Tolong, pernikahan saya dalam masalah!


Meg Jay dalam sebuah Ted Talks pernah berkata, usaha untuk menciptakan pernikahan yang baik harus dimulai sebelum pernikahan itu terjadi.

Saya memang belum menikah, meski selalu menginginkan berada dalam hubungan yang stabil, tetapi belum juga memikirkan pernikahan dalam waktu dekat. Maka, sebetulnya, tak pantas bicara masalah-masalah dalam pernikahan.

Namun, dalam seminggu terakhir, lebih dari setengah lusin kawan tiba-tiba meminta pendapat terkait persoalan-persoalan dalam pernikahan mereka. Sebagian tampak sepele, sebagian lain begitu genting. Saya hanya bisa manggut-manggut mendengarkan. 

Entah dalam budaya lain, di Indonesia, terutama bagi perempuan, usia dua-puluhan, belum menikah, apalagi tak ada tanda-tanda segera punya pacar, adalah sebuah ketidakpatuhan sosial. Usia dua-puluhan dan tidak berpasangan adalah menyalahi ekspektasi masyarakat.

Masyarakat tidak peduli seberapa bahagia, atau tidak bahagianya si dua-puluhan yang dituding itu.

Bukan seperti Meg Jay, saya bukan ahli psikologi dua-puluhan. Juga bukan ahli pernikahan. Bahkan tak paham kenapa teman-teman datang dan mencari solusi kepada saya. Manusia yang lebih sering tak sepakat dengan konsep pernikahan a la budaya di tempat lahir dan tumbuh ini.

Dalam beberapa sesi “konsultasi” pernikahan ini, akhirnya saya cuma bisa mengangguk-angguk, berdecak, dan berkata: duh, susah juga ya.


Tekanan Sosial

Dua-puluhan awal bukanlah masa yang menyebalkan. Sebaliknya, hingga menjadi 25, kehidupan sungguh menarik, penuh hal konyol, dan keputusan-keputusan spontan. Namun ketika 3 bulan belakangan merasakan menjadi 26 (baca: usia dua-puluhan akhir), tekanan sosial tak lagi menyapa dengan malu-malu.

Sudah kredit rumah atau belum, punya kendaraan atau tidak, punya tabungan atau tidak, apa pekerjaan saat ini, bagaimana jenjang karir, berat badan ideal, perawatan di salon mana, ditambah  kapan menikah, cuma sebagian kecil dari hiruk pikuk ekspektasi lingkungan sosial kepada perempuan lajang dua-puluhan akhir.

Menikah, sering kali dianggap jawaban dari segala karut marut ekspektasi itu. Belum lagi anggapan umum melihat pernikahan sebagai kewajiban, satu-satunya pilihan, dan tanggung jawab orang tua untuk menikahkan anaknya.

Kalau orang tua meninggal dan si anak belum menikah, tetangga akan berbisik: duh kasihan, padahal anaknya belum nikah. Kalau si anak menikah dan orang tua sudah tak ada, tetangga akan bilang: duh, kasihan, wali-nya sudah tak ada. Kalau orang tua sakit parah, atau semakin menua, tetangga akan bergunjing: itu anak perempuannya sudah tahu ayahnya sakit keras, tunggu apa lagi sih, kenapa belum nikah juga.

Begitu tinggi tekanan masyarakat agar kita mengikuti konsep "normal" pernikahan, sehingga begitu banyak  kritik yang bisa saya lontarkan terhadap konsep pernikahan "normal". Namun, apa yang bisa saya bilang kalau seseorang datang dan meminta nasihat pernikahan?

Sungguh saya tak mampu memberi nasihat apapun, tak sekali pun masalah tersebut bisa saya benturkan dengan pembicaraan tentang ideologi-ideologi, wacana, diskursus, atau teori-teori.

Akhirnya saya hanya bertanya satu hal untuk mulai mengurai benang kusut pernikahan di kepala mereka: kenapa kamu menikah?


