Tujuan Hidup


Aku sering kali tak berkawan hujan. Hujan membawa dampak-dampak buruk seperti air mata yang mengalir dengan sendirinya, dan pikiran hampa yang menyergap tiba-tiba. Hujan seperti dementor yang menghirup seluruh keceriaan, menghabiskan sisa-sisa bahagia.

Namun terkadang hujan juga memberi dampak seperti pancuran air panas, membuatmu berpikir soal banyak hal yang sebenarnya mungkin esensial dalam hidup, tetapi tak perlu juga terlalu dipikirkan. 

Misalnya, apa land mark dari tempat yang disebut land mark di dekat halte trans Jakarta Dukuh Atas II, kenapa saat BI Rate turun suku bunga bank tak serta merta turun tapi saat BI Rate naik suku bunga bank ikutan naik, atau juga yang paling tak penting adalah pikiran soal tujuan hidup.

Beberapa waktu lalu pacar muncul dengan wajah kusut, dan berkata: I really miss my childhood, I miss my innocence. Malamnya, Lidia menanggapi pernyataan itu, katanya, "I never really missed my lame childhood. I really love my current life. When I was a child I really can't wait to grow up and being at this stage."

Sungguhpun aku sangat menikmati kehidupan saat ini, dan tak merindukan masa kanak-kanak sama sekali, tetapi juga aku tak pernah berharap cepat dewasa saat masih kanak-kanak. Aku rasakan saja pengalaman dalam semua tahapan. Aku menikmati keluguan sebisa mungkin selagi masih ada, dan menikmati dua-lima hingga maksimal. 

Bukan berarti kehidupanku sempurna. Dulu ayah suka memukul, dan sejak kelas 6 SD aku sudah mengalami pelecehan seksual oleh lingkungan patriarki ini. Semua pengalaman itu, menyenangkan atau tidak, aku rasakan saja. Toh kita tak akan punya kesempatan mengulang kejadian yang sama lalu menjalankan dengan plot lain. Baik atau buruk suatu masa yang datang pada kita, itulah yang terbaik, karena cuma satu-satunya. Dan aku tak suka berandai-andai.

Meski tak sepenuhnya setuju, tetapi setidaknya mereka punya sesuatu dalam hidup yang dirindukan, dan bisa diupayakan untuk diraih. Ada semacam tujuan intangible, untuk kembali menjadi lugu, atau untuk segera dewasa.

Sementara aku tak pernah betul-betul punya tujuan. Kalaupun ada, biasanya hanya tujuan tujuan jangka pendek, yang terhitung secara matematis. 

Seorang teman pernah menyarankan agar aku punya tujuan besar dalam hidup, tujuan seumur hidup, lalu mengisinya dengan tujuan-tujuan berjangka lebih pendek yang tak bertentangan dengan tujuan besar dalam hidup itu. 

Misalnya tujuan besar kita adalah menuju Pasar Rumput untuk membeli sepeda dengan bertolak dari Kuningan, maka kurang pantas jika tujuan kecil kita adalah terlebih dahulu menengok penjual tanaman hias di depan Kementerian Pertanian. Ya begitulah kira-kira.

Tujuan besar itu yang membingungkanku, apalagi selama ini tujuanku melulu hal yang sebenarnya membosankan: ingin sekolah di tempat tertentu hingga level tertentu, mendapat pekerjaan tertentu, membuat pemerintah mengubah kebijakan tertentu, membuat adik bisa meraih hal tertentu. Meh.

Tujuan hidup yang begitu membosankan dan terlalu material, mungkin membuat aku jadi merasa sudah selesai dengan hidup. Sehingga kalau mati besok ya tidak masalah.

Meski tak punya tujuan, aku sesungguhnya begitu menikmati aliran hidup. Dan aku tak mau terlalu gelisah dengan hidup sesudah mati, apabila itu merupakan tujuan. Terlebih analogi yang digunakan guru ngaji soal hidup sesudah mati terlalu bias duniawi, hidup sesudah mati didefinisikan dengan cara-cara kita memandang hidup saat ini. Seperti lelaki yang memandang seksualitas perempuan melalui phallusnya, tentu saja akan bias.

Sebab itu aku pun tak punya tujuan semacam ingin masuk surga yang isinya sungai susu, bidadari cantik, dan kehidupan yang bahagia. Atau pun tujuan menghindari neraka yang akan merobek-robek mulut orang yang tidak puasa, atau memotong lidah orang yang berbohong. 

Pendefenisian itu terlalu bias tubuh, bias dunia, dan menyetarakan Tuhan dengan manusia.

Dua minggu lalu Bayu mengangkat persoalan mati ini. Katanya tiba-tiba dia merasa takut mati setelah menghadiri pemakaman seseorang. Nindi sependapat, dia takut cepat mati karena banyak tujuan yang belum dia capai. Banyak hal yang masih ingin dia lakukan.

Ini diluar dugaanku. Kami biasanya memiliki banyak pendapat serupa dalam menghadapi kehidupan. Namun kali ini tidak. Aku sungguh pun siap mati saat ini juga. Mungkin karena aku tak punya tujuan.

Kematian memang selalu meninggalkan perasaan hampa, tetapi seperti kata Murakami, I'm not afraid of the death itself, for death is not the opposite of life, it's a part of it. Atau die tomorrow, thy should not die another time, begitu kata Shakespeare. 

Nindi menyumbang ide tentang ilusi. Menurutnya bisa jadi karena aku merasa ketika sudah mendapat sesuatu ternyata itu cuma ilusi, ilusi duniawi.

Setelah kupikir, pendefinisian ilusi juga tidak tepat. Aku tak sepesimis itu memandang hidup. Siapa yang bisa memastikan bahwa yang ilusi adalah hidup duniawi? Siapa tahu yang ilusi sebenarnya imaji yang dicekokan guru ngaji di kampung mengenai kehidupan sesudah mati.

Aku tak mau berandai-andai, aku hanya menikmati hidup saja. Karena bagiku kenikmatan itu absolut. Kita tak perlu mencari-cari alasan agar boleh merasakan kenikmatan. Kenikmatan adalah proses, tujuan, sekaligus alasan itu sendiri.

Namun hidup bukanlah soal mencapai sesuatu sesudah hidup (mencapai kenikmatan, misalnya). Hidup juga bukan proses untuk meraih sesuatu itu, bukan sekadar proses yang harus dilalui untuk menuju mati.

Akhirnya, hujan selesai, dan aku mendapat kesimpulan:

Mungkin bagiku hidup ini lebih soal merasakan. Merasakan yang ada di dalam hidup, termasuk menyentuh dan menyaksikan intensitas relasi diri internal dengan diri eksternal, maupun dengan sesuatu di luar diri.

Dalam kasus pacar, menjadi anak-anak bukanlah tujuan hidup, dia hanya ingin kembali merasakan sensasi keluguan saat pada masa itu, seperti Lidia kecil yang begitu tak sabar ingin merasakan sensasi menjadi dewasa.

Comments

Popular posts from this blog

First Travel dan betapa seksisnya media kita

Aku tumbuh sembari membenci payudara

keterbiasaan pada pelecehan seksual