Posts

Showing posts from November, 2015

aku tak sempat menulis sajak untukmu

aku tak sempat menuliskan sajak untukmu. aku tak tahu lagi bagaimana mengulang-ulang cerita tentang matamu, senyummu, dan baumu. masih kusimpan kausmu yang kini kumal di pojok tempat tidur. sudah hampir habis baumu dari kaus itu, mungkin hampir seluruhnya sudah kuhirup, masuk ke paru-paru, dan berdiam di sana agar aku tak lupa bagaimana mengingat-ingat baumu.

kemarin dulu kau bercerita bagaimana kau melipat kaus-kausmu dengan cara yang salah, lalu kau ulangi semua seperti cara melipat yang pernah aku ajarkan. kemarin dulu juga kau bercerita betapa kau ingin menghabiskan ulang tahunmu bersamaku saja. tapi kemarin dulu, sebelum aku tahu kau juga ingin menghabiskan ulang tahunmu bersama si ini dan si itu.

masih kupandangi fotomu, dengan senyum dikulum dan mata berbinar-binar. matamu tak pernah habis binarnya. mungkin itu binar dari mataku yang pelan-pelan menghilang, buram, dan berganti pucat pasi.

mungkin beberapa kenangan memang harus dilipat rapi dan diletakan di bawah lemari, bersama…

Paris dan Rasa Cemburu

Saya baru kembali dari Laut Maumere setelah berhari-hari berburu tuna dengan kapal huhate, saat lima notifikasi dari Guardian berkedip-kedip di pojok telepon selular, katanya 158 orang meninggal dalam serangan di Paris. Tak lama facebook memberi notifikasi, katanya lima teman saya selamat dari serangan di paris. Beberapa hari sebelumnya, sebelum terisolasi di laut lepas, seorang teman membuat status yang mengatakan bahwa dia aman karena serangan di sisi lain dari Beirut.
Pada titik ini saya merasa notifikasi facebook ini membantu betul, andaikan ada juga untuk Beirut. Belum selesai saya berpikir, beberapa teman mulai mengganti foto profil dengan avatar bendera Perancis. Ah, solidaritas!
Lalu saya mulai menelusuri laman facebook, dan status yang pertama saya temukan adalah kecemburuan dari seorang teman, katanya mengapa baru sekarang semua orang peduli pada tragedi kemanusiaan, mengapa pada saat asap melanda separuh Indonesia, tidak ada yang menggantikan foto profilenya dengan avatar …

28

I had an amazing 27, I learned a lot. 
I was blessed to be able to meet amazing people, to be inspired by wonderful stories. I took my time to understand myself, to be happy, and happier, to realise that the only person who will give me everything is myself.
I learned that love is an act of giving, not taking.I learned that commitment means self-discipline, that I respect myself, thus I respect my partner. Love should set you and your partner free. Love someone not because you want them to love you back. Love someone because you love yourself, because you love this life and because you have the positive energy and want to share it. Love because you are already happy, not to find happiness. Don't rely on your partner or your relationship to be happy, you can’t be a burden to your partner to make you happy because a happy relation requires two happy persons, because the only sustainable form of happiness is the happiness that comes from within yourself.
I learned that happiness is no…

There is a flower . . . I think that she has tamed me . . .

Image
"Ah," said the fox, "I shall cry." "It is your own fault," said the little prince. "I never wished you any sort of harm; but you wanted me to tame you . . ." "Yes, that is so," said the fox. "But now you are going to cry!" said the little prince. "Yes, that is so," said the fox. "Then it has done you no good at all!" "It has done me good," said the fox, "because of the color of the wheat fields." And then he added: "Go and look again at the roses. You will understand now that yours is unique in all the world. ..." "Goodbye," he said. "Goodbye," said the fox. 

related post:  because we came from B612

Pada Matamu