dan administrasi yang harus dilalui. Tiap-tiap tes punya biaya sendiri, belum lagi konversi nilai dan mendaftarkan aplikasi juga ada biayanya.

Lalu, apa saja yang harus kamu pahami saat ingin mendaftar sekolah?


1.     TOEFL
Amannya punya TOEFL IBT di atas 100. Selain aman untuk mendaftar, juga aman buat kehidupan. Kemampuan berbahasa Inggris yang pas-pasan bisa menyusahkan ketika harus mengikuti perkuliahan. Selain karena banyak mata pelajaran yang kejar tayang, alias banyak materi tapi waktu terbatas, sehingga professor akan berbicara sangat cepat, juga banyak mata kuliah yang mengharuskan berdiskusi.

Seorang teman mahasiswa dari China pernah menghampir saya, dan bertanya: bagaimana caranya biar bisa aktif berdiksui dan lancar bicara bahasa Inggris. Jawaban saya saat itu: pede aja sih. It's ok to make mistakes, dan pasti make mistakes, namanya juga bukan native, pasti nggak sebagus mas dan mbak native. Tapi kita harus sudah berada di level nyaman menggunakan bahasa Inggris.

Les TOEFL bisa banget meningkatkan bahasa Inggris. Namun, jangan sampai les TOEFL cuma untuk ningkatin nilai lalu cuma belajar tips dan trik biar skornya bagus. Bagi saya, yang lebih penting dari cerminan nilai TOEFL adalah bisa berkomunikasi dengan lancar dalam kehidupan sehari-hari, dan mengikuti persekolahan tanpa hambatan bahasa yang berarti.

2.     GRE/ GMAT
GRE (saya tidak mengambil GMAT) adalah 3 jam 35 menit yang paling menantang sepanjang pengalaman saya mengikuti berbagai macam tes. Seumur hidup, cuma sekali mengikuti tes sampe setengah mati rasanya.

Ada tiga komponen dalam GRE, quantitative, verbal, dan analytical writing. Awalnya saya khawatir betul mengahadapi tes quantitative, karena kemampuan matematika yang sebatas perkalian dan pembagian. Quantitative ini semacam matematika dasar (tapi susah banget). Namun, untungnya tes quantitative masih bisa menggunakan logika, mungkin sebab itu tes di bagian ini skor saya lebih tinggi dibanding dua tes lain.

Tes lainnya adalah verbal, yang uda deh, ga bisa diapa-apain selain menghapal ribuan kata. Tes verbal biasanya akan menghadirkan kata-kata yang jarang betul digunakan. Sementara bagian terakhir adalah analytical writing. Mirip writing di TOEFL, tapi lebih detil.

Rerata kampus menerima GRE, kecuali sekolah bisnis dan ekonomi yang menggunakan skor GMAT. Namun, GRE/GMAT tidak melulu vital. Dengar-dengar, kedua tes ini cuma penting kalau seseorang baru lulus S1/ undergrad. Sementara, bagi mereka yang sudah punya pengalaman bekerja lebih dari lima tahun, apalagi mahasiswa internasional, komponen ini tidak terlalu penting. Well, saya bukan tim admisi, jadi tidak paham betul kebenarannya. Saya cuma tahu seorang teman yang baru lulus S1 dan langsung sekolah master, mempetisi agar tidak perlu menyetor hasil skor GRE, dan dikabulkan oleh kampus.

3.     Essay (personal statement & study objective)
Bagaimana caranya membuat essay bagus? Banyak membaca, dan banyak menulis. Essay kamu belum bagus kalau belum direview 10 kali dan ditulis ulang 10 kali. Serius.

Banyak yang menulis essay cuma mengopi saja dari essay temannya yang lulus di kampus bergengsi, padahal essay harus personal dan mencerminkan diri dan pandangan kita. Misalnya, kenapa mau sekolah di sana, apa yang bisa kita tawarkan dan ambil dari sekolah, dan apa rencana ke depan. Harus betul-betul paham apa yang diinginkan, apa kekuatan dan kelemana, juga apa yang ingin diperbaiki, sebelum bisa menulis essay yang kuat.

Lebih dari itu, essay harus personal juga bukan cuma personal tentang diri kita, tapi juga personal tentang sekolahnya. Jangan kirim essay yang menunjukan pemikiran yang anti kapitalis ke kampus dengan tag-line mencetak ribuan pebisnis handal, misalnya. Harus dipikir betul kecocokan bidang studi, pandangan, dan visi-misi kampus.

4.     Konversi nilai IPK
Saya tidak melakukan konversi nilai sendiri karena dibantu oleh penyelenggara beasiswa. Dari pengalaman beberapa teman, konversi nilai juga agak mahal dan tidak selalu mudah.

5.     Wawancara
Tidak semua kampus meminta wawancara. Wawancara bisa jadi dilakukan untuk meyakinkan tentang apa-apa yang ada di essay, dan apakah kamu sungguh-sungguh ingin masuk sekolah tersebut. Selain itu wawancara juga bisa digunakan agar professor mengetahui minat kamu sehingga mereka tahu harus menempatkanmu di bawah bimbingan siapa. Namun, saat saya bertanya ke bagian admisi kampus di sela orientasi kemarin dulu, Direktur Admisi cuma bilang: oh, iya, kalo mahasiswa internasional biasanya wawancara ngobrol-ngobrol doang biar tahu beneran bisa ngomong bahasa Inggris apa nggak. Haha.


Selain lima point di atas, satu hal lagi yang kadang terlupa: namanya juga manusia, kadang menonjol di satu sisi, dan memble di sisi lain. Cari tahu kamu paling menonjol di mana, lalu eksplorasi bagian tersebut di aplikasi. Misalnya, skor GRE saya ala-ala banget. Saat pengurus beasiswa terus menerus menyuruh kami untuk mengambil ulang GRE, saya sudah bertekad tidak akan melakukan hal tersebut. Selain karena mahal, juga karena saya paham batas kemampuan, belum lagi ditambah waktu yang terbatas, tidak banyak yang bisa dilakukan.

Namun, saya niat betul saat menulis essay. Essay yang saya tulis hanya dua kali di-edit oleh tim beasiswa, dan langsung disetujui. Namun, sebelum dua kali tersebut, saya sepuluh kali menulis essay, dan tanpa punya malu meminta siapapun untuk memeriksa. Mulai dari rekan kerja, teman yang pernah sekolah di Amerika, advisor di Atamerica, sampai Ibu Sofia, istri Dubes Amerika saat itu, juga saya minta untuk membaca dan mengomentari essay tersebut.

Namanya juga manusia, kecuali jenius banget sih, pasti ada bagus dan jeleknya. Ketahui kamu bagusnya di mana, jangan iya-iya saja saat disuruh begini-begitu, tetapi juga harus lakukan yang terbaik yang kamu bisa.


Selamat mendaftar, sampai berjumpa di Amerika!


Baca juga:

Comments

  1. Rika..kau di Ameriki yo sekarang? Keren oi. Nyusul Agnes Mo go internasyenel ye..sukses terus Rika..

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular posts from this blog

Karena usia cuma deretan angka-angka!

Aku tumbuh sembari membenci payudara

keterbiasaan pada pelecehan seksual