Kenapa menikah?

Alih-alih menjawab, kebanyakan justru terdiam, menghela nafas, dan mengernyitkan dahi. Padahal sebagian pertanyaan mengenai pernikahan sepertinya sudah dijawab dengan mantap, apa, kapan, di mana, bagaimana, dengan siapa.

Namun bukan kenapa. Kenapa menikah?

Saat bertanya, tak sekalipun hendak mengejek, tak hendak berceramah mengenai pendapat-pendapat saya soal pernikahan. Melainkan sungguh-sungguh ingin tahu alasan mereka memutuskan untuk menikah. Apalagi, sebagian besar menikah dalam usia yang terlalu muda.

(Saya saat ini 26 tahun, dan masih merasa terlalu muda untuk menikah. Namun hal ini tentu tak bisa dijadikan patokan, karena menikaj adalah pilihan personal.)

Sebagian besar tak bisa menjawab pertanyaan kenapa menikah dengan kongkrit. Mungkin karena tak pernah memikirkan kenapa harus menikah, mungkin karena tak bisa merumuskan kenapa memilih menikah.

Kenapa menikah jauh berbeda dengan kenapa jatuh cinta. Cinta adalah persoalan di luar nalar, cinta itu berbanding terbalik dengan alasan-alasan logis. Namun pernikahan, sebagai proses pembentukan lembaga sosial, selalu membutuhkan alasan-alasan logis. Setidaknya bagi saya.

Saya berasumsi, bisa jadi sebagian kawan menikah tanpa kesadaran utuh, menyeluruh, mengenai definisi pernikahan itu sendiri. Definisi pernikahan tidaklah saklek, tiap-tiap pasangan boleh punya definisi sendiri, asal keduanya setuju, dan konsisten dalam definisi itu. Karena dalam lembaga itulah mereka diharapkan berbagi selamanya.

Selamanya adalah waktu yang sangat lama. Sebab itu dalam proses menuju selamanya, bagus juga kalau punya pijakan yang sama soal definisi, dan tujuan-tujuan, sehingga ketika ada persoalan kita bisa kembali lagi dalam tujuan-tujuan dan definisi, atau bisa me-redefinisi atau membuat tujuan-tujuan baru jika dirasa sudah usang.


Pernikahan sebagai Solusi

Pernikahan bukanlah pilihan yang mudah, sebab itu sangat mengkhawatirkan kalau pernikahan menjadi pilihan untuk menyelesaikan persoalan-persoalan lain dalam hidup. Mengerikan kalau pernikahan dilakukan karena ekspektasi sosial. 

Sejak kecil kita dipersiapkan untuk menikah, dengan perjalanan hidup begini: sekolah setidaknya sampai S1, bekerja, menikah, kredit rumah, punya anak, punya cucu, lalu mati dengan "sempurna".  Atau sekolah, bekerja, kredit rumah, menikah, punya anak, punya cucu, lalu mati. Tak ada pola lain.

Karena tak melihat pola lain, maka tak dianggap penting untuk memikirkan kenapa harus menikah. Menikah ya menikah saja, sudah dari sananya begitu, agama suruh begitu, semua orang juga begitu, kenapa harus ditanya-tanya.

Sebagian besar anak perempuan (mungkin juga laki-laki) menjadi begitu terobsesi pada pernikahan. Apalagi tak jarang pernikahan dilihat sebagai jalan keluar persolaan ekonomi. Tak sekali dua saudara-saudara atau teman menasehati: Kamu kan perempuan, tak perlu lah beli rumah sendiri, itu nanti tugas calon suami kamu.

Duh, asik betul, calon suami, sini dong beliin rumah.

Tekanan bahkan sampai ke level: menikah kemudian bercerai adalah lebih baik dari pada tidak pernah menikah sama sekali. Kalau tidak menikah siap-siap mendapat cap buruk sebagai perawan tua, padahal makna konotasi dari janda juga distereotipekan menajdi begitu buruk.


