Aku Punya Masalah

Bulan-bulan belakangan aku sudah payah mencari jawaban, aku ini kenapa sih. Kok begitu takutnya pada seorang perempuan. Sebelumnya aku kira aku sakit hati pada orang ini, tapi belakangan aku pikir aku takut. 

Rasa sakit yang terlalu berlebihan, dalam jangka lama, mungkin berkembang menjadi trauma yang mengejawantah pada rasa takut berlebihan. Atau mungkin juga memori-ku mengasosiasikan rasa sakit dengan perempuan ini.

Mungkin juga karena tadinya aku percaya pada perempuan ini 1.000%, bahkan cenderung kagum lantaran mengenalnya dari cerita superpositif si mantan pacar (yang mungkin sedang jatuh cinta, maka semua cerita jadi begitu ceria) yang saat itu masih pacar. 

Dulu aku punya hubungan yang berusia sekitar 3 tahun, lalu berakhir dengan segala drama dan hujan air mata sepanjang malam selama hampir setahun. Kejadian itu melibatkan si perempuan. Pertama kalinya dalam hidup, aku ga berani punya hubungan baru yang sungguhan sampai setahun berikutnya. 

Dan setahun setengah berikutnya, aku belum benar-benar sembuh. 

Berapa bulan lalu, aku pergi ke pertunjukan musik, tanpa kaca mata. Lalu tidak menyadari perempuan yang membuatku ketakutan mengantri di depan. Aku baru sadar ketika mereka menengok ke belakang sambil berkata: "Kamu yakin itu orangnya?" 

Telapak tangan tiba-tiba menjadi begitu dingin, aku takut, dan jadi panik. Untungnya entah dari mana tiba-tiba pacar muncul begitu saja, dan aku yang sedang panik, langsung saja menyelak antrian dan setengah berlari ke depan antrian sambil berpegangan pada pacar. 

Mungkin rasa takut ini juga yang kemudian membuat aku terlalu berhati-hati pada hubungan. Tak berani berekspektasi, ga berani ke mana-mana. Bahkan mendoktrin diri bahwa hubungan ini ga akan ke mana-mana, dan pada akhirnya aku akan ditinggal juga. Semacam membangun dinding pertahanan. 

Sungguh pun tak menyesali hubungan kemarin berakhir, tapi sakit adalah hal yang tak terhindarkan. Hanya saja harusnya tak boleh sakit sebegini lama. 

Aku punya masalah.


Comments

Popular posts from this blog

First Travel dan betapa seksisnya media kita

Aku tumbuh sembari membenci payudara

keterbiasaan pada pelecehan seksual