kritis


Kemarin aku menemukan tulisan yang dengan penuh menuduh sekaligus berusaha mencari pembenaran mengenai kenapa mahasiswa sekarang melulu peduli pada nilai IPK dan tidak lagi kritis.

Tuduhan pertama dari tulisan itu adalah mahasiswa dibuat terlalu fokus pada tujuan akademik dan cenderung lulus sebelum 4 tahun, dipagari isi kepalanya agar tak lagi kritis, dibuat tak lagi punya libido berorganisasi, hingga akhirnya menjadi tak kritis.

Tuduhan kedua adalah konspirasi asing. Menurutnya asing sengaja membuat mahasiswa menjadi tidak kritis agar mendapat tenaga kerja murah, lagi tak kritis. Karena 5 tahun—10 tahun ke depan mahasiswa-mahasiswa inilah yang akan memimpin Indonesia. Lalu dia juga menuduh lembaga tanggung jawab sosial perusahaan dan organisasi lingkungan menunggangi dana-dana luar negeri untuk membodohi mahasiswa agar menjadi kacung di tanah kelahirannya sendiri.

Tuduhan terakhir, mahasiswa semacam dibuat untuk suka baca buku saja, lalu onani intelektual.

Sewaktu mahasiswa, aku bukan mahasiswa yang rajin masuk kelas, apalagi mahasiswa yang lulus cumlaude. Bukan mahasiswa yang membaca Das Capital atau membaca Thus Spoke Zarathustra sampai khatam. Susah cuy.

Sebagai mahasiswa pilih-pilih, bolos adalah pilihan rasional pada mata kuliah dosen-dosen yang tidak disuka. Lebih enakan tidur di sekretariat, atau main-main di gelanggang. Capoeira juga pilihan tepat kalau lagi nggak ngerujak di lembaga nirlaba tempat menjadi relawan.

Namun aku juga tidak masuk golongan mahasiswa kritis yang disebut di tulisan itu. Ga pernah bikin gerakan sosial, dan sebenernya ga paham dengan definisi garakan sosial yang dia maksud di tulisan itu. Apalagi bikin gerakan sosial di twitter. Waktu kuliah, karena suka baca buku dan masih suka masuk kelas tertentu, cuma sempat ngajar bahasa inggris untuk anak-anak jalanan di prambanan, yang alamak capeknya kalau naik motor dari kosan.

Iya bahasa inggris, menurut tulisan itu jangan-jangan aku ini termasuk antek asing. Soalnya lagi, satu-satunya sepatu yang sering dipakai saat itu adalah Reebok, yang dibikin sama buruh-buruh yang dibayar tak seberapa di Tangerang, lalu limbahnya mengotori Cisadane, dan merugikan penduduk sekitar.

Mungkin si penulis saat ini memakai baju tenunan suku Badui dan sandal dari kulit pohon pisang, karena tidak mau dibodoh-bodohin dan diporotin hartanya sama asing. Tidak pakai sampo, sabun, karena unilever itu asing juga loh. Beras kita juga asing, berasal dari subsidi pemerintah Thailand yang maju betul kebijakan taninya, yang saat ini sedang didemo kelas menengah di negaranya.

Oya, kembali ke tulisan. Katanya sistem pendidikan saat ini membuat mahasiswa tidak bisa berorganisasi. Sama dong sama orde baru, ga cuma mahasiswa, sistem negara pada saat itu memberangus hak bersuara, sistem pendidikan dibuat agar mahasiswa bungkam. 

Ibu pernah bercerita dia dibuat tidak naik kelas karena kakek adalah pendukung PPP, sedangkan di sekolah negeri pada masa itu sudah sepantasnyalah menajdi Golkar sejati. Ya semacam itulah.

Waktu SD bayangan di kepala tentang mahasiswa adalah kakak-kakak pintar dengan energi luar biasa untuk menciptakan aksi protes besar. Lalu aku sadar, aksi protes bukanlah aksi main-main dan sok pahlawan-pahlawanan. Butuh riset panjang, tekun membangun jejaring, serta diskusi mendalam.

Pada masa 90-an, corong-corong besuara dan membangun opini massa lewat media hampir tidak ada. Jangankan media nasional, media kampus saja bisa dibredel dan berlanjut dengan hilangnya pada penggiat, dalam satu kedipan mata. Media mana yang berani menulis. Media itu bisnis besar dengan modal sungguhan, rugi besar kalau dibredel. Maka corong-corong yang paling memungkinkan adalah aksi protes jalanan dan diskusi bawah tanah (biar keren gitu bilangnya bawah tanah). Zaman sekarang, menuduh-nuduh di kaskus saja sudah minta dibilang kritis.

Meski sistem pendidikan kita kampret, tapi kalau semata menyalahkan sistem pendidikan, ya kampret juga sih yang nyalahin. Sudah mahasiswa ah, sudah besar, lawan dong kalo memang ga bener. Bikin gerakan sosial. Tapi, sistem pendidikannya katanya yang bikin mahasiswa tidak mau melawan, lantaran membuat mahasiswa lembek. Cuma pikir bagaimana lulus cepat.

Tapi, apa juga salahnya kalau lulus cepat? Lalu kamu bisa sekolah lagi, atau bekerja. Tidak buang-buang waktu. Bukannya mengerikan ya kalau tiba-tiba kamu tersadar sudah hampir seperempat abad, dan masih S1 saja? 

Aku menyelesaikan perkuliahan saat usia 20, hampir 21. Tapi, sampai sekarang pun masih berpikir, andaikan lulus lebih cepat, maka aku bisa punya pengalaman 1 tahun lebih banyak dengan warna berbeda.

Sewaktu kuliah aku bukan golongan pintar yang ingin lulus cepat-cepat. Sampai akhirnya ayah sakit, perspektif berubah: harus lulus semester ini, supaya ga usah bayar kuliah lagi semester depan. Akhirnya bisa juga skripsi selesai dalam 4 bulan saja. Selesai semua semester itu, sambil juga kerja paruh waktu di lembaga nirlaba, dan kadang-kadang mengerjakan terjemahan. Tapi ayah terlanjur mati.

Meski bukan golongan kritis, aku lulus hampir 5 tahun, bukan kurang dari 4 tahun seperti orang-orang yang menurut tulisan itu tidak kritis. Tapi juga, apa salahnya kalau bisa lulus 4 tahun dengan nilai bagus? 

Dunia memang tidak adil, anak-anak muda di negara berkembang ini, tak punya banyak keleluasaan seperti anak-anak manja di negara maju, yang bisa sekenanya mau lulus kapan, atau tetiba mengganti perkuliahan, atau memilih tidak selesai. Beberapa anak muda di sana merasa tidak perlu berkomitmen, atau tidak perlu tanggung jawab lantaran tidak perlu bayar. Namun anak muda lainnya justru jadi lebih bertanggung jawab karena punya kebebasan memilih. Tentu tidak ada yang bisa dipukul rata.

Pemerintah di Indonesia kebanyakan korupsi, BHMN jadi hadiah kampus-kampus negeri jamannya Megawati. Sekarang bayar kuliah selangit. Yang punya duit banyak sih enak, bisa iseng aja berorganisasi tanpa peduli kapan lulus, yang duitnya pas-pasan, harus kejar target biar ga keluar uang lebih banyak.

Tapi, terlalu menghakimi juga rasanya kalau kemudian dicecar yang lulusnya lebih cepet itu lebih tidak kritis dari yang lulusnya lama. Yakin kamu lebih kritis dari anak pintar yang nilainya A semua itu? Coba cek, jangan-jangan saat kamu lagi rapat kebanyakan jargon di organisasi kampus, si anak yang nilainya A semua itu sedang bercerita soal bagaimana kapitalisme tidak butuh demokrasi di kolom opini Jakarta Post, atau Kompas. Protes ga harus turun ke jalan kan.

Sepakat ada sistem pendidikan yang tidak pas. Sejak SD kita diminta menghapal rumus matematika dan fisika, alih-alih belajar menggunakan logika. Sejak SD kita diajar agama sebagai nilai-nilai diatas kertas yang tak boleh ditanya-tanya. Kafir kamu kalau bertanya. Dan tak pernah diajarkan filsafat, tak pernah diajarkan bertanya.

Lalu, apakah banyak membaca itu salah?

Kamu yakin dengan sedikitnya referensi bacaan, kamu sudah kritis pada tempatnya? Jangan-jangan kamu skeptis dan hanya main tuduh saja, nanti tahu-tahu bilang bahwa Ibu kota Australia itu Sydney. Lalu bilang organisasi lingkungan itu pro kapitalisme.

Sudah menuduh transfer ilmu berdasar sistem pendidikan saat ini jelek, membaca juga dibilang salah. Lalu harus gimana sebaiknya?

Duh, sebelum menuduh dengan referensi terbatas (karena tidak suka menjadi mahasiswa yang disuruh baca buku doang), kamu tahu, kalau betul-betul organisasi-organisasi lingkungan itu berhasil menghentikan kerusakan lingkungan sampai ke akar, berbagai taipan dan konglomerasi yang ada saat inj bakal tunggang langgang, karena semua cetak biru kehidupan di bumi ini harus berubah, lantaran sejak penggunaan batu bara dan penemuan bohlam seluruh muka bumi ini terpapar energi kotor.

Dan sebelum kamu menyebut dan menuduh satu-dua organisasi punya agenda dari perusahaan asing, sudah meneliti dari mana asal pendanaan mereka dan bagaimana mereka beraksi? Apa betul organisasi yang disebut itu terima dana perusahaan, dan dana pemerintah?

Kamu yakin kamu cukup kritis kalau menulis tuduhan tanpa dasar yang jelas? Duh, kalau kamu wartawan, sudah dicerca editor semalaman!

Atau, kalau kamu tidak suka membaca, mungkin kamu minimal harus berjejaring lebih banyak. Supaya lebih banyak lihat kenyataan di lapangan.

Banyak betul teman-temanku yang pintarnya selangit, IPKnya hampir sempurna, rajinnya masuk kelas juga mengerjakan tugas, dan paling banyak bertanya di kelas. Tak lupa kritisnya minta ampun. Bahkan waktu kita masih kuliah saja, sudah ada yang menjadi kepala divisi di lembaga nirlaba yang kritis betul soal kesehatan reproduksi, dan isu perempuan, termasuk LGBTIQ. Salah satu lembaga yang menurutku paling rentan dapat ancaman (terutama dari ormas yang bawa-bawa nama agama dan sebangsanya), hingga selalu butuh orang-orang pemikir jernih, pekerja tangguh, dan punya banyak referensi bacaan, sekaligus jaringan

Kamu yakin kamu kritis? Kritis yang kamu maksud itu apa sih?

Baca dulu. Baca buku. Bukan baca internet.


Oya, ada video keren nih soal karbon dan ketergantungan pada bahan bakar kotor, lumayan komprehensif kaau tidak mau baca buku. Minimal paham dulu gitu gambaran sederhananya gimana hubungannya kapitalisme sama lingkungan sebelum mengritik.



PS: Aku bukan pekerja di perusahaan asing, juga bukan mahasiswa lulus cum laude, tapi target IPK 3 sih seharusnya masuk akal saja, dan bukan seolah-olah sesuatu yang menjadi beban seperti di tulisan itu. Sejak SD cuma punya dua cita-cita, jadi wartawan, atau bekerja di lembaga nirlaba. Aku tidak sedang membela sistem pendidikan yang kampret ini, juga tidak sedang membela mahasiswa yang cuma tahu jajan Burberry lalu kerja di perusahaan Papa. Aku cuma gemas aja ketika tulisan tersebut begitu menghakimi menyalahkan yang lulus cepat dan suka baca buku. Memangnya salah kalau punya IPK minimal 3,5?




Comments

Popular posts from this blog

First Travel dan betapa seksisnya media kita

Aku tumbuh sembari membenci payudara

keterbiasaan pada pelecehan seksual