Digdaya Ing Bebaya

Tanaman Pegagan tumbuh subur setelah letusan Merapi. Aku tak pernah tahu Pegagan, dan tidak tertarik pula pada Pegagan. Tiga orang Simbah pencari Pegagan di sekitar Kali Kuning, Sleman, jauh lebih menarik dari Pegagan itu sendiri.

Adalah Mas BW (BW Purba Negara) yang menceritakan perihal ketiga Simbah (nenek) jenaka tersebut. BW mengikuti ketiganya selama beberapa hari untuk mencari Pegagan. Hasilnya adalah Digdaya Ing Bebaya yang kalau kuartikan dengan kemampuan berbahasa jawa yanga apa adanya ini berarti Agung nan Berbahaya. Namun dalam bahasa Inggris, film ini dijuduli The Dancing Leave.

Digdaya Ing Bebaya segera saja menjadi salah satu film dokumenter paling tidak membosankan yang pernah aku tonton.Tak ada wawancara, tanya jawab, atau penggalian informasi dengan cara formal layaknya dokumenter-dokumenter National Geographic. Dia lebih mirip dengan Jalanan, jenaka, apa adanya, tidak menggurui.

Hanya saja, keriangan dan canda yang dihadirkan Mas BW lebih ndeso, kelucuan sederhana yang menggelitik ke perut, sampai bikin tertawa tanpa suara, tertawa sampai keluar air mata. Rasa lucu yang membuat haru, membuat rindu.

Ketiga Simbah yang belum sempat kuketahui namanya adalah potret kekereskepalaan masyarakat Sleman yang enggan direlokasi. Mereka bertahan pada lereng-lereng Merapi yang Indah, juga mematikan.

Bagiku yang tak punya tanah tumpah darah, berpindah-pindah adalah hal yang biasa. Aneh rasanya kalau 5 tahun berada di tempat yang sama, seperti tak ada kemajuan. Namun bagi banyak orang lain, tanah kelahiran adalah identitas mereka. Kehilangan harta tiadalah seberapanya kehilangan identitas. Bagaimana bisa seseorang hidup tenang di usia senja apabila tercerabut dari identitasnya?

Digdaya Ing Bebaya adalah romantisme identitas sosial dan kategorisasi diri yang digambarkan begitu sederhana oleh tiga sekawan yang naik turun lereng gunung, memilih dan memanggul dedaunan. Sesederhana pemahaman mereka soal kebijakan pemerintah: Kalau mengikuti pemerintah mereka hanya akan mendapat sebidang tanah kecil, dan harus bekerja untuk orang lain; tidak bisa leyeh-leyeh di halaman rumah sendiri, dan makan dari hasil kebun yang tumbuh oleh tangan sendiri. Semacam semangat DIY yang paling nyata.


Ingin mengetahui lebih lanjut soal film ini?
@bewe_bw adalah sutradara dari Digdaya Ing Bebaya
dan @mamad_anggoro adalah editornya.
Sila menghubungi mereka ^__^

Comments

Popular posts from this blog

Karena usia cuma deretan angka-angka!

Aku tumbuh sembari membenci payudara

keterbiasaan pada pelecehan seksual