Menikah

Semalam saya dan Giles ngobrol-ngobrol soal pernikahan. Giles memang tipe orang yang sudah yakin bahwa menikah adalah salah satu hal yang akan dia lalui, seperti halnya sekolah, lulus, kerja, lalu menikah. Sementara saya adalah tipikal anak perempuan yang melihat pernikahan sebagai pilihan mana suka, artinya menikah bagus tidak menikah juga sama baiknya.

Sejak awal hubungan, dia selalu mengangkat topik soal menikah dan punya anak. Saya sih iya-iya saja sambil mendengarkan, namun tak juga memutuskan apakah suatu saat mau menikah atau tidak. Semacam: duh masih banyak hal penting yang harus dipikirin, yang kayak gitu nanti ajalah mikirnya.

Sampai akhirnya, saya betul-betul diajak menikah beberapa bulan yang lalu. Ternyata dia merencanakan untuk melamar di Bandara Phnom Penh, tepat ketika saya baru keluar, dengan menggunakan kartu penjemput bertuliskan: Will you make me the happiest man on the planet? Please marry me.

Namun dia urungkan niat itu, katanya: I don't want to give you a public pressure.

---

Tak sampai seminggu sejak niat yang tertunda, akhirnya Giles berlutut dan meminta saya menikahinya, saya tidak langsung menjawab, saya berpikir: apakah dia melakukan ini karena tekanan sosial (social pressure)? Apakah dia merasa ada tekanan untuk memiliki pasangan, menikah, dan hidup mapan seperti kebanyakan orang, sebagaimana norma di masyarakat? Apakah profesinya sebagai guru membuat tekanan semacam itu menjadi lebih besar? Karena buat saya yang bekerja di NGO dan main dengan teman NGO atau wartawan, sama sekali tidak merasa ada tekanan seperti itu. Bahkan, belum sampai lima orang dari teman main saya yang sudah menikah. Jadi, kalaupun ada yang bertanya, saya tak juga ambil pusing, paling besok juga uda lupa.

Sampai akhirnya saya yakin keinginannya bukan sekadar upaya konformitas terhadap nilai-nilai masyarakat. Lalu, saatnya untuk bertanya pada diri sendiri, apakah saya mau berkomitmen sebesar itu dengan orang lain? Berkomitmen pada diri sendiri untuk baca 20 buku dalam setahun aja gagal melulu, apalagi komitmen untuk hidup bersama paling tidak 50 tahun ke depan.

Lagi pula, apa iya manusia dirancang untuk hidup dengan satu pasangan saja seumur hidupnya? Mungkin iya, mungkin tidak. Sebab itu ini bukan cuma soal bagaimana evolusi merancang manusia dalam soal reproduksi, tetapi soal mau atau tidak berkomitmen, dan berpegang teguh pada komitmen tersebut.

---

Kembali ke obrolan kami soal pernikahan, saya bilang ke Giles, sebelum menentukan tanggal pernikahan dan lain-lain, saya ingin kami melakukan konseling dan perjanjian pranikah. Awalnya dia tak terlalu menyukai rencana ini, Menurutnya, menikah sekali saja seumur hidup, tidak ada exit plan, jadi seharusnya kami tidak membutuhkan hal tersebut.

Bagi saya, pernikahan adalah lembaga terkecil dalam masyarakat. Saya percaya, pernikahan sukses bukan sekadar soal cinta, malah sebaliknya, pernikahan bisa saja merusak hubungan romantis percintaan menjadi pragmatis. Sebab itu saya percaya, sebagaimana organisasi, pernikahan butuh manajemen yang baik, tidak cukup dengan cinta saja.

Maka, setidaknya bagi saya, konseling pranikah menjadi penting (walaupun mungkin bisa saja hal ini dilakukan dalam bentuk negosiasi berdua dengan pasangan, tanpa orang ketiga--konselor). Sebagaimana organisasi yang memiliki asas dan tujuan, pernikahan juga. Kalau keduanya memiliki tujuan berbeda, visi-misi yang tak sama, bagaimana bisa organisasi baik-baik saja. Meski, sekali lagi, mencari tujuan dan visi-misi yang sama tak melulu harus lewat konselor, dilakukan berdua saja mungkin bisa.

