aku masih mengenang-ngenangmu

Kau tahu, mereka sudah mengubah kursi-kursi di kedai kopi tempat kita dulu berkencan akhir pekan. Yah, sebut saja kencan, padahal aku sibuk menulis berita dan kau membaca laporan keuangan.

Kursi-kursi tinggi di sudut kiri sudah tidak ada lagi. Dulu di kursi itu seorang pria terus menerus memandang ke arahku. Akhirnya dia mengajak berkenalan, beberapa jam saja sebelum kencan pertama kita. Saat matahari 60 derajat menuju barat, dan kepalaku penuh dengan bagaimana percakapan kita nanti.

Kedai kopi makin ramai menjelang malam, kupikir para pekerja terlalu malas untuk langsung pulang dan menemui sebenar-benarnya kehidupan. Mereka lebih suka mengobrol-ngobrol saja, sambil menyesap kopi yang harganya sama dengan tiga kali makan di warteg. Membaca-baca buku, mengerjakan sisa pekerjaan, atau merenungi malam yang tanpa bulan.

Lalu aku teringat bulan kuning besar di atasku saat kau di dalamku, entah setelah berapa kali kencan di kedai kopi, makan malam, pesta-pesta, dan malam-malam mengerjakan aplikasi beasiswa.

Hari ini jalanan lancar, aku bisa lihat dari jendela-jendela kaca besar di pojokan tempatku mengenang-ngenang. Mungkin ini adalah hari-hari paling bahagia buat warga Jakarta. Sebagian dari mereka sedang berlibur ke luar kota, sebagian lainnya menikmati hilangnya kemacetan dan sumpah serapah dari jalanan.

Aku juga ingin menikmati kenangan yang lancar tanpa terhenti pada pojok kedai kopi yang kini tanpa kursi-kursi tinggi. Aku ingin ingatan tanpa kemacetan tentangmu, mampet mengenang-ngenang kecupmu dan bagaimana matamu berbinar kala itu.





Comments

Popular posts from this blog

First Travel dan betapa seksisnya media kita

Aku tumbuh sembari membenci payudara

keterbiasaan pada pelecehan seksual