Posts

Showing posts from July, 2014

mudik

aku tak bisa tidur seperti saat ayah pertama kali mengajak berlibur
besok pagi pegi sekali aku hendak mudik koperku sudah siap di bawa ke udik
"kau hendak mudik ke mana?" tanya ibu sambil merapikan kerah bajuku.
Aku hendak mudik, ke dalam sajak dan kenangan. Kalau bertemu ayah di sana, akan kukatakan Ibu menitip salam.

takbir ramah, bukan takbir marah

ayah hujan

seharian aku mencari-cari ayah
berkelana ke penjuru rumah

rupanya ayah sedang mengumpulkan hujan
yang tumbuh di pekarangan

ayah memasukan tiap tetes hujan ke dalam cangkir
yang mendidih dan mengalir banjir

bila hujan reda
keranda ayah menyala

dan hatiku yang terlalu penuh
menggigil dari jauh

Selamat pagi, malam!

Image
SPOILER ALERT
Jalanan Jakarta berubah romantis saat malam tiba, begitu kata Seno Gumira.

Kota ini, meski di bawah naungan Bhinneka Tunggal Ika atas nama Indonesia dan mengakui setidaknya lima agama, rasanya seperti dimiliki satu agama saja. Corong-corong masjid bergantian masuk hingga ke ruang privat, di antara doa Cik Surya di hadap altar suaminya, juga di antara kemarahan saat menemukan nomor perempuan lain di dompet sang suami. 
Cik Surya belingsatan, terobsesi pada perempuan yang menjawab panggilan dari nomor telepon selular suaminya dengan “Ya sayang… Sayang?” 
Adzan yang sama juga masuk ke kamar Gia, saat dia menimbang-nimbang untuk menghubungi Naomi. Gia baru pulang dari New York, tidak bisa minum air keran, dan tidak bisa jalan kaki dengan tenang di trotoar. Gia rindu Naomi. Di ujung sana, Naomi yang kini bertransformasi menjadi mbak-mbak kelas menengah pesolek sedang kesal karena ada yang mencuri sepatunya dari lemari di pusat kebugaran.
Sepatu hijau Naomi sudah nangkring can…