Kalau sudah ngobrol dan bernegosiasi, lalu apa? Lalu lupa sudah pernah ngobrol dan bernegosiasi. Seperti halnya pesawat yang tidak memiliki buku panduan keselamatan, ketika ada turbulence besar, tak ada panduan langkah-langkah apa yang harus dilakukan dalam keadaan gawat darurat guna menghindari korban. 

Sebab itu, bagus juga kalau hasil ngobrol dan negosiasi ini lalu dijadikan premarital agreement. Saya pikir hal ini baik bagi kami, demi menghindari things to turn ugly.  Walaupun tidak ada satu pun pasangan yang ingin hubungannya berakhir, namun perjanjian pranikah dapan membantu proses supaya lebih efektif dan efisien saat harus bertemu dengan hal buruk. Lagi pula, bukan cuma soal urusan mengakhiri pernikahan, perjanjian pranikah juga bagus diterapkan kalau ada hal-hal detil yang ingin dimasukan dalam pernikahan, misalnya bagaimana manajemen penerapan manajemen keuangan, pola pengasuhan anak (atau mau atau tidak memiliki anak), pola pembagian tugas domestik, atau juga open-relations marriage bisa jadi opsi untuk dibicarakan dalam perjanjian pranikah kalau ingin menikah dan hidup bersama tetapi menyadari bahwa keduanya tidak bisa setia.

Meski demikian, perjanjian pra nikah dan konseling bukanlah hal sakral yang tak boleh diubah, keduanya cuma berfungsi sebagai panduan, dan kita sebagai pembuat panduan, berhak mengubah, menambah, dan mengurangi panduan tersebut apabila sudah ketinggalan zaman, atau terjadi perubahan. Bahkan, bisa juga pernikahan malah tidak jadi dilakukan kalau sesudah sesi konseling kemudian keduanya menyadari menikah bukanlah pilihan yang tepat.

---

Sekali lagi, pernikahan bukan cuma soal cinta, tetapi komitmen. Dan komitmen bisa berbagai macam bentuknya, sesuai kesepakatan kedua belah pihak. Perjanjian pranikah cuma cara untuk meneguhkan komitmen, tidak semua orang punya cara yang sama. Yang penting, seperti kata Giles saat mengurungkan niatnya melamar di ruang publik, jangan sampai komitmen diucapkan sekadar karena tekanan publik.

Bagi saya, konseling dan perjanjian pranikah adalah upaya untuk menjaga lembaga pernikahan agar tetap berjalan pada koridor yang diinginkan. Upaya menjaga komitmen, agar apabila ada hal-hal yang membuat pernikahan kehilangan arah, kami punya rujukan mau ke mana, atau minimal menghindari korban. Atau mengutip kata Giles: it's not rash or expecting failure, but is putting in place a safety net should circumstances change, and we agree on the net before things get rocky.

Saya percaya setiap orang berbeda, dan punya cara sendiri-sendiri dalam melihat dan menghadapi pernikahan, tidak ada cara yang lebih baik atau lebih buruk, karena  setiap pernikahan pun berbeda. Dengan atau tanpa konseling dan perjanjian pranikah, sama baiknya. Meski demikian, saya percaya, keputusan untuk menikah dan menjalani pernikahan, harus benar-benar dipilih dengan sadar (conscious), jangan sampai menikah cuma karena masyarakat berpikir nilai yang paling baik adalah untuk menikah. Juga jangan sampai tidak menikah, cuma karena orang-orang di sekitar tidak menikah.

Mungkin terkesan terlalu melogiskan pernikahan, tetapi, menikah memang harus berdasar pada keputusan yang logis. Jatuh cinta memang urusan emosional, tetapi menikah adalah keputusan serius yang harus dilakukan dengan kesadaran penuh, logika, dan keputusan matang.

Comments

Popular posts from this blog

Aku tumbuh sembari membenci payudara

keterbiasaan pada pelecehan seksual