Bagan, negeri seribu candi

Salah satu tempat yang harus dikunjungi ketika berada di Myanmar adalah Bagan, tempat lahirnya ribuan candi sejak abad ke-sembilan. Dulunya Bagan adalah Ibu kota Kerajaan Pagan, yang menyatukan seluruh wilayah Myanmar, dan peletak dasar konstitusi Myanmar (dulu Burma) modern.

Berbeda dengan Prambanan yang ratusan candinya terletak berdekatan, candi-candi di Bagan terletak berjauhan, agak sporadis, dan tidak seragam. Karena letaknya berjauhan dan amat banyak, tidak disarankan untuk mengunjungi keseluruhan candi satu per satu. Selain karena banyak candi yang mirip satu-sama lain, juga karena banyak candi yang dikunci. Alasan lain adalah karena beberapa candi juga tidak istimewa-istimewa amat, sebagian hanya dibuat untuk pemimpin atau orang kaya terdahulu.

Saran saya, datangi candi-candi besar di sana, daftar candi besar yang istimewa sangat mudah ditemui di internet, misalnya Candi Ananda, lalu berkunjung ke dua-atau tiga candi kuno kecil-kecil. Bagus kalau candi tersebut bisa dinaiki hingga ke atap, karena pemandangan Bagan dari atas candi sangatlah indah, terutama saat matahari tenggelam. Rasanya merinding melihat keindahan begini.

Saya berkunjung ke Bagan pada Mei 2015, bukan waktu yang disarankan untuk berkunjung. Pada pertengahan tahun, suhu di Bagan sedang panas-panasnya. Saat di Bagan saya hanya keluar pada pagi hari, dan pulang ke hotel pukul 11 pagi, baru kemudian keluar lagi sekitar pukul 4 sore lantaran udara yang sangat panas.

Alasan lain untuk tidak berkunjung ke bagan pada Mei adalah karena balon udara sedang tidak beroperasi pada bulan ini. Iya, di Bagan kita bisa mengambil tur menaiki balon udara yang buka sekitar akhir tahun, dan tutup pada April karena alasan cuaca. Tur menggunakan balon udara ini terbilang mahal, sekitar US$350 pada Mei 2015. Apalagi tiket pergi pulang ke Bagan dari Yangon juga tidak murah, sekitar US$200 untuk penerbangan selama 45 menit ini (di Myanmar banyak layanan dihargai dengan dolar Amerika, bahkan menu di restauran juga menggunakan dolar Amerika, walaupun kita bisa bayar dengan Kyatt, baca: chat).

Pesawat yang digunakan untuk penerbangan Yangon-Bagan adalah pesawat kecil dengan baling-baling, semacam kapal bombardir. Menuju Bagan dari Yangon, pesawat akan transit di Mandalay. proses transit ini agak lucu karena penumpang diminta menunggu di pesawat sambil menanti penumpang dari Mandalay menaiki pesawat. Selama proses transit, kita juga boleh keluar dari pesawat untuk meluruskan badan. Seperti naik bus rasanya.

Bagi saya, Bagan ini bagaikan versi panas dari Magelang, kota kecil yang sederhana, tapi cantik, dan penduduknya begitu ramah. Bagan juga sudah ramah turisme, penduduk lokal mungkin tak banyak yang bisa berbahasa Inggris, namun kami tidak menemukan kesulitan saat harus bertransaksi, baik di rumah makan, hotel, mapun pertokoan. Hanya saja, kita harus terbiasa dengan logat Myanmar yang kental saat mereka berbahasa Inggris. Perlu waktu bagi saya untuk memahmi Bahasa Inggris a la Myanmar ini.

Untuk pilihan makanan, karena sudah ramah turisme, ada banyak restoran yang sudah menyediakan menu barat, ataupun menu Asia Tenggara. Toko-toko souvenir juga bertebaran di sepanjang jalan.  Saat berada di Bagan, transportasi yang bisa digunakan adalah sewa sepeda listrik, sepeda motor (di Bagan sepeda motor tidak dilarang), atau sepeda kayuh, sekitar 5000 Kyatt per setengah hari. Sementara harga hotel sekitar US$35 per malam, untuk hotel yang mungkin setara dengan hotel melati.

Saat berada di bagan, sebaiknya beranikan diri untuk blusukan. Saat mencari tempat untuk menonton matahari tenggelam, kami hampir menyerah karena tak menemukan candi yang dibuka ataupun yang bisa dinaiki atapnya. Namun akhirnya kami menemukan jalan menelusuri sungai, dan melihat matahari tenggelam dari bukit kecil yang tercipta dari reruntuhan bangunan. Salah satu pemandangan matahari tenggelam paling indah yang pernah saya lihat!

Oya, menaiki atap candi bukanlah perbuatan vandal, kami menghormati peninggalan budaya berusia ratusan tahun ini, tentu kami tak ingin merusak. Beberapa candi memang didesain untuk bisa dinaiki hingga ke atap. Sebab itu harus memilih baik-baik candi mana yang mau dikunjungi dan apa tujuannya. Ratusan candi di bagan banyak yangs udah tidak digunakan, meski demikian, sangat disarankan untuk membuka alas kaki meskipun candi tersebut sudah tidak digunakan untuk berdoa.

Atap candi yang gelap dan lembab biasnaya dihuni oleh koloni kelewar, selain itu untuk candi candi yang tak lagi digunakan, terkadang kita akan menemukan penjual atau pelukis pasir. Lukisan pasir di atas kanvas merupakan salah satu oleh-oleh khas Bagan.

Selain ribuan candi kecil dan banyak candi-candi yang lebih besar (daftar candi di Bagan bisa dilihat di wikipedia), ada satu candi yang masih aktif digunakan untuk berdoa. Seperti Bororbudr, candi berwarna putih ini dikelilingi oleh banyak penjual, meskipun tidak sebanyak di Borobudur. Manurut saya, bolehlah luangkan waktu sebentar untuk melongok apa yang mereka jual, karena banyak sekali barang unik dengan harga murah yang bisa ditemukan di sini.

Beberapa situs yang berguna kalau ingin mengunjungi Bagan:

https://en.wikipedia.org/wiki/Bagan
http://www.baganmyanmar.com/
http://www.orientalballooning.com/
http://www.airbagan.com/

(maaf yah, foto jepretan kamera handphone di bawah ini sama sekali tidak berhasil mewakili keindahan Bagan, sila googling saja untuk gambar-gambar cakep Bagan :D)





Comments

Popular posts from this blog

First Travel dan betapa seksisnya media kita

Aku tumbuh sembari membenci payudara

keterbiasaan pada pelecehan seksual