selamat datang bulan perayaan

Salah satu kritik yang dilontar kepada pemerintah saat menyesuaikan harga bahan bakar minyak (BBM) adalah persoalan waktu, yaitu beberapa minggu menjelang Bulan Ramadhan. Dikhawatirkan inflasi akan naik tak terkendali karena kenaikan harga, ditambah lagi inflasi pada Ramadhan-Idul Fitri biasanya tertinggi sepanjang tahun.

Dalam bahasa bodohnya, manusia Indonesia lebih banyak mengeluarkan uang selama bulan puasa. Sebagian mungkin menggunakan uangnya untuk berlibur, karena tidak merayakan, sebagian lain mengucurkan uang untuk menyambut Ramadhan, merayakan kedatangan bulan yang cuma datang setahun sekali ini.

(Tapi ya logikanya setiap bulan cuma datang setahun sekali. Muharam dan Safar juga cuma datang setahun sekali, seperti Juli atau Desember yang cuma ada satu periode tiap tahunnya.)

Padahal bukankah semangat Ramadhan itu hidup lebih sederhana, menahan nafsu, menahan emosi, merasakan kesulitan orang-orang yang sulit makan dengan pantas?

Klasik, semua orang juga pasti sudah paham bahwa kenyataannya bulan puasa bukanlah bulan untuk hidup dengan lebih sederhana. Undangan buka puasa bersama dari hotel ke hotel dari restauran mewah satu ke restauran mewah lainnya selalu mengalir deras tiap tahun.

Belum lagi biaya untuk membuat spanduk menyambut Ramdhan, juga biaya membuat iklan dan berebutan spot iklan menjelang adzan magrib.

Iklan di bulan Ramadhan juga lebih banyak bernuansa melepas dahaga dengan sirup, es cincau, atau teh botol. Buka puasa adalah momen merayakan sirup, es cincau, dan teh botol.

Itu semua belum menghitung puluhan acara off air maupun on air dalam menyambut Ramadhan. Mulai dari acara musik, pengajian, atau ceramah agama. Yang paling untung ya anak band, pelawak, dan ustad (baik yang karbitan maupun yang sungguhan) yang semakin banyak orderan.

Aku tak mau bilang Ramadhan harusnya begini atau begitu. Bisa jadi sejak zaman Nabi, di Timur Tengah sana, Ramadhan adalah bulan perayaan, menghamburkan uang untuk pakaian baru, makan malam yang lebih mahal dari makan biasanya (karena ditambah berbagai menu manis-manis untuk pembuka), juga makan pagi yang jadi ajang pamer bagi-bagi makan kepada pengemis musiman, serta mungkin juga mobil baru supaya bisa angkat dagu saat pulang ke kampung.


Dan kebanyakan cara mengajar Islam di Indonesia, memang suka lupa pada esensi, bertanya kritis akan dianggap kafir, dan kritik adalah murtad. Lebih banyak yang suka heboh-hebohnya saja.

Maka, selamat datang bulan perayaan.

Comments

Popular posts from this blog

First Travel dan betapa seksisnya media kita

Aku tumbuh sembari membenci payudara

keterbiasaan pada pelecehan seksual