Membela Rakyat Kecil

Jakarta pada masa kalap belanja besar-besaran beberapa minggu lalu adalah jalanan macet dan taksi yang sulit di dapat. Setelah jejak terakhir kami di Skye terhapus pengepel lantai dari petugas berseragam, taksi belum juga muncul.

Maka saat itu kami memutuskan untuk memilih kendaraan umum apapun yang pertama muncul. Toh jarak yang akan ditempuh tak cukup jauh, sebagian hanya sampai Setiabudi, sebagian lain turun di Karet, lalu sisanya akan ke Senayan.

Bertujuh kami berdiri berurutan, menambah sesak P19 yang gersang, menambah sulit kernet yang melintasi keringat dan campuran bau parfum hingga bau badan.

Di tengah kumpulan daging dan keringat itulah aku menegur kernet, "Bang, kok kembaliannya cuma segini?"


Kernet hanya tersenyum-senyum sembari berkata "Memang harusnya berapa?" Senyum yang dilakukan sambil melempar pandangan: saya tahu itu kembalian kurang, saya sedang mencoba-coba curang saja, siapa tahu kalian tidak menyadari.
Lalu aku menjawab bahwa kembaliannya kurang Rp10.000.

Belum lagi si kernet menjawab, beberapa perempuan di belakang kami berusaha menjelaskan soal kenaikan BBM sehingga harga angkutan yang menjadi Rp3.000, seolah aku tidak paham bahwa BBM naik dan ongkos bis juga naik.

"Oh begitu? Coba deh, kalaupun harga ongkosnya Rp3.000 dikalikan dengan 7 orang, jadinya berapa? Coba hitung kembalian saya berapa?" Begitu jawab saya sambil nyengir bodoh kepada perempuan-perempuan itu. Dan mereka pun diam, tidak lagi beropini atau membela si kernet.

Pada akhirnya kami memang tidak tertarik meminta Rp10.000 itu untuk dikembalikan. Nilai Rp10.000 mungkin lebih berpengaruh signifikan bagi kehidupan supir dan kernet dari pada kehidupan kami.

Aku hanya menyayangkan usaha dia untuk berbuat curang. Mungkin dia menganggap enam orang kulit putih dengan satu perempuan Indonesia ini tidak tahu harga ongkos bis, atau mungkin tidak akan menghitung uang kembalian. Namun yang aku tangkap dari senyum curangnya adalah bahwa dia menganggap kami terlalu necis--kami tak berpakaian necis juga sih sebetulnya, tetapi aku sering sekali menemukan anggapan bahwa warga negara asing di Indonesia adalah orang kaya, atau minimal selalu punya lebih banyak uang--untuk dikenai biaya sesuai tarif.

Lebih mengenaskan adalah kenyataan kemunculan orang yang (entah berusaha baik hati, atau sekadar ikut campur) membela "rakyat kecil", sementara si "rakyat kecil" yang dia bela itu justru sedang berbuat curang.

Comments

Popular posts from this blog

First Travel dan betapa seksisnya media kita

Aku tumbuh sembari membenci payudara

keterbiasaan pada pelecehan seksual