Ibu naik haji

Sore tadi Ibu terbang Ke Jeddah. Ibu akan menunaikan ibadah haji, sendirian.

Pengertian haji yang aku dapat dari pelajaran Agama Islam sewaktu SD hanyalah bahwa haji merupakan bagian dari rukun Islam, sebagai ibadah wajib yang harus dikerjakan bila mampu. Tentu saja hanya bila mampu. Saudi Arabia sebegitu jauhnya, dan aku tak pernah cukup paham kenapa harus menunaikan ibadah haji. 

Namun sejak ibu mengatakan dia ingin naik haji, aku jadi sadar bahwa berhaji bukan sekadar berziarah dan beribadah, tetapi juga cara untuk mengamini perbedaan, membuka pikiran, dan menguatkan mental. Menyadari bahwa manusia adalah kecil, dan banyak hal berada di luar kuasa kita.

Berhaji adalah melakukan perjalanan.

Travel, melakukan perjalanan, mungkin terdengar tidak suci. Namun sejak mempersiapkan keberangkatan ibu, aku menjadi semakin percaya bahwa inti dari ibadah ini adalah melakukan perjalanan. Toh, banyak juga bukan saat di mana Nabi meminta umatnya untuk hijrah, berpindah tempat, melakukan perjalanan.

Kupikir beribadah dengan melakukan perjalanan adalah ide yang luar biasa. Manusia perlu melakukan perjalanan, menemukan hal-hal baru, melihat dunia baru, bersinggungan dengan kultur baru. Maka kita memahami betul keanekaragaman bukan sekadar dari buku pelajaran, tetapi mengalami sendiri. 

Lalu, dalam konteks agama, si pemercaya agama akan semakin beriman kepada Tuhannya setelah mengalami sendiri kejaiaban perbedaan pada ciptaan-ciptaanNya. Maka manusia yang memahami betul inti keanekaragaman, kupikir seharusnya menjadi lebih bijak. Sehingga diharapkan mereka yang melakukan perjalanan ibadah ini akan menjadi lebih bijak dan rendah hati.

Melakukan perjalanan panjang lagi jauh, ke tempat baru, yang bahasa dan budayanya berbeda, bukanlah sekadar persoalan mempersiapkan tempat tinggal dan rute perjalanan, tetapi soal mental.

Ibu senewen sebelum berangkat. Dia gelisah. Tak hanya Ibu, aku pun senewen dan gelisah, mengkhawatirkan Ibu. Aku tak tahu apa yang ada di pikiran Ibu, namun sebelum berangkat dia berulang kali minta didoakan, juga meminta maaf, kalau-kalau tak sempat bertemu lagi. Kupikir kekhawatiran ibu bisa dibagi menjadi dua hal besar: meninggalkan anak-anaknya yang masih kecil selama 40 hari, dan kekhawatiran menemukan hambatan dalam perjalanan.

Ibu tak pernah berpergian sebegitu jauh sendirian, bahkan rasanya ibu tak pernah ke luar negeri. Perjalanan terjauh dan terlama yang Ibu lakukan adalah ke Fak-fak, Papua Barat, selama hampir 2 bulan, itu pun bersama ayah. Ibu tak bisa berbahasa Arab, dan meski terlihat sehat, namun secara fisik selalu saja ada keluhan. Mungkin karena usianya sudah 50-an.

Padahal perjalanan selama 40 hari ini akan menuju negara yang memiliki perbedaan waktu, perbedaan budaya, dan perbedaan iklim. Belum lagi perjalanan kaki yang cukup jauh, serta berbagai ritual yang harus dilakukan. 

Ini yang kumaksud dengan perjalanan adalah terutama persoalan mental, di luar persoalan kemampuan fisik dan materi. Jika tak memiliki kekuatan mental yang baik, Ibu pasti sudah mundur. Dalam persoalan mental adalah keinginan dan target-target. Mempersiapkan perjalanan membantu kita memformulasikan keinginan dan target-target.

Sejak menyatakan ingin naik haji, ibu mulai fokus dan memformulasikan keinginannya. Apa-apa saja yang ingin dilakukan, tempat-tempat mana saja yang ingin di ziarahi, dan bagaimana mencapainya. DImulailah perjalanan awal dari berhaji: mengumpulkan niat, menyisihkan uang, dan menjaga kesehatan.

Sisi lain dari mempersiapkan perjalanan adalah kita menjadi semakin menyadari, dan banyak berterima kasih pada tubuh kita.

Ibu tak pernah terlalu peduli pada kesehatan tubuhnya, padahal ia sering mengeluh sakit. Hingga pada suatu waktu Ibu mengalami amnesia sebagian dan sementara. Meski berulang kali memeriksa dan menjadi lebih peduli terhadap kesehatan, itu pun tak membuat Ibu beralih ke pola hidup sehat. 

Hingga akhirnya Ibu memutuskan naik haji, dia pun jadi lebih peduli pada tubuhnya. Menurut pengakuan Ibu, dia jadi sering lari pagi, dan mengikuti senam jantung, agar siap menempuh perjalanan nanti.

Tadinya aku bergitu khawatir. Ibu yang tidak terlalu kuat secara fisik, dan tak pernah menempuh perjalanan begitu jauh pula begitu panjang, akan berada begitu jauh dan begitu lama, sendirian.

Namun, saat calon jemaah haji melambai-lambai dan terisak meninggalkan keluarganya, Ibu lah satu-satunya yang terlihat riang gembira. Seluruh beban kehilangan ayah selagi bayi, dan kehilangan suami selagi muda, lalu mengurus lima anak sendirian, kesulitan merogoh-rogoh saku mencari uang, seperti menguap. Wajah ibu sore itu, adalah wajah Ibu yang paling bahagia yang pernah kulihat. 

Salah satu cita-cita ibu akan tercapai, sejengkal lagi. Ibu akan naik haji dengan riang gembira. Meski gagal berangkat haji dengan ayah,  aku tahu, tak perlu lagi khawatir. Tuhan yang Ibu percaya akan menyambut ibu di rumahNya.

Comments

  1. Love this!!!!! Semoga ibu dan bapak aku bisa melakukan perjalanan yang sama juga nanti...amin ^^

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular posts from this blog

Karena usia cuma deretan angka-angka!

Aku tumbuh sembari membenci payudara

keterbiasaan pada pelecehan seksual