Jadi, Kenapa Menikah?

Memang terdengar konyol, tetapi sungguh pun tak ada yang bisa menjawab pertanyaan kenapa menikah dengan mantap. Sebagian besar akhirnya menyimpulkan sendiri bahwa pernikahan mereka terjadi lantaran tekanan sosial. Sungguh saya tak punya andil atas jawaban tersebut.

Tekanan sosial bisa bermacam-macam, ekspektasi orang tua lantaran mereka begitu menyukai si pacar, pacaran sudah bertahun-tahun lalu mau apa lagi, umur sudah mendekati tiga puluh, ingin menunjukan bisa mandiri dan lepas dari orang tua, mumpung orang tua masih ada, bahkan hingga ego heroisme laki-laki yang ingin “menyelamatkan” perempuan yang dipacarinya.

Maka pernikahan adalah jawaban atas segala tekanan sosial itu. Menyenangkan orang tua, menyenangkan masyarakat, menguatkan perekonomian (dengan pemasukan ganda), dapat sewaktu-waktu berhubungan seks (terutama karena sebagian besar masyarakat abai dan cenderung menolak fakta terhadap kasus perkosaan dalam pernikahan), dan ada tempat untuk saling bersandar.

Memang tak ada yang menjawab dengan kalimat: karena ingin menjadi lebih bahagia dari sebelumnya. Ini hanya kesimpulan saya, sepertinya mereka menikah karena merasa pernikahan akan memberi kebahagiaan, semacam membawa matahari di Jakarta yang mendung, hujan, dan banjir melulu.

Padahal, kebahagiaan kita tidak seharusnya menjadi tanggung jawab pernikahan, atau tanggung jawab orang lain, termasuk pasangan. Kebahagiaan kita adalah tanggung jawab kita sendiri. Sangat melelahkan kalau dalam sebuah hubungan salah seorang hanya ingin menerima kebahagiaan, dan lainnya bertugas menciptakan dan menyediakan kebahagiaan. 

Saya tak hendak bicara benar atau salah. Siapalah saya berhak menilai. Namun, apakah tidak berbahaya kalau melihat pernikahan sebagai akhir perjalanan yang membuat semua orang bahagia? Cinderella dan Snow White saja tidak bahagia selamanya dalam Shrek 2, masak kita boleh taken for granted dapat begitu saja berbahagia selamanya cuma karena menikah, dan tanpa usaha-usaha?

Tentu pernikahan bisa jadi membawa kebahagiaan, saya tak bisa menyangkal. Namun menikah adalah kata kerja yang dilakukan oleh dua orang secara setara. Kebahagiaan dalam pernikahan adalah tanggung jawab keduanya secara setara.

Seperti kata Meg Jay, pernikahan yang berhasil, harus mulai diciptakan sebelum menikah. Bahkan mungkin sebelum punya pacar. Apa yang membuat kita bahagia, dan lebih bahagia, apa yang sesungguhnya kita inginkan, bagaimana kita mendefinisi hidup, termasuk mendefinisi pernikahan. 

Karena menikah adalah hal paling benar yang dapat dilakukan oleh mereka yang percaya dengan kesadaran penuh bahwa pernikahan adalah yang paling benar. Tidak menikah juga hal paling benar yang dapat dilakukan oleh mereka yang percaya dengan kesadaran penuh untuk tidak menikah.


Baca juga:

Masyarakat yang terobsesi pada kebahagiaan

Comments

  1. Secara kebetulan aq mengalami hal yang sama dengan kamu. Pagi ini aku mendapati notifikasi subscribe blog kamu yang memposting tulisan ini. Izin menyertakannya di blog aku :)

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular posts from this blog

Karena usia cuma deretan angka-angka!

Aku tumbuh sembari membenci payudara

keterbiasaan pada pelecehan seksual