Rak Buku


Kemarin, saat senja tiba, aku putuskan untuk menulis. Menurutku ide ini terdengar manis, di pinggir pantai aku menulis, saat sinar matahari tinggal segaris.

Kelapa muda sudah tiba, juga kertas dan pena. Sayangnya aku lupa bagaimana menulis dengan kertas dan pena. Tak lagi bisa menghubungkan mata pena dan mata kata. Padahal aku hanya ingin menyoal matahari, laut, rasa, dan hal-hal yang tak pernah selesai.

Kemarin dulu kau datang menemuiku. Katamu kau ingin membantuku, menggali dan mengeluarkan sakit sampai ke akar. Lalu kubilang aku ingin seperti hatimu, tak ada apapun yang berakar di sana.

Ah, aku tak mau mengingat-ingat lagi. Maka kubaca Murakami. Entah Murakami keberapa yang kubaca ini. Kau tahu, Murakami adalah obat patah hati, dan aku tak mau mendebatkan hal ini. Tak ada alasan-alasan khusus. Asalkan Murakami, terobati saja patah hati.

Namun tidak kali ini.

Dua hari lalu instruktur vinyasa merekomendasikan Il Pirata, pizza yang disajikan di taman kecil tersembunyi, dengan tungku batu, dan seorang pria Italia yang sama panas dengan tungku di depannya.

Pizza dan bir dingin selalu jadi makan malam penawar kesedihan. Begitu biasanya. Setidaknya begitu yang pernah kita sepakati.

Sayangnya, tidak untuk kali ini.

Saat aku putuskan untuk membungkus sisa pizza dan kembali ke kamar kayu di ujung desa, seorang pria menyapa. Lalu kami terlibat dalam percakapan kecil remeh-temeh. Dia bilang dia baru selesai membaca Wild Sheep Chase, kini dia baru mulai membaca sesuatu yang aku lupa judul maupun pengarangnya.

Kami membaca banyak buku yang sama, dan menyukai beberapa buku yang sama, salah duanya Hard Boiled Wonderland and The End of The World, juga Kreutzer Sonata. 

Percakapan kami terhenti saat ia mengalihkan pembicaraan dan mengajakku menonton di bioskop pinggir pantai, 9.45 malam nanti film yang diputar adalah Pulp Fiction.

Dan untuk pertama kali aku tidak tertarik pada pria dengan rak buku macam apapun.

Maka kuputuskan untuk pulang saja. Kukatakan pada pria yang sudah kulupa namanya itu; ada matahari pagi yang ingin kutangkap, dilanjutkan dengan kelas Shadow Yoga, mungkin kali lain saja. Kemudian aku cepat-cepat mengayuh sepeda, pura-pura tak tahu saat ia menanyakan nama penginapanku.

Ah, terlalu banyak pria-pria pirang di dunia. Kenapa bertahun-tahun tak ada orang Indonesia yang mengajak berkenalan, agar pada kencan berikutnya kami bisa membahas Putu Wijaya, Danarto, Djoko Pinurbo, atau Sapardi Djoko Damono. Lalu kencan lainnya lagi kami bisa mendengarkan Sudjiwo Tejo sambil menyumpahi Prabowo.

Pagi ini instruktur Shadow Yoga (aku tak berdusta pada pria di Il Pirata, sungguh mataku menyerap sinar pagi dan kulitku berkeringat pada setiap asana) mengingatkan agar aku merasakan jiwa pada tungkai dan kaki-kaki.

Maka aku tak lagi bisa berkonsentrasi pada asana. Aku terdistraksi pada jiwa kaki-kaki-ku. Lalu jiwa pada tangan-tangan. Juga jiwa pada wajah, kedua mata, bibir, leher, telinga, hidung, banyak jiwa memanggil-manggil.

Aku teringat, malam tadi aku mengayuh sepeda sambil bercakap dengan jiwa-jiwa pada mata, bertanya-tanya kenapa harus meninggalkan pria yang membaca buku yang sama.

Comments

Popular posts from this blog

First Travel dan betapa seksisnya media kita

Aku tumbuh sembari membenci payudara

keterbiasaan pada pelecehan seksual