Selamat pagi, malam!

SPOILER ALERT

Jalanan Jakarta berubah romantis saat malam tiba, begitu kata Seno Gumira.

Kota ini, meski di bawah naungan Bhinneka Tunggal Ika atas nama Indonesia dan mengakui setidaknya lima agama, rasanya seperti dimiliki satu agama saja. Corong-corong masjid bergantian masuk hingga ke ruang privat, di antara doa Cik Surya di hadap altar suaminya, juga di antara kemarahan saat menemukan nomor perempuan lain di dompet sang suami. 

Cik Surya belingsatan, terobsesi pada perempuan yang menjawab panggilan dari nomor telepon selular suaminya dengan “Ya sayang… Sayang?” 

Adzan yang sama juga masuk ke kamar Gia, saat dia menimbang-nimbang untuk menghubungi Naomi. Gia baru pulang dari New York, tidak bisa minum air keran, dan tidak bisa jalan kaki dengan tenang di trotoar. Gia rindu Naomi. Di ujung sana, Naomi yang kini bertransformasi menjadi mbak-mbak kelas menengah pesolek sedang kesal karena ada yang mencuri sepatunya dari lemari di pusat kebugaran.

Sepatu hijau Naomi sudah nangkring cantik di kaki Indri. Indri sedang sibuk membayangkan makan daging impor di tempat yang resepsionisnya melulu berbicara bahasa inggris, dengan pria tampan pun mapan. Masa depan sudah di tangan. 

Plot pembuka Selamat Pagi Malam sungguh menjanjikan, pun mewakili semua kritikan(ku) tentang Jakarta, kota kejam penuh cinta. 

Kemudian Jakarta diceritakan melalui Indri yang mendapat pelecehan verbal dari tukang ojek, Gia yang diusir dari Skye (eh, bukan ya? Ahahahahah), dan Cik Surya yang gelisah memperhatikan pria paruh baya menghamburkan uang ke payudara penyanyi muda. 

Asik betul Lucky Kuswandi membangun cerita, mengritik tanpa menjadi sok benar, memberi tahu tanpa menggurui. 

Sayangnya, mungkin karena terlalu asik membangun cerita di awal, Selamat Pagi Malam jadi semacam terlalu matang di depan, agak mentah pada menuju akhir. Terutama pada kisah Indri. 

Ide Indri berhubungan seksual dengan orang yang baru dikenal sungguhnya menarik, dan pada titik tertentu pasti banyak terjadi. Namun ada yang tak kuat mulai dari kisah kerak telor hingga akhirnya pecah telor. 

Bisa jadi memang begitu sikap kelompok dewasa muda di Jakarta masa kini. Kadang berhubungan seksual ya cuma karena nggak enak saja lantaran sudah terlanjur berduaan. Pada cerita ini terkesan cuma untuk mengamini adagium kalau pistol sudah muncul pada sebuah cerita, harus ada yang menarik pelatuknya. Semacam itulah. 

Kisah Cik Surya adalah favoritku. Sedih, marah, gelisah, dan dendam seperti menguap dari wajah datarnya. 

Sayang Lucky membuat penampilan Dira Sugandi pada bagian Cik Surya ini menjadi agak mubazir dan tidak signifikan. Untung saja penutup cerita ini mantap betul, mulai dari penulisan nama Cik Surya menjadi Sara hingga lantunan selamat jalan sayang, rindukanlah diriku...

Kupikir ini kekuatan Selamat Pagi, Malam, detil. Detil-detil pada film ini sederhana, namun nyata dan kritis, pun begitu dalam. 

Meski aku menjagokan Cik Surya, akan tetapi cerita Gia dan Naomi tampak lebih matang dibanding dua kisah lainnya. Andinia Wirasti menunjukan adu peran yang keren seperti biasa, tapi betul-betul seperti biasa. Karakter yang dia mainkan semacam begitu lagi begitu lagi. 

Ketiga cerita tersebut seolah disatukan oleh obsesi pada kebahagiaan. Indri kira dia akan bahagia kalau punya harta. Gia berharap bahagia kalau bertemu Naomi, sedang Naomi pikir dia akan bahagia kalau bisa eksis di belantara Jakarta. Sementara Cik Surya membayangkan kebahagiaan datang dari luapan amarah melalui pembalasan dendam dan gelisah.

Terlepas dari semua itu, ini adalah film bagus yang harus diapresiasi. Satu dari sedikit film Indonesia yang betul-betul menggigit dan menampilkan Jakarta apa adanya.

Jakarta memang memiliki bahaya kesepian dan keterasingan yang laten, jika tak berjaga-jaga, sebentar saja manusia di dalamnya bisa tenggelam dalam obsesi mengenai kebahagiaan. Seperti keempat perempuan tokoh Selamat Pagi, Malam yang digambarkan begitu terobsesi pada kebahagiaan, melalui romantisisme masa lalu, uang dan benda-benda, eksistensialisme, hingga disiplin diri. 

Apakah mereka bahagia pada akhirnya? 

Ah, memangnya kita harus bahagia? 
Bahagia itu apa?


Selamat Pagi, Malam
Sutradara dan penulis naskah: Lucky Kuswandi
Produksi: Kepompong Gendut and Soda Machine Films





PS: Satu hal yang paling tidak aku suka dari film ini adalah undangan menonton film dari pihak Selamat Pagi Malam. Pada akhir surel mereka mengatakan hal semacam kalau tidak mau perfilman Indonesia tidak cuma diisi oleh bule yang bikin film kung fu, maka kita harus menonton film ini. Duh, ga bisa ya promosi dengan cara lebih positif? Pertama, The Raid itu dikerjain sama banyak orang Indonesia juga kan? Dua, itu film SILAT ya, SILAT wei, bukan kung fu! Tiga, aku penggemar The Raid loh, apa salahnya kalau ada bule yang peduli sama silat dan berhasil taro silat di bioskop dengan koregrafi ciamik. Toh ga ada orang Indonesia yang ngerjain juga.

Comments

  1. Setuju, Rika! Kalau meminjam kata-kata editorku dulu, ibarat seorang pemilik restoran yang berhasil memancing pelanggan dengan aroma masakan yang begitu lezat, tetapi ketika kita masuk rupanya porsinya seiprt. Kurang nendang aja dan kita pun masih kelaparan.

    Akting Adinia Wirasti masih luar biasa seperti biasa tetapi oh say sepertinya dari zaman AADC ke Tentang Dia terus sekarang karakter-karakternya mirip semua. Indri itu awalnya bagus banget tetapi akhirnya cenderung klise. He he.

    Tapi keseluruhan film ini okelah. Potret Jakartanya dapet banget. Enggak heran dipuja-puji di festival-festival luaran sana. Bukan berarti kita enggak boleh kritisi kan ya?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, ini film bagus. Tapi jadi kayak Jokowi, kalo kita kritik jadi agak khawatir diomel-omelin sama fanboy-nya. Haha

      Delete
  2. Replies
    1. masi ada di bioskop loh, gus! itu kalau kamu klik di tulisanku, di frasa selamat pagi, malam yang bawah, itu link ke jadwal tayang.

      Delete

Post a Comment

Popular posts from this blog

First Travel dan betapa seksisnya media kita

Aku tumbuh sembari membenci payudara

keterbiasaan pada pelecehan seksual