Kenapa rasis terhadap bangsa sendiri?

Beberapa pekan lalu saya mendapatkan perlakuan rasis paling parah seumur hidup. Saya dan pasangan memesan makan siang di La Moomba, restoran di Gili Trawangan. Pesanan kami adalah dua salad, dua jus mangga, dan air mineral. Pada saat itu restoran tidak terlalu ramai, namun salad kami tak kunjung datang. Satu jam berlalu, dan pelanggan yang datang sesudah kami pun hampir menyelesaikan makan siangnya. Tiga kali saya bertanya kepada pelayan mengenai pesanan, mereka hanya menjawab sambil lewat: sedang dimasak.

Sampai akhirnya saya memutuskan untuk pergi saja. Namun, ketika akan membayar jus mangga serta air mineral, seketika juga, salad kami siap. Itu pun sesudah pasangan (yang bukan orang Indonesia) menanyakan kembali untuk keempat kalinya. Karena kami sudah siap di kasir untuk membayar, saya menolak untuk membayar salad tersebut.

Akhirnya kasir memanggil (yang sepertinya) manajer restoran. Pada saat itu reaksi (terduga) manajer restoran terbilang mengejutkan:

"Kita kan sama-sama lokal, harusnya mbak paham lah," ujarnya.

Sungguh saya tak paham, "jadi kalau lokal, bapak boleh memberi pelayanan yang buruk?"

"Ya kan sama-sama lokal, harusnya paham lah. Tadi meja kita ini berantakan, jadi pesanan mbak, ketumpuk, dan ga ketemu, baru ketemu tadi ini," jelasnya.

"Iya pak, kalau begitu tadi tiga kali saya bertanya, kenapa bilangnya lagi dimasak? Harusnya dibilang saja belum dibuat, bukan buru-buru dibuat sesudah pacar saya yang bertanya. Memangnya beda kalau bule yang tanya?"

"Mbak kan sama-sama lokal, harusnya kita saling paham lah! Mbak harus bayar, mbak nih yah, kalau ke restoran itu, di mana-mana juga harus bayar, coba mbak sekali-sekali ke restoran," tiba tiba dia marah-marah dan mengajari saya caranya bertransaksi di restoran.

"Pak, maksudnya gimana? Salah saya kalau meja bapak berantakan, lalu saya harus bayar makanan yang tidak pernah saya terima?" saya kembali bertanya karena logikanya tak masuk akal.

"Ya kalo mbak sudah nggak mau makanannya gapapa, nanti saya kasih aja ke anak-anak (para pekerja di restoran tersebut) tapi tetap harus bayar! BEGINI DEH KALAU BERURUSAN SAMA LOKAL, SUDAH PAHAM SAYA. SOK. YANG PENTING BAYAR AJA DULU, MBAK?!!" lalu dia membentak-bentak saya.

Pada akhirnya saya beri juga uang, "Pak, kalau cuma mau uang, ini pak, tapi ga perlu rasis begitu, membeda-bedakan bule dan lokal, emang bapak orang mana?" ujar saya kesal sambil berlalu menuju parkir sepeda.

Sesampainya di hotel saya menangis sesenggukan. Sedih sekali rasanya diperlakukan begitu oleh sesama orang Indonesia. Tak cuma sakit hati, tapi juga kebanggaan sebagai orang Indonesia, yang katanya baik dan ramah, runtuh seketika. Ternyata kita hanya baik dan ramah kepada orang asing yang diuntungkan oleh harga kurs mata uang.

Sebetulnya, saya sudah mengantisipasi diperlakukan rasis setiap kali ke wilayah Bali ataupun Gili. Di Bali misalnya, keberadaan saya adalah tidak signifikan di mata para pedagang. Mereka akan berusaha sekuat tenaga menawarkan ini-itu kepada pasangan, tanpa menoleh sekalipun meski saya bertanya. Mereka baru peduli ketika menyadari bahwa saya bisa mengambil keputusan sendiri, dan bertransaksi  tanpa campur tangan pasangan.

Dahulu, saya menganggap biasa saja jika diperlakukan rasis di Bali. Saya pikir, sudahlah, mungkin mereka kira pelancong lokal tidak punya uang sebanyak para pelancong kulit putih. Namun setelah kejadian di Gili Trawangan, saya jadi lebih sadar atas perlakuan rasis. Apalagi sepanjang ingatan, perlakukan begitu belum pernah terjadi selama bepergian ke negara Asia Tenggara lain yang mirip-mirip juga dengan Indoensia, misalnya Thailand, Myanmar, atau Philipina (meskipun mereka selalu menyangka saya adalah penduduk lokal).

Thailand juga negara yang sangat men-stereotype perempuan berkulit cokelat yang berkeluyuran dengan orang kulit putih (biasanya saya akan dianggap berasal dari provinsi di Thailand, dan dianggap arogan karena tidak mau berbahasa Thailand). Namun demikian mereka tetap selalu berusaha berbicara dengan saya terlebih dahulu, dengan menggunakan bahasa lokal. Belum pernah saya diperlakukan dengan berbeda karena warna kulit dan ras. Bahkan saat ingin makan malam di depan kantor di Bangkok, penjual jajanan pinggir jalan dengan sangat ramah menyapa dengan bahasa Thailand.

Begitu juga dengan Myanmar. Di Myanmar saya sering dianggap lokal, dan diperlakukan dengan sangat baik. Mereka berusaha mengobrol dan berbicara dalam bahasa lokal terlebih dahulu, baru kemudian berpaling kepada pasangan. Bahkan saking mereka menghargai bahasa dan bangsanya sendiri, beberapa pengemudi taksi sempat kesal karena saya dianggap enggan berbahasa Myanmar, padahal berwajah Myanmar. Keramahan orang Myanmar memang bervariasi jika dibandingkan berdasar kota besar dan kota kecil di provinsi. Namun, saya belum pernah diperlakukan rasis seperti yang sering saya terima di negara sendiri.

Kejadian tersebut, pada akhirnya mengingatkan pada perlakukan rasis kecil-kecil dalam kehidupan sehari-hari, bahkan tak jarang dari teman sendiri. Misalnya saja, yang paling sering saya dengar sejak masih di universitas: "kamu mukanya muka pembantu sih, sukaan-nya bule." Sakit hati? Tidak, saya sudah kebal.

Hanya saja, kenapa sih kita harus rasis kepada bangsa sendiri? Kapan bisa jadi bangsa besar kalau begitu bertemu dengan kurs yang lebih tinggi sedikit saja langsung berubah jadi cecunguk yang meremehkan teman dari bangsa sendiri?

Comments

Popular posts from this blog

First Travel dan betapa seksisnya media kita

Aku tumbuh sembari membenci payudara

keterbiasaan pada pelecehan seksual