Posts

Showing posts from October, 2016

Perempuan Sukabumi dan laki-laki Arab

Taksi terakhir yang saya tumpangi di Jakarta adalah taksi hijau yang biasa mangkal di apartemen di bilangan Benhil. Hal pertama yang ditanya pengemudi taksi saat itu adalah sudah berapa lama saya tinggal di apartemen tersebut, dan apakah saya berasal dari Sukabumi. 

Rupanya apartemen tersebut tipikal sebagai tempat tinggal pria Arab dan perempuan asal Sukabumi. Saya tak mengerti mengapa si pengemudi berbicara dengan nada merendahkan perempuan Sukabumi, tapi saya mendapat kesan bahwa nilai-nilai yang dia anut menganggap perempuan Indonesia yang tinggal di apartemen tersebut adalah bukan perempuan baik, sekali lagi, menurut nilai yang dia percaya.
Saya jelaskan kepada pengemudi bahwa saya tak lagi tinggal di Jakarta dan baru tiba dari Kamboja malam sebelumnya. Saya hanya akan menumpang selama dua hari di apartemen tersebut. Anehnya, dia terus mendesak bahwa saya pasti berasal dari Sukabumi karena fisik saya adalah tipikal kesukaan pria Arab, entah bagaimana maksudnya.

Terlepas dari pand…

jadi vegetarian nggak sehat, lemes dan kurang protein!

Image
Teman rumah sudah tiga tahun belakangan menjadi vegetarian, dan saya sudah delapan tahun, dengan periode cabutan pada dua-tiga tahun pertama. Selama tiga dan delapan tahun itu pula kami sering mendapat komentar nyinyir soal menjadi vegetarian. Inti dari obrolan itu saya tuliskan di sini sebagai sembilan hal yang paling sering kami dengar selama menjadi vegetarian:

1.Terus kamu makan apa dong? Well, FYI, makanan Indonesia itu banyak banget yang vegetarian, tempe tahu di pecel lele juga vegetarian, makan gudeg pake tempe-tahu bacem juga vegetarian, terong balado pake sayur daun ubi di rumah makan padang juga vegetarian.
2.Kalo makan sayur doang, dapat protein dari mana? Duh… sejak kapan protein nggak ada di tumbuh tumbuhan? Tahu, tempe, chickpea, bayam, semuanya mengandung protein. Bahkan brokoli mengandung protein lebih banyak dari pada daging merah.  Kalau instruktur gym kamu bilang protein nabati nggak sebanyak protein hewani, suruh desye belajar lagi, chyyynt.
3.Emangnya nggak lemes yah? …

Duh, majalah perempuan!

Sebulan belakangan ini saya dan teman serumah memutuskan untuk berbelanja pekanan di sebuah supermarket tak jauh dari tempat tinggal. Setiap kali berbelanja, mata saya tertegun pada lembar-lembar mengilap majalah perempuan yang tertata rapi di sebelah meja kasir.
Pekan lalu, karena penasaran, akhirnya saya ambil salah duanya, dan melihat-lihat isinya. Isinya mungkin 80% iklan, sisanya adalah sugesti bahwa kamu kurang cantik, terlalu gendut, terlalu kurus, terlalu hitam, terlalu putih, terlalu banyak kerutan, terlalu kekanakan, terlalu ini, terlalu itu.

Sulit betul jadi perempuan.
Tipikal majalah lain adalah majalah gosip, yang isinya juga lebih banyak iklan, lalu soal perceraian, pertengkaran, seleb perempuan mana yang operasi plastik, seleb perempuan mana yang penampilannya kurang oke, seleb perempuan mana yang begini begitu.
Terakhir kali saya membeli majalah adalah saat masih bersekolah, mungkin SMP atau SMA. Masih ingat betul bagaimana majalah remaja mempengaruhi cara pandang soa…