Posts

Showing posts from May, 2014

Matahari

Langit baru berisi semburat, burung gereja belum bergegas mencari betina. Jangankan tukang bubur, matahari saja belum muncul. Namun, aku yakin Ibu sudah hampir menyelesaikan sarapan super sehatnya: susu kedelai hangat tanpa gula, dan muesli yang dicampur madu.

“Matahari, kemarin Ibu lihat kamu nggak rapi baju kerjanya. Untuk hari ini Ibu sudah pilihkan buat kamu. Pakai yang digantung di pintu lemari kamu. Jangan sampe baru seminggu kerja uda malu-maluin Ibu.”

Kubiarkan gema perintah Ibu menguap, sampai hening, sampai cericip burung kembali terdengar. Tak ada gunanya menjawab, lebih baik melanjut tidur barang 5 menit—10 menit. Lumayan.

“Kamu ga mau turun cium pipi Ibu?”

Sekarang Ibu pasti sudah menyesap tetes terakhir susu kedelainya, memastikan gincu dan rambut tertata baik, menggamit tas besar berisi komputer jinjing, berkas-berkas, dan entah apa lagi.

“Matahari!”

Demi teriakan tertahan Ibu, tak satu pun mahluk yang berani-beraninya sekadar mengerjap, otakku tahu betul kalau wajahku …

Digdaya Ing Bebaya

Image
Tanaman Pegagan tumbuh subur setelah letusan Merapi. Aku tak pernah tahu Pegagan, dan tidak tertarik pula pada Pegagan. Tiga orang Simbah pencari Pegagan di sekitar Kali Kuning, Sleman, jauh lebih menarik dari Pegagan itu sendiri.

Adalah Mas BW (BW Purba Negara) yang menceritakan perihal ketiga Simbah (nenek) jenaka tersebut. BW mengikuti ketiganya selama beberapa hari untuk mencari Pegagan. Hasilnya adalah Digdaya Ing Bebaya yang kalau kuartikan dengan kemampuan berbahasa jawa yanga apa adanya ini berarti Agung nan Berbahaya. Namun dalam bahasa Inggris, film ini dijuduli The Dancing Leave.

Digdaya Ing Bebaya segera saja menjadi salah satu film dokumenter paling tidak membosankan yang pernah aku tonton.Tak ada wawancara, tanya jawab, atau penggalian informasi dengan cara formal layaknya dokumenter-dokumenter National Geographic. Dia lebih mirip dengan Jalanan, jenaka, apa adanya, tidak menggurui.

Hanya saja, keriangan dan canda yang dihadirkan Mas BW lebih ndeso, kelucuan sederhana ya…

(Bukan) Negara Pasar Malam

Indonesia menuju 70 tahun begitu riuh. Seperti pasar malam, gemerlap dan gelap berdampingan, gegap gempita, kecewa, harapan, kesedihan, dan kemeriahan bercampur baur.
Hutan-hutan beton riuh berdiri, menggantikan hutan surga tropis yang tinggal 48% saja, padahal 50 tahun yang lalu 82% wilayah Indonesia masih tertutup hutan[1]. Asap-asap karbon hitam kebakaran gegap menggantikan oksigen dan udara bersih.
Indonesia menuju pemilihan presiden langsung ketiga sejak reformasi, riuh dengan warna-warni pasar malam. Merah, hijau, hitam, kuning, biru berjejal memenuhi pandang.
Seperti merahnya darah mamalia laut yang terbunuh lantaran penangkapan ikan berlebihan. Seperti  hijaunya kebun sawit yang menggusur hutan-hutan, seperti pekatnya hitam asap energi kotor batu bara yang menyesakan dan menghilangkan mata pencaharian ribuan petani. Juga seperti kuning dan biru limbah yang keluar dari pipa-pipa pabrik, yang bermuara pada sungai yang menjadi tumpuan air bersih Ibu Kota.
Laiknya bandar judi d…

Cows

I like you.

Why?
Hmmm... I don't know, should I need a reason?
I don't know.
I like you because you are a nice person, also you bring me my first pill, you go to cool party, have weed, show me the fun in around kota. Haha... that doesn't sounds like a sustainable kind of like. I don't know why I like you, but I like you so much. As much as all the cows in the world!
Cows?
Yeah, cows!
Why cows?
Because it's a lot and everywhere! Well, I could say I love you as much as cats in the world, but cats is a lazy and hey-look-at-me-I'm-beautiful-so-you-should-take-care-of-me kind of animal. While cows is an independent animal. In Indonesia cows could get survive without anything really, you just let them find grass in the field. Cows are also very useful, I don't eat cows, but people eat cows and use cows skin since thousands years ago. and cows could be fluffy and cute as well, I know a person who pet cow. He said he take care of his cow's hair more than his own ha…