Jerold si Jerapah*


Diceritakan oleh Courtney W Morris
ditulis ulang oleh Rika Nova


Pada 2013 di Jakarta yang paralel dengan Jakarta kita saat ini, Jakarta yang tetap macet tapi berada di dunia yang manusianya hidup berdampingan dengan binatang, tersebutlah seorang Jerapah bernama Jerold.

Jerold suka berjalan-jalan dan memakan dedaunan di pucuk-pucuk pohon. Kadang Jerold berjalan-jalan sepanjang Sudirman-Thamrin sambil memakani dahan yang menjulur-julur di sepanjang jalan.

Pemerintah tak pernah memarahi Jerold karena memakan dedaunan di sepanjang jalan. Karena dahan yang panjang sudah dimakan Jerold, maka Pemerintah dapat menghemat biaya untuk membayar petugas pemotong dahan. Jerold juga paham dia tak boleh memakan daun terlalu banyak, karena pohon gundul di tengah kota tak sedap dipandang. Maka pemerintah senang, Jerold kenyang.

Namun, Jerold yang besar, bisa menambah-nambah kemacetan Jakarta yang sudