Selera Bule dan Prasangka

Siang kemarin pasangan tiba-tiba bertanya, apa yang saya rasakan ketika orang memandangi kami dengan tatapan menuduh. Menuduh bahwa saya adalah perempuan Asia yang hanya mencari pundi-pundi uang dari pria kulit putih, atau hanya digunakan sebagai sumber seks saja.

Lalu saya bertanya balik, bagaimana yang dia rasakan saat orang lain memandangi kami dengan tatapan menuduh yang sama. Menuduh bahwa dia adalah pria kulit putih sampah masyarakat di negaranya yang datang ke Asia untuk wisata seks dan diuntungkan karena kurs mata uang.

Kesimpulan siang itu adalah bahwa pandangan orang lain tak lagi penting, karena toh kami tak mencari validasi. Lagi pula, tuduhan akan tetap datang apapun yang kami lakukan karena kita berada dalam masyarakat yang sukanya berprasangka, mengotak-ngotakan, saling mengurusi, dan menilai-nilai.

Bertahun-tahun berada dalam hubungan antar-ras (interracial relationship), saya tak bisa berbohong kalau pandangan masyarakat sekitar mempengaruhi mood dan perasaan. Saya malas mengenal-ngenalkan pacar pada beberapa kelompok teman karena malas mendengar komentar "kamu kan selera bule" atau "bule emang sukanya yang item dan muka pembantu". Bahkan juga malas melakukan kegiatan normal seperti pasangan lain, berbelanja, menonton bioskop, atau sekadar bergandengan tangan di pusat keramaian. Malas dituduh, malas ditatap.

Bertahun-tahun, saya masih terganggu dengan pelayan restoran atau di tempat publik manapun yang bersikap seolah saya tak mampu membayar kalau tak diajak oleh pasangan yang berkuli putih. Juga terganggu dengan anggapan "pacarnya bule duitnya pasti banyak" atau pertanyaan "kalau travel dibayarin dong".

Tentu, saya tak membutuhkan validasi bahwa semua tiket perjalanan saya bayar sendiri dengan gaji yang tak seberapa ini. Juga tak perlu manyatakan bahwa makanan yang saya konsumsi ditukar dengan uang dari dalam dompet pribadi. Sama sekali tidak. Siapalah saya harus peduli pada tanggapan orang. Toh, mengutip teman, mereka itu peduli tapi tidak peduli. Semacam hanya nyinyir sesaat, sesudah itu palingan lupa juga.

Meski demikian, nyinyir sesaat bukanlah sesuatu yang benar-benar sesaat. Ada persoalan subtil yang jauh lebih penting dari pada nyinyir itu sendiri. Nyinyir adalah katalis dari keberadaan pola pikir tertentu, prasangka tertentu. Ketiadaan prasangka tak akan membuat seseorang berpandangan buruk mengenai sesuatu dan tidak akan berujung pada nyinyir. Ketiadaan prasangka tak akan membuat seseorang atau sekelompok masyarakat mengurusi remeh-temeh kehidupan orang lain.

Prasangka dan pola pikir ini yang berbahaya, soal bagaimana masyarakat melihat perempuan dari rasnya sendiri dengan begitu rendah. Bagaimana masyarakat menuduh-nuduh dan menjatuhkan perempuan-perempuan dari ras-nya sendiri. Juga bagaimana masyarakat melihat perempuan sebagai entitas yang tidak akan pernah bisa mencapai titik tertentu kalau tanpa bantuan laki-laki (dalam hal ini laki-laki kulit putih). Misalnya bahwa perempuan dengan fisik tertentu, berasal dari ras tertentu, tidak mungkin memiliki kemampuan untuk berada di kalangan tertentu tanpa bantuan laki-laki (kulit putih) yang menggandengnya.  Tidak hanya di Indonesia, saat berada di Myanmar dan Thailand saya juga merasakan hal yang sama, ditatap dengan prasangka yang sama.

Lebih lanjut, secara general, persoalan ini jauh lebih bahaya dari pada sekadar nyinyir. Nyinyir hanyalah puncak gunung es dari persoalan bagaimana masyarakat merendahkan ras-nya sendiri. Namun, semoga saya salah, semoga ini hanya kejadian acak dan bukan berakar pada kulur yang misoginis.

Kabar baiknya, tentu saja tak semua orang memiliki anggapan demikian. Hasil observasi bertahun-tahun belakangan membuat saya menyadari bahwa kelompok yang masih memiliki tanggapan penuh prasangka biasanya adalah mereka yang tak memiliki pergaulan cukup luas, atau jarang melakukan perjalanan interkultural. Perjalanan yang saya maksud bisa saja perjalanan fisik, tapi saya ingin menekankan pada perjalanan mental saat menyerap dan memahami keberadaan budaya dan ras lain. Atau dalam bahasa ringkas, tidak berpikiran terbuka.

Memandang perempuan, atau orang lain, siapapun, sebagai manusia yang setara seharusnya adalah sesuatu yang inehren tanpa harus belajar dari perjalanan interkultural. Karena saat merendahkan orang lain, bukankah artinya juga merendahkan diri sendiri? Merendahkan ras sendiri seolah siapapun yang berasal dari ras yang sama tak bisa setara dan berada dalam hubungan yang sepadan dengan ras lain yang dianggap lebih tinggi?

Comments

  1. Aih..aku be belum kenalan samo laki kau skg Ka..langgeng yo Ka. Happily everafter cak di tipi2 ye..hehe..

    Anw, kalo mikirin omangan orang bakal gak ada benernya kita. Selama gak bertentangan dgn prinsip yg kita anut, cuekin aja omongan orang, toh bukan mereka yg kasih makan kita, hehe

    ReplyDelete
  2. Aii.. jingok baba komen jd nak komen jg... tp dak tau nak komen apo.. gek be men tau nak komen apo br ku tulis di sini... tp lah terlanjur nulis... ahhh sudahlah.. salam bae dr kawan sedulur...

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular posts from this blog

First Travel dan betapa seksisnya media kita

Aku tumbuh sembari membenci payudara

keterbiasaan pada pelecehan seksual