Posts

Showing posts from April, 2015

Level yoga(?)

Saya tak pernah menulis soal yoga di dalam blog. Namun pengalaman dua pekan lalu di Jogja membuat saya belajar banyak. Seorang kawan baru merekomendasikan sebuah tempat yoga yang menurutnya paling baik seantro Jogja. Mendengar hal semenyenangkan itu, tentu dengan bersemangat waktu akan diluangkan. Senang sekali akan belajar hal baru di tempat baru, bersama orang-orang baru.

Hingga sampailah di kelas yang direkomendasikan tersebut...


Instruktur: Mbaknya sudah pernah yoga? Soalnya ini kelasnya intermediate, takutnya nanti nggak bisa ngikutin loh!
Saya: Mudah-mudahan bisa ngikutin ya, mbak. Aku uda lumayan sering yoga sih, tapi nanti kalau nggak bisa, mungkin ambil option aja. Soalnya saya cuma bisa coba hari ini aja yoganya, teman saya merekomendasikan.
Instruktur: Oh gitu, ya uda nanti dicoba aja.

*kelas hampir mulai*

Instruktur: Kakinya kenapa? (karena saya pakai decker)
Saya: Oh, ini bekas operasi.
Instruktur: Oh gitu? ini yoganya berat loh, nanti ga bisa ngikutin apalagi pernah oper…

Aku Ingin

Kalau langit Jakarta memerah, dan senja datang bertalu-talu, aku teringat cokelat hangat dan film kesukaanmu--yang membuatku tertidur nyenyak. Teringat betapa susah payah aku memandangimu, dan betapa keras hatimu ingin berlalu.

Lalu aku ingin membencimu. Membencimu sepenuh tangis anak tetangga yang ibunya pergi entah ke mana. Membencimu sekeras suara ibu-ibu pengajian di masjid sebelah. Membencimu sekuat tekad pengendara motor yang berebutan trotoar denganku beberapa malam lalu.
Aku ingin membuatmu marah, hingga membenciku. Aku ingin membuatmu marah, hingga tak lagi mau mengenalku. Aku ingin membuatmu…
Kembali padaku.

Selfie dan Follback

Sebagai generasi internet yang menghabiskan 1-2 jam setiap hari di media sosial untuk kesenangan pribadi, serta 1-2 jam untuk urusan pekerjaan, permintaan 'follow back' tentu bukan barang baru. Aku kira tradisi follow back ini dimulai dari twitter yang konsepnya sharing informasi, tidak seperti facebook yg pertemanan. Maka salah satu alasan utama mengikuti akun di twitter, dan belakangan instagram, adalah karena tertarik dengan konten.
Namun, seringkali orang tidak menganggap konten suatu akun cukup penting atau cukup menarik untuk diikuti. Ya tidak apa-apa, kan tergantung tujuan membuat akun, ada yang digunakan untuk sekadar mengikuti konten tertentu, ada juga yang bertujuan untuk menyebar konten yang dirasa penting. Tujuan apa saja boleh, mana suka.
Namun, jarak kemudian tercipta saat pasar tidak menyukai suatu konten, sementara si produser konten sangat ingin pasar mengonsumsi konten yang dia buat tersebut. Bisa jadi pasar tidak tahu saja kalau kontennya bagus, sehingga di…