tersesat

Aku berulang kali sampai pada titik bertanya-tanya apa gunanya  hidup di dunia, apa tujuan hidup sesungguhnya. Karena tak pernah betul-betul merumuskan tujuan (boleh juga disebut gagal menentukan tujuan), akhirnya sering kali jadi merasa sudah selesai dengan kehidupan. Hidup bisa segera diakhiri begitu saja, secepatnya.

Aku tersesat seperti Gretel kecil yang mengikuti remah roti sampai ke rumah penyihir di tengah hutan. Berjalan saja dengan pengetahuan umum seadanya soal hidup, dengan rambu-rambu usang yang diajarkan ayah sebelum jasadnya terkubur dalam tanah merah, dan kembang rupa-rupa.

Aku tak pernah mendefinisikan mimpi-mimpi. Tak punya cita-cita luhung menyelamatkan dunia, tak pernah ingin menebar keadilan, apalagi menjaga perdamaian. Kadang-kadang aku pikir bagus juga kalau punya cita-cita, setidaknya punya tujuan hidup. Namun aku tak punya cita-cita.

(Tujuan hidup yang aku maksud haruslah tujuan yang besar, lebih besar dari waktu, dan lebih esensial dari hidup itu sendiri. Cita-cita yang tak mudah tercapai, karena proses menuju cita-cita adalah pencapaian itu sendiri.)

Mungkin karena terlalu banyak membaca cerita putri-putri atau anak tiri aku jadi bingung apa sebenarnya hidup, apalagi tujuan hidup. Hidup dalam cerita anak-anak tiri selesai ketika sudah bisa keluar dari rumah ibu tiri atau penyihir jahat. Cerita putri-putri selesai ketika mereka mendapat ciuman pangeran tampan, atau ketika kerajaan menyelenggarakan pesta pernikahan mewah.

Lalu aku yang tak punya secuil pun ide untuk menikah jadi seperti kehilangan pegangan. Masak mencicil rumah harus dijadikan tujuan, kalau sudah punya rumah lalu mau apa? Mengisi dengan barang-barang? Membeli kendaraan? Lalu memperbesar rumah yang ada?

Ah, padahal kata Murakami dunia ini sedikit sekali digerakan oleh uang, melainkan oleh budi yang tak sempat terbayar oleh kita atau budi kita yang tak terbayar oleh orang lain. (Namun jangan juga terlalu percaya Murakami, orang yang bisa membuat cerita rumit lalu menyederhanakan hidup itu terlalu mengerikan untuk dipercaya.)

Minggu lalu, kami mandi telanjang di sungai, menikmati air dingin menggapai-gapai kulit kami. Membuat puting payudaraku mengerut keras, dan hatiku tergelak-gelak riang.

Kapan terakhir kali kita telanjang tanpa takut dianggap asusila? Kapan terakhir kita menyusuri sungai dan melompat ke dalam lubang-lubang air terjun di dalamnya tanpa berbusana? Ah, usia memang cuma deretan angka-angka, tapi membuat manusia jadi terikat banyak hal yang menjemukan.

Seperti kemarin, saat sepucuk hujan datang, dan diikuti oleh jutaan pucuk hujan lainnya, Jakarta dibanjiri sumpah serapah kemacetan, banjir, dan kebencian pada kenyataan soal hidup di Ibu Kota.

Padahal kupikir semesta sedang menghadiahi Jakarta dengan kemarau basah, dan senyum anak-anak ojek payung yang mendapat lembar lima ribuan.

Lalu Tuhan, menghadiahiku kesedihan yang begitu hangat.

Comments

Popular posts from this blog

First Travel dan betapa seksisnya media kita

Aku tumbuh sembari membenci payudara

keterbiasaan pada pelecehan seksual