Posts

Showing posts from February, 2014

penyelaman-malam pertama!

Selalu ada yang pertama untuk segala-galanya, akhir pekan ini penyelaman-malam pertama.

Penyelaman malam terasa lebih syahdu, kalau tidak ada gerombolan bule dengan puluhan senter super terang, dan terus menerus membuat bunyi-bungian "teng teng teng teng". Membuat siapapun yang berada di sekitarnya seperti sedang diambil gambar untuk film, atau minimal acara reality show.
Namun, sungguh penyelaman malam itu lebih syahdu, walaupun bule-bule itu agak mengganggu kesyahduan (tetep). 
Karena ini adalah penyelaman malam pertama, dan belum pernah mengambil sertifikasi penyelam lanjutan (advance), maka aku melakukannya di tempat yang sudah dikenal: USAT Liberty Ship Wreck. Tahun lalu menyelam beberapa kali di tempat yang sama, juga melakukan sertifikasi wreck dive specialization di bangkai kapal Amerika yang ditorpedo Jepang ini . Kupikir kalau sudah mengenal tempatnya mungkin dapat mengurangi deg-degan.
Deg-degan hanya terasa dipermukaan. Begitu masuk ke dalam, rasa berdebar mungki…

patch

Sexual harassment

Bapak Taksi: Kalau minggu gini sepi neng, kalau hari kerja kan rame orang yang ke kantor.

Aku: Iya sih pak, terus jadi macet soalnya rame orang ke kantor ya. Haha...

Bapak Taksi: Ya gitu deh neng, serba salah.

Aku: Aku sih sebenernya lebih suka jalan pak, tapi di Jakarta sih ga bisa jalan kaki, trotoarnya bolong-bolong, atau dipake yang jualan. Belum lagi yang suit-suit di pinggir jalan. Ngajak berantem banget.

Bapak Taksi: Emang kenapa neng?

Aku: Ya kan kita jadi merasa ga aman kalo jalan, pak. Digangguin sepanjang jalan. Ngajak berantem banget.

Bapak Taksi: Tapi maaf ni ya neng, kan kalau ga cantik, atau ga seksi, ga bakalan disuitin. Artinya kalau disuitin bukannya seneng ya neng? Artinya cantik, atau seksi.

Aku: Tapi itu namanya pengobjekan, Pak. Kalau bapak liat perempuan itu sama-sama manusia yang punya perasaan juga sama bapak, bukan benda mati, bapak ga bakal gangguin juga kan?

Bapak Taksi: Iya juga ya, tapi kan kalau cantik orang pasti mau komentar.

Aku: Kalau anak perempuan …

Jalanan Jakarta

Jalanan Jakarta memang bukan untuk pejalan kaki, melainkan untuk pendaki. Aku kesulitan menemukan padanan kata dalam Bahasa Indonesia, maksudnya adalah jalanan Jakarta tidaklah pantas digunakan untuk walking, melainkan hiking.

Mendaki trotoar yang tetiba menjadi lebih tinggi akibat bekas galian kabel yang asal-asalan, meloncati lubang menganga yang tetiba muncul, menerobos pedagang tanaman hias yang mengambil 90% bahu jalan, atau menghindari pengendara roda dua yang terbelakang, sehingga kesulitan membedakan tempat kendaraan bermotor dan pejalan kaki.

Pendakian tersebut belum menghitung jumlah tukang ojek atau tukang parkir yang entah sejak kapan melegitimasi trotoar menjadi parkiran motor (juga terkadang mobil), pedagang gorengan--atau pedagang apapun, tiang-tiang yang begitu saja muncul di tengah jalan, pot-pot kembang seukuran manusia, galian kabel--atau pipa, atau apa saja--yang masih dalam proses pengerjaan, bahkan juga mobil polisi yang entah kenapa memilih parkir di tempat peja…