Selamat Ulang Tahun, Papa!

Pekan lalu ayah berulang tahun. Pekan lalu ayah seharusnya menjadi 51, dan pekan sebelumnya aku menjadi 27. Ulang tahun kami terpaut 8 hari.

Aku tak memiliki kenangan khusus atas ulang tahun ayah, atau ulang tahunku. Tak ada kue yang harus dipotong, atau lilin yang harus ditiup. Perhatian-perhatian kecil macam kue ulang tahun membuatku malu, juga mungkin membuat ayah malu. Kami dua orang yang terlalu kikuk dalam menunjukan rasa sayang dan perhatian.

Aku tak memiliki banyak ingatan manis tentang ayah. Ingatan tentang ayah adalah ingatan tentang tumpukan PR Matematika yang harus diselesaikan sebagai tiket izin bermain dengan anak tetangga, atau bagaimana debat sengit kami tentang komunisme.

Ingatan tentang Ayah adalah kritiknya soal mengapa lembaga nirlaba adalah kumpulan anak muda kurang kerjaan dan mengapa seharusnya aku bekerja sebagai public relations di perusahaan bubur kertas kenamaan melalui koneksinya.

Ingatan tentang ayah adalah bagaimana kami berdebat soal mengapa aku tak mau memilih kuliah hukum dan bagaimana dia tak mau membiayai jika aku berkuliah di Jogja.

Hingga berkuliah, lebih banyak waktu kami habiskan untuk berselisih paham, mulai dari soal Soeharto, hingga pilihan karir, soal anting-antingku yang terlalu banyak, dan kulitku yang terlalu hitam. Aku suka pantai dan menyelam, namun ayah (juga ibu) pikir menyelam bisa membuatku mati suatu hari.

Akan tetapi, ketika suatu hari ayah bertanya, "mau ikut Papa ke Palembang atau di Jakarta saja sama Mama?"

"Papa," jawabku malu-malu.

Ayah bukanlah ayah yang intim apalagi romantis. Tapi, bagaimanapun ayah akan selalu jadi cinta pertama setiap anak perempuan.

Selamat ulang tahun, ayah.
I know it's a lie if I said I like those debates, but I would rather to have them than not at all.

Comments

Popular posts from this blog

First Travel dan betapa seksisnya media kita

Aku tumbuh sembari membenci payudara

keterbiasaan pada pelecehan seksual