Berolah Raga dan Berterima Kasih

Awal tahun lalu dokter mengatakan lutut yang berharga ini harus dioperasi supaya bisa dipakai berjalan kaki lagi. Robeknya tulang lunak di lutut kiri memang merepotkan, tak bisa berjalan--apalagi berlari, dan naik-turun tangga merupakan siksaan terberat.

Hampir 1,5 tahun kemudian, alias sekarang, saya sedang senang-senangnya karena lutut sudah hampir normal kembali paska operasi. Kalau akhir tahun lalu cuma bisa bersepeda cantik dan statis pula (baca: super ringan dan dapat dilakukan sambil baca buku), sekarang sudah bisa sepeda betulan, bahkan bisa berlatih squat dengan beban, dan... lari!

Bisa berlari lagi rasanya seperti anugerah betul! Momen-momen pertama bisa berlari kembali adalah saat paling haru dan ajaib, saya jadi sadar bahwa selama ini tak terlalu menghargai tubuh, dan hanya taken for granted saja. Lupa mendengarkan tubuh, lupa berterima kasih pada tubuh, dan terlalu fokus pada hal-hal atribusi; seperti seberapa jauh bisa berlari, seberapa lama bisa berlari, alih-alih seberapa bahagia saat berlari.

Dulu saya berolah raga--termasuk lari--karena ingin sehat, dan ingin bisa ini-itu. Ingin lebih fleksibel, ingin menghilangkan lemak-lemak membandel dan mengganti dengan otot, ingin meningkatkan massa tulang, ingin lebih cepat… Pokoknya bigger-better-stronger, deh. Namun karena saya bukan orang yang kompetitif, menjadi lebih baik dalam olah raga tak pernah saya proyeksikan terhadap orang lain, melalui kompetisi misalnya. Saya tak peduli pada kemajuan orang lain, dan fokus pada kemajuan diri sendiri. Keinginan-keinginan itu akhirnya memang tercapai juga, jadi juga bigger-better-stronger; alias tadinya cemen, sekarang jadi lumayan dikit.

Namun kejadian operasi lutut ini menyadarkan bahwa ada satu hal yang dulu terlupa, saya lupa untuk berterima kasih dan merasa bahagia. Saya berolah raga dengan fokus penuh untuk mencapai ini-itu, sampai lupa menikmati proses berolah raga itu sendiri. Padahal dengan berterima kasih dan memenuhi permintaan tubuh, kita justru akan jadi semakin terikat (dalam artian positif) dengan proses dan akhirnya semakin rajin berolah raga.

Meski demikian, ada hal-hal yang tak pernah berubah. Bagi saya yang tak pernah berubah adalah persoalan kompetisi, hingga saat ini satu-satunya kompetisi yang diikuti adalah dengan diri sendiri. Namun dengan nilai-nilai yang berbeda, tak lagi soal seberapa kencang atau seberapa lama stamina bertaham, tetapi soal seberapa baik kontrol terhadap tubuh dan nafas saat berlari, dan seberapa menikmati proses berlari. Biasanya lari menjadi buruk sekali saat tidak bisa menikmati sehingga sulit berkonsentrasi dan pada akhirnya kehilangan kontrol. Hitungan buruk bukan dinilai dari jarak atau kecepatan berlari, tetapi bagaimana perasaan sesudah berlari.

Berolah raga, termasuk berlari, pada akhirnya membuat hidup jadi lebih teratur, karena saya meluangkan jadwal untuk berolah raga, bukan mencari jadwal luang untuk berolah raga. Jadwal yang menjadi rutinitas, akhirnya membuat jam biologis juga lebih teratur. Tak perlu lagi alarm untuk bangun pagi, dan kesulitan tidur juga tinggal kenangan. Tubuh juga dengan sendirinya menolak makanan tak sehat, dan sederet manfaat lain yang banyak penjelasannya dalam artikel-artikel kelas menengah masa kini seperti Elite daily dan Huffington Post for Women.

Mensana in corpore sano ada benarnya juga. Berolah raga dan memilih-milih makanan (saya kembali menjadi vegetarian sejak 2012 akhir setelah berhenti menjadi vegetarian selama periode 2011) membuat saya lebih sehat, dan juga lebih bahagia. Kalau sepanjang 2011 saya masuk rumah sakit empat kali dalam setahun, sejak 2013 bahkan belum pernah flu. Depresi dan vertigo pun hampir hilang sepenuhnya. Saya menjadi semakin rutin berolah raga karena terikat dengan perasaan bahagia saat berolah raga. Semacam punya pacar baru, kita cenderung ingin terus bersama karena berada di sebelah pasangan membuat bahagia.

Sekarang saya berolah raga sebagai bentuk terima kasih dan apresiasi terhadap tubuh. Saya berolah raga juga karena bahagia adalah perasaan yang sangat menyenangkan. Dengarkan tubuh, karena tubuh sering kali lebih pintar dari kita sendiri.

Comments

Popular posts from this blog

Karena usia cuma deretan angka-angka!

Aku tumbuh sembari membenci payudara

keterbiasaan pada pelecehan seksual