Level yoga(?)

Saya tak pernah menulis soal yoga di dalam blog. Namun pengalaman dua pekan lalu di Jogja membuat saya belajar banyak. Seorang kawan baru merekomendasikan sebuah tempat yoga yang menurutnya paling baik seantro Jogja. Mendengar hal semenyenangkan itu, tentu dengan bersemangat waktu akan diluangkan. Senang sekali akan belajar hal baru di tempat baru, bersama orang-orang baru.

Hingga sampailah di kelas yang direkomendasikan tersebut...


Instruktur: Mbaknya sudah pernah yoga? Soalnya ini kelasnya intermediate, takutnya nanti nggak bisa ngikutin loh!
Saya: Mudah-mudahan bisa ngikutin ya, mbak. Aku uda lumayan sering yoga sih, tapi nanti kalau nggak bisa, mungkin ambil option aja. Soalnya saya cuma bisa coba hari ini aja yoganya, teman saya merekomendasikan.
Instruktur: Oh gitu, ya uda nanti dicoba aja.

*kelas hampir mulai*

Instruktur: Kakinya kenapa? (karena saya pakai decker)
Saya: Oh, ini bekas operasi.
Instruktur: Oh gitu? ini yoganya berat loh, nanti ga bisa ngikutin apalagi pernah operasi gitu.
Saya: Mmmm… Sebenarnya operasinya sudah lama, tapi saya pikir lebih baik kalau pakai decker karena belum normal sepenuhnya, tapi saya sudah bisa lari dan body pump, sudah mulai yoga juga tiga bulan terakhir ini setelah off setahun.
Instruktur: Oh gitu, kita ada kelas basic kok, apa nggak ikut yang basic saja...

Bagaimana perasaanmu ketika sudah bayar sekali visit, sudah siap dengan kostum dan matras yoga, siap di dalam kelas, lalu sebelum kelas mulai si instruktur sampai dua kali memberi kesempatan untuk keluar dan tidak ikut kelas? Apalagi di tengah kelas si instruktur enggan membantu ketika diminta bantuan membenarkan alignment saat handstand, hanya karena si instruktur menyuruh menumpukan bokong pada tembok, dan (karena merasa mengenali tubuh) saya menjelaskan keinginan untuk melatih memberi beban pada lengan dan core muscle, sebab itu tak ingin menumpukan bokong pada tembok... Lalu dia meninggalkan saya begitu saja, tanpa penjelasan.

Malamnya saya bertemu teman lama.

Saya: Hi mas, apa kabar? lagi sibuk apa sekarang?
Masnya: Saya lagi sibuk yoga aja. *lalu menunjukan foto-fotonya yang sedang berasana di instagram.
Saya: Wah, keren yah…
Masnya: Kamu ikut aja kelas yogaku.
Saya: boleh, boleh. Tapi aku lusa sudah pulang.
Masnya: Oh, sudan pernah yoga sebelumnya?
Saya: pernah.

*lalu beliau menunjukan pose-pose dan bertanya apakah saya sudah bisa ini dan itu*

Masnya: bisa begini?
Aku: bisa

*begitu terus sampai ke suatu pose*

Masnya: Ini bisa?
Saya: Sepertinya bisa.
Masnya: Masa sih? Yakin bisa ini? Ini sudah advance loh posenya (lalu dia menyebut level advance sekian)


Hari itu adalah hari paling menyedihkan dalam pengalaman beryoga. Bukan hanya instruktur yang eksklusif, tetapi juga pendefinisan yoga sebatas asana apa yang mampu dilakukan untuk menglasifikasi, membuat yoga sekadar sesuatu yang sebatas permukaan saja. Sekadar gerakan gerakan saja, sebatas pertunjukan apa yang bisa kamu lakukan. Kalau begitu, yakin para pegiat breakdance dan balet mampu melakukan semua asana.

Saya memang bukan yogini ahli, tak pernah tahu berada di level apa, tak pernah peduli asana paling sulit apa yang sudah bisa dilakukan. Bahkan agak malu menyebut diri yogini, karena bukan pegiat yoga betulan, bukan pelaku yoga serius. Saya yoga karena membuat bahagia. Itu saja.

Entah bagaimana para yogini ahli melihatnya, namun bagi saya yoga adalah hubungan tubuh, pikiran, dan jiwa. Itu saja yang penting. Semakin berkonsentrasi, membuka diri, dan rendah hati saat berlatih, kita akan banyak menyerap pengetahuan, semakin terbuka saat berasana, maka sikap tubuh dan alignment akan semakin benar. Itu saja, konsentrasi pada diri sendiri.

Apabila ketika berlatih membawa hal-hal negatif, tidak berkonstrasi, sedang kesal, atau sedang merasa jumawa, biasanya sesi tersebut tidak akan maksimal, badan saya berlatih, tetapi jiwa tidak. Mungkin otot bekerja (meski tak maksimal), tetapi rasa bahagia dan ketenangan yang dirasa tidak sebaik biasanya.

Sebab itu saya tak pernah dan tak merasa perlu membandingkan dengan orang lain, kecuali untuk melihat dan merasakan sikap tubuh yang benar. Yoga (atau latihan apapun) adalah personal. Tak perlu membandingkan kemajuan diri sendiri dan orang lain, setiap orang memiliki tubuh berbeda, kemajuan berbeda, tujuan berbeda. Kawan bisa saja memiliki core luar biasa kuatnya, namun mungkin belum berkonsentrasi dan menjadi hadir sepenuh kamu.

Sekali lagi, saya bukan yogini apalagi ahli, berlatih yoga hanya karena membuat bahagia.
Lakukan apa yang membuat bahagia, berlatihlah (apapun) jika hal tersebut membuat bahagia dan bermanfaat. Dengarkan saran orang yang membantu membuat sikap tubuh kita semakin baik, tapi terlebih dahulu dengarkan tubuh sendiri. Jangan bandingkan diri dengan orang lain, melainkan bandingkan diri hari ini dan pekan lalu, atau bulan lalu, atau tahun lalu. Kemajuan orang berbeda-beda,tubuh tiap orang berbeda-beda. Berkonsentrasi, buka diri, rendahkan hati.

Memulai kelas yoga dengan diliyankan bukanlah pengalaman menyenangkan. Saya yang lima tahun lalu mungkin akan kesal diperlakukan seperti itu, tetapi, percaya atau tidak, yoga membantu mengontrol emosi, dan menekan ego. Belakangan saya baru menyadari, dan terkejut, dapat dengan tenang menghadapi si intruktur dan berkata: biarkan saya mencoba. Mungkin hal ini adalah buah dari on-off beryoga lima tahun belakangan.

Be present, be blissful. We don't always have to attend any debate that we invited to. Just do what feels right for you.

Comments

  1. betul.. percuma pinter yoga tapi nggak apal pancasila

    ReplyDelete
    Replies
    1. untung aku minimal apal pancasila yah, kak...

      Delete

Post a Comment

Popular posts from this blog

First Travel dan betapa seksisnya media kita

Aku tumbuh sembari membenci payudara

keterbiasaan pada pelecehan seksual