Sepasang suami-istri di restoran sushi

Buku yang sedang khusuk dibaca jadi kehilangan tragedinya lantaran terganggu oleh percakapan dua manusia di hadapan. Bukan, bukan karena nada suara yang terlalu tinggi, tetapi karena isi pembicaraan tersebut, dan bagaimana si suami membalas pertanyaan istrinya.

Suami: Akhir pekan saya ke Bali dan Lombok, tanggal XX sampai tanggal XX
Istri: Kok lama amat?
Suami: Iya, soalnya dua tempat.
Istri: Oh... lama yah...
Suami: Soalnya di Bali ada dua tempat, maksudnya dua nasabah, tetapi dua-duanya di Bali, di Lombok ada satu tempat.
Istri: Soal apa?
Suami: Sama orang risk.
Istri: Apa? Ris?
Suami: Risk, saya jelasin juga percuma, kamu nggak ngerti.
Istri: Ris?
Suami: Risk, *sambil tertawa mengejek* Saya mau jelasin juga kamu nggak akan ngerti.
Istri: oh, RISK.

Memang tak sepatutnya saya ikut mendengarkan percakapan orang, apalagi mencuri dengar, lalu manilai-nilai. Akan tetapi kami duduk berhadapan di meja yang sama, biar bagaimana juga pasti terdengar.

Juga tak patut menilai-nilai orang lain dari pembicaraan yang sepotong saja, macam cenayang, atau hakim saja, menilai-nilai orang tak dikenal. Namun, kesal juga mendengar si suami merendahkan kemampuan intelektual orang lain, apalagi istrinya sendiri.

Ketika seseorang menjelaskan suatu perkara dan yang diberi penjelasan tidak dapat memahami pengetahuan yang sedikit itu, dua kemungkinan bisa terjadi:

1. Si tokoh yang menjelaskan tidak dapat memberi penjelasan yang baik, penjelasan yang dapat dipahami lawan bicara, pada tingkat yang dimengerti lawan bicara. Bisa jadi tokoh ini tidak cukup berusaha untuk menjelaskan agar orang lain mengerti, tidak menjelaskan dengan bahasa lawan bicara. Kemungkinannya adalah (a) Tokoh kita gagal mengidentifikasi bahasa yang dipahami lawan bicara, atau gagal menjelaskan pada tingkat yang dimengerti lawan bicara. (b) Dia memang tak bersungguh-sungguh berusaha membuat alwan bicara mengerti, melainkan bicara tinggi dengan kata-kata besar saja untuk menunjukan betapa canggih pengetahuan yang dimilikinya.

2. Lawan bicara memang tidak memiliki dasar pengetahuan mengenai pokok-pokok yang sedang dibahas, sehingga memberi penjelasan menjadi tidak memungkinkan, atau menjadi sangat sulit sehingga membutuhkan banyak waktu dan tenaga untuk menjelaskan duduk perkaranya.

Namun, kalau belum-belum sudah menilai pasti tidak paham, bukankah hal tersebut sekadar arogansi pemilik pengetahuan?

Atau jangan-jangan, ini turunan dari tradisi yang menempatkan perempuan (juga istri) dalam masyarakat kelas dua yang hanya tau perkara-perkara dapur, sumur, kasur? Selebihnya, yang tidak termasuk dalam tiga perkara tersebut, jangan banyak tanya, lah.
Praktik penempatan perempuan yang memutuskan menjadi istri yang tidak bekerja, atau ibu rumah tangga yang mendedikasikan waktunya untuk mengurus anak sebagai kelompok masyarakat yang pengetahuannya kurang canggih, sehingga tak patut bicara perkara-perkara 'besar' dalam hidup kantoran adalah praktik pengebirian generasi mendatang.

Bagaimana tidak, istri dan para ibu ini lah yang pertama-tama membesarkan anak, yang pertama-tama memberi pengetahuan, kalau si Ibu saja dianggap tak pantas bicara perkara besar, atau dianggap terlalu kurang berilmu untuk diajak berdiskusi mengenai hal-hal di luar pengaturan rumahan mengenai sumur-dapur-kasur, bagaimana Ibu memberikan pengetahuan-pengetahuan yang akan menjadi fondasi bagi anak. Padahal menjelaskan perkara-perkara keseharian kepada anak kecil apalagi balita adalah pekerjaan paling sulit dan melelahkan sedunia.

Bahkan Sanikem yang kemudian menjadi Nyai saja diberi kesempatan oleh Tuan Mellema untuk belajar pengetahuan-pengetahuan baru, diajari membaca, diajari bahasa-bahasa londo, diajari pula memimpin perusahaan. Sebab itu, jika kamu, sebagai suami, masih menganggap istri terlalu bodoh untuk mengetahui kehidupan perkantoran, maka kamu jauh lebih buruk dari Tuan Mellema yang datang sebagai penjajah berkedok pejabat pabrik gula yang sukanya merampas tanah petani Jawa.

Comments

Popular posts from this blog

Karena usia cuma deretan angka-angka!

Aku tumbuh sembari membenci payudara

keterbiasaan pada pelecehan seksual