Kemenangan Trump adalah kekalahan Kemanusiaan

Hari Selasa lalu kami menyaksikan sejarah baru di Amerika Serikat, seorang pemerkosa, patriarkis, rasis, misoginis terpilih oleh sistem electoral college untuk menjadi presiden mulai Januari nanti, hingga empat tahun ke depan. Bukan sejarah yang menyenangkan bagi mayoritas masyarakat Amerika. Ya, mayoritas.

Amerika tidak memilih Presidennya langsung seperti di Indonesia, Electoral College lah yang memilih presiden. Kalau mereka memilih langsung, Hillary Clinton yang akan keluar sebagai pemenangnya karena menang suara meski tipis. Sebab itu saya katakan mayoritas. Donald Trump menang karena hitungan algoritma tertentu memilih electoral college yang pada akhirnya memilih Trump. Sudah tiga kali electoral college menggagalkan calon dari Partai Demokrat, termasuk pada tahun 2000, saat Al Gore urung menjadi presiden.

Satu hal yang agak mengganggu bagi saya adalah bahwa pemerintah tidak mengakomodasi warga negara untuk menggunakan hak suara. Bahkan angka Golput di Amerika mencapai 46%. Hal ini bisa jadi karena mereka memang tidak peduli, atau juga karena tidak memiliki akses lantaran hari Pemili bukanlah hari libur, sehingga banyak pekerja dengan jam kerja intensif tidak dapat memilih.

Saya tak pernah melihat hal begini seumur hidup, begitu juga menurut teman-teman yang berasal dari Amerika. Rabu pagi, semua orang terlihat begitu khawatir, sedih, frustrasi, kecewa, marah. Namun juga berusaha untuk saling memberi semangat dan energi positif kepada satu-sama lain. Saya tak pernah melihat solidaritas sebesar ini, saat semua orang berusaha saling menguatkan, dan memberi ruang untuk harapan. Sangat menarik berada di Ann Arbor dan menyaksikan semua emosi di sekitar saya sejak Selasa malam, saat beberapa teman mulai menangis menyadari perubahan besar yang akan terjadi.

Ann Arbor adalah semacam kantung kecil masyarakat teredukasi, liberal, dan cenderung lebih progresif dari kota-kota di sekitarnya. Ann Arbor berada di Michigan, yang merupakan swing state, alias tidak teguh haluan politiknya. Pada Pemilu lalu Michigan menjadi basis Republikan, namun 90% penduduk Ann Arbor memilih Demokrat. Saking berbedanya dengan kota sekitar, seorang herbalis yang saya wawancara sepekan sebelum hari Pemilu bercanda bahwa Ann Arbor ini kota iluminati, dan sering dianggap tidak ada dalam keputusan pemerintahan.

Di kantung liberal ini, pekan lalu bisa jadi pekan terburuk bagi penduduknya. Saya dikelilingi oleh wajah kuyu dan pucat pasi. Mungkin wajah saya juga begitu. Kemenangan Trump adalah kekalahan bagi kemanusiaan. Kekalahan bagi para pembela iklim, penjaga lingkungan, dan ilmuwan. Beberapa hari lalu saja dia sudah mulai menunjuk Myron Ebell, seorang yang sangat skeptis soal perubahan iklim, untuk memimpin EPA, badan lingkungan Amerika.

Kemenangan Trump adalah kekalahan bagi perempuan di seluruh dunia. Sebagai pemimpin negara besar, Trump akan menjadi panutan jutaan orang, padahal mulutnya Trump comberan banget kalau sudah bicara soal perempuan. Santai saja dia merendahkan perempuan dan mengomentari tubuh perempuan, sambil melegitimasi bahwa perempuan harus memuaskan tatapan laki-laki (male gazing). Belum lagi komentar penuh kebencian terkait ras dan agama lain yang terus menerus dilancarkan selama masa kampanye. Saya nggak ngerti lagi sih Fadli Zon seakrab apa sama Trump sampe bisa bilang Trump baik-baik saja sama Islam.

Sehari sejak kemenangan Trump, teman yang tinggal di negara bagian lain mendapat surat edaran dari asosiasi mahasiswa muslim. Menurut surat tersebut serangan terhadap muslim di Amerika adalah yang tertinggi sejak kejadian 9/11. Mereka menyarankan perempuan sebaiknya ditemani laki-laki jika ingin beraktivitas di luar rumah. Lalu, baru saja lima menit yang lalu saya mendapatkan surel peringatan kejahatan yang mengatakan bahwa ada laporan tentang seorang pria kulit putih yang memaksa perempuan berjilbab untuk membuka jilbabnya. Pria itu mengeluarkan korek api dan mengancam akan membakar perempuan tersebut apabila dia enggan membuka jilbabnya*. Dikatakan bahwa polisi sedang menyelidiki kasus ini. Sangat mengerikan bahwa minoritas pendukung Trump di Ann Arbor bisa sebegitu vokalnya di ruang publik, di kota yang begitu liberal. Halo Fadli Zon?

Trump dengan kampanyenya yang terus menerus merendahkan manusia lain menjadi semacam melegitimasi bagi banyak perbuatan dan perkataan tercela. Tak lagi ada suci sejak dalam pikiran, perkataan, dan perbuatan. Adanya kebencian dalam pikiran, perkataan, dan perbuatan. Cuma butuh sehari saja hingga teman saya yang berkewarganegaraan ganda Puerto Rico dan Amerika Serikat didatangi pria kulit putih di tempat umum sembari berkata “You go home to your country, Trump doesn’t want you to be here, this is for white only,” begitu kalau tidak salah ucapan mereka kepada teman yang jelas-jelas lahir di Amerika. Hal yang sama juga terjadi pada pacarnya teman yang keturunan Asia-Amerika. Bukan berarti kamu boleh berkata demikian kepada mereka yang tidak lahir di Amerika, hanya saja, yang lahir di Amerika saja dibegitukan, apalagi saya yang cuma numpang sekolah dan dibayari pula sama pemerintahnya. Bisa muntab mereka.

Hari berkabung

Rabu lalu, adalah hari berkabung. Sebelum berangkat kuliah, saya hanya bisa memeluk teman serumah yang terisak. Dia terus-terusan berkata: I can’t believe this; many people are going to suffer from this result, the poor are going to be even more vulnerable.

Setiap professor mengambil waktu untuk membicarakan dan memahami apa yang baru saja terjadi. Beberapa orang mulai terisak, bahkan ada yang menangis tak henti. Salah satu professor memainkan “We shall overcome” (anthem dari gerakan masyarakat sipil di Amerika, mungkin setara dengan Darah Juang kalau di Indonesia) saat kelas dimulai, dan meminta maaf kepada mahasiswa non-Amerika, memastikan bahwa hasil pemilu tidak merepresentasikan masyarakat Amerika pada umumnya. Profesor lain menyarankan mahasiswa untuk meninggalkan kelas apabila butuh kontemplasi untuk memahami apa yang sedang terjadi. Sementara bagi mereka yang membutuhkan teman bicara, kampus menyediakan ruangan khusus. Rektor dan Dekan bahkan mengirimkan surat edaran kepada seluruh mahasiwa agar tetap bersemangat dan tidak patah arang, persoalan lingkungan tak bisa menunggu empat tahun lagi, kita pasti bisa berbuat sesuatu. Juga memberi daftar 10 acara terkait hasil pemilu ini bagi mereka yang membutuhkan dukungan dari rekan-rekan sekitar.

Salah satu professor menyarankan untuk tidak mengecek media sosial hingga akhir pekan guna menenangkan hati. Pada kuliah terakhir mengenai transisi, kami mengganti percakapan menjadi: bagaimana premis dan prinsip dalam mata kuliah tersebut dapat diaplikasikan untuk Amerika saat ini, bagaimana kita bertransisi ke pemerintahan baru tanpa kehilangan resiliensi. Sementara dari kejauhan, yel-yel dan orasi dari teman-teman yang sedang protes di ruang terbuka kampus masuk ke ruang-ruang kuliah.  Lalu saat kuliah berakhir, dia cuma berkata: “be kind to each other, even when that person has a different opinion than you. Be kind to that person in order to be kind to yourselves, don’t projecting your anger to him. We’re all hurts, hurting each other won’t help. Show your empathy, that is the best way to heal,”

Pada hari rabu semua orang berusaha untuk saling simpati dan berempati. Namun, jelas terlihat wajah-wajah kuyu yang berusaha menenangkan temannya itu juga butuh ditenangkan, perlu diberi kepastian bahwa negaranya tidak akan berbuat gila seperti mengahalau muslim untuk memasuki Amerika, atau menghentikan progress terkait hak azazi manusia dan perubahan iklim. Meski demikian, tak sekalipun nama Trump disebut, tak sekalipun. Semua orang seperti memahami rasisme sudah ada jauh sebelum Trump, hanya saja Trump membuat rasisme seolah-olah wajar dan dapat diterima. Semua orang berusaha berbesar hati, sekesal apapun mereka terhadap bakal presiden terpilih, yang lebih penting dari pada mencela dan berkeluh kesah adalah mencari cara agar bisa berkontribusi positif dalam keadaan yang setidak enak apapun.

Kemenangan Trump adalah dukungan bagi rasisme, islamophobic, dan sikap misoginis. Kemanangan Trump adalah kekalahan bagi kemanusiaan, sebab itu kita tetap harus bersikap manusiawi agar bisa menunjukan bagaimana kemanusiaan sebenarnya.























*PS. Teman-teman University of Michigan langsung bereaksi soal insiden jilbab tersebut, malam nanti mahasiswa akan melakukan aksi anti diskriminasi di Diag.









Comments

Popular posts from this blog

Karena usia cuma deretan angka-angka!

Aku tumbuh sembari membenci payudara

keterbiasaan pada pelecehan seksual