Menziarahi tahun-tahun kenangan Tsukuru Tazaki

--Some things in life are just too difficult to explain in any language.--


Haruki Murakami menulis dengan dua karakteristik yang sangat berbeda. Karakter pertama adalah abstrak-anarkis seperti Hard-boiled Wonderland and The End of The World, Wind Up Bird Chronicles, dan Kafka On The Shore, sementara karakter kedua adalah depresif-melankolis.

Colorless Tsukuri Tazaki and His Years of Pilgrimage berada dalam karakter kedua: depresif-melankolis seperti Norwegian Wood dan Hear The Wind Song. Untuk karakter kedua ini, Colorless Tsukuru Tazaki adalah juaranya.

Tsukuru Tazaki remaja merupakan bagian dari kelompok pertemanan yang begitu erat. Hingga pada suatu masa keempat temannya memutuskan untuk berhenti berteman, dan berhubungan dengan Tsukuru. Keempat-empatnya, pada saat yang sama.

Tsukuru yang tak punya teman lain, tak punya banyak kehidupan lain di luar pertemanan tersebut, menjadi begitu depresif. Tsukuru kehilangan kepercayaan diri dan mendepresikan dirinya sebagai manusia tanpa warna. Tsukuru kehilangan vitalitas hidup, akan tetapi tak ingin bunuh diri. Dia berharap keinginan untuk mati yang begitu dalam diam-diam akan membakar jantung dari dalam dan mencabut nyawanya dalam diam.

Tentu hal tersebut tak pernah terjadi.

Bertahun-tahun Tsukuru menyimpan sekaligus menyangkal rasa sakit dengan menghindar. Menghindari bertemu teman-teman (atau mantan teman-temannya), menghindari menceritakan tentang mereka, juga menghindari hal-hal yang dapat mempertemukan dirinya dengan keempatnya.

Hingga akhirnya, setelah 16 tahun, dia memutuskan untuk berhenti menjadi pengungsi dari hidupnya sendiri. Maka ia menziarahi kenangan, mencari tahu hal-hal yang tak terselesaikan.

Novel yang baru dirilis bulan lalu dalam versi Bahasa Inggris ini jauh lebih rapi, teratur, mudah dibaca, tak membuat kening berkerut, namun tanpa menghilangkan detil-detil tipikal Murakami. Apabila dibandingkan dengan 1Q84, sajian anyar ini semacam easy bite dengan cita rasa yang lebih clean taste.

Menyantap Murakami sering kali seperti menjilat es krim hingga tandas, dinikmati saja seluruhnya sampai habis, lalu menjilat sisa-sisa lelehan di sela jemari, tanpa ada yang ditunggu-tunggu. Seluruh narasi harus diserap pelan-pelan, tanpa banyak bertanya, dan tak boleh terlalu cepat. Seperti menyantap es krim, terlalu cepat akan memberi brain freeze.

Namun Colorless Tsukuru Tazaki memberi sensasi yang berbeda, rasanya seperti sedang menyantap telur setengah matang. Bagian terenak dari telur setengah matang adalah kuning telur yang meleleh hangat. Kuning telur itu dijaga baik-baik, dan disisakan untuk disantap paling akhir, sebagai bagian terbaik.

Buku yang mengambil judul dari karya Franz Liszt: Years of Pilgrimage ini membuat saya tak hanya menyerap dan menikmati narasi baik-baik, tetapi juga membuat penasaran dan menanti-nanti akhirnya. Walau sebenarnya sudah tahu juga seperti apa rasanya, rasa tipikal Murakami.





PS: ini adalah kali pertama menulis review buku. Rasanya menyenangkan, ya, ternyata! 

Comments

Popular posts from this blog

First Travel dan betapa seksisnya media kita

Aku tumbuh sembari membenci payudara

keterbiasaan pada pelecehan seksual