dalam secangkir kopi

aku masih menunggui hujan
mengulur-ulur waktu agar tak segera sampai

kadang-kadang aku ingin pulang ke rumah tuan
saat langit masih senja, dan jingganya menghambur dari jendela ruang tengah
tapi saban kali, pulang malah malah membawaku pergi jauh sekali

sampai saat aku tiba tengah malam
tuan bakar ranjang-ranjang
tuan hapus tempat pulang

ah, biar kuseduh kopi satu cangkir lagi.

Comments

  1. bisa kebayang rasanya kosong dan kesepian dari sajak ini. Bagus!

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular posts from this blog

First Travel dan betapa seksisnya media kita

Aku tumbuh sembari membenci payudara

orang tua Indonesia lebih suka liat anaknya kawin dari pada bahagia