pilih-pilih teman

Album anak-anak jaman tahun 1990an, biasanya diselipi percakapan-percakapan penuh petuah di antara satu lagu dan lainnya. Salah satunya adalah percakapan antara Susan dan Kak Ria Enes. Kak Ria pada saat itu meminta Susan untuk memilih-milih dalam bergaul.

“Jadi kalau aku berteman sama petinju, aku akan jadi petinju, gitu?” ujar Susan setengah kesal.

Menurut Susan, kita harus berteman dengan siapa saja, tidak boleh pilih-pilih. Kita harus ambil sisi positif dari setiap teman, dan buang sisi negatifnya. Betul juga!

Namun, on the second thought, saya kira Kak Ria ada benarnya. Mengelilingi diri dengan orang-orang yang termotivasi, memiliki tujuan yang sama, dan memiliki aura positif, sangatlah penting. Kalau tidak, saya pasti sudah berhenti melanjutkan beasiswa sejak November tahun lalu.

Mendaftar sekolah sambil bekerja, tidak hanya melelahkan secara fisik, tetapi juga mental, dan finansial. Saking melelahkannya, saya sempat curhat ke Ibu Sofia, inisiator program mentorship yang juga istri Duta Besar Amerika. Saat itu saya bilang:

The Pre Academic Training (PAT) has been consuming more time than I thought it will be, it's 6 days a week, 4 hours on every meeting. Started on July last year, PAT will be continued from the second week of February until the first week of May 2016. With my position as a full time worker, I was not only physically drained, but also mentally exhausted as the scholarship committee keeps changing rule, regulation, and schedule during PAT. 
This is what I did not anticipate earlier, to keep strong and motivated during hard circumstances. I realised now, one of the hardest part of getting school in the US is not only GRE or essay (as I said in the previous email), but also to stay positive and motivated to reach the goal. I learned it the hard way.

Lalu pada email selanjutnya saya lagi-lagi curhat:

Aside of the technical assistance from choosing school to applying school, one of the most important point to be in the program* is the community. I find it’s really important to be in the right community, which share the same spirit to keep on motivated and persistent in pursuing the objective to get into higher degree in the US. 
I faced so many ups and downs (and should be careful for more to come), and almost quit the scholarship twice, but I was lucky that the community never lose hope to keep my spirit up and motivate me to tackle the problems. At the end, I'm not only getting school and scholarship, but a family!

Saya selalu percaya, keberhasilan mendapatkan sesuatu (pekerjaan impian, kenaikan jabatan, sekolah, jalan-jalan, apapun itu) bukan sekadar perjuangan individu, tetapi juga doa ibu, dan bantuan orang-orang di sekitar kita. Sekecil apapun kelihatannya.

Misalnya saja, saya tidak akan pernah niat mencari beasiswa kalau Mbak Retno ndak mengejar-ngejar untuk sekolah lagi. Ndak akan terpikir soal pendidikan di Amerika kalau tak pernah mengiyakan ajakan Cici, teman kantor, untuk menemani melihat pameran beasiswa. Saya juga tidak akan pernah mendaftar beasiswa kalau tidak sengaja bertemu Sari, teman satu kampus, di sebuah kedai kopi. Meski kami tak akrab sebelumnya, Sari lah yang menyuruh dan menunggui saya mengisi aplikasi. Namun demikian, saya juga tak akan pernah mengisi aplikasi beasiswa tersebut kalau dua minggu sebelumnya Ifa tak mengirimkan link beasiswa yang sama melalui Facebook.

Ketika akhirnya pun sudah mengirimkan aplikasi, saya tidak pernah mendapat beasiswa kalau Deby dari tim beasiswa tidak menghubungi dan meminta untuk mengirimkan kartu identitas sebagai syarat aplikasi. Tidak akan melanjutkan proses kalau tidak disemangati Febrina, Aprisal, Ninis, dan Yuwo saat lelah lahir batin menghadapi urusan perbeasiswaan. Tidak akan bertahan melakukan pelatihan kedua kali tanpa suntikan semangat dari Merry, Mb Ika, dan Mb Fitri yang semangatnya nggak habis-habis.

Saya ingat, habis bertemu di rumah Duta Besar Amerika, Yuwo langsung berceramah: This is not an individual struggle, if we want to win this, we have to work together, we have to work as a team. Those who win are people who know how to work together and put the right strategy. I believe we can win this together. (Kurang lebih begitulah yah, wo)

Pada saat itu saya yang belum niat sekolah (masih lack of motivation banget), cuma menganggap Yuwo tipikal anak ITB yang ambi abis. Tapi kemudian, setelah akhirnya memutuskan untuk memperjuangkan urusan persekolahan ini, saya jadi teringat lagi perkataan Yuwo yang hampir dua tahun lalu itu. Yuwo ada benarnya juga.

Mencari komunitas yang tepat, dan teman-teman yang tulus menyemangati, adalah salah satu hal yang sering terlupa saat kita ingin mencapai sesuatu. Bukan cuma beasiswa, apapun itu. Surround yourself by the right people, because the winners are not always the cleverest, but those who are motivated and put the real struggle.

Tulisan ini mungkin mellow-mellow aja karena kangen ngomong bahasa Indonesia dan kangen makan tempe. This is just the beginning of the struggle, however by being with the right people, we will be able to cope with almost everything. Including months without tempe dan kecap manis!



Comments

  1. Love love loveee Rikaa... when you feel down, remember that you are not alone. You are never alone. We are going forward together!

    ReplyDelete
  2. Hey did I really say that? I completely forgot but Thank God you are saved by it. I am so proud of you Rika - always and yeah let's pretty much be the light for the world in any ways possible. Stay positive, get what you want in life that makes you happier and better as a person. We can do it altogether I promise you that. :)

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular posts from this blog

First Travel dan betapa seksisnya media kita

Aku tumbuh sembari membenci payudara

keterbiasaan pada pelecehan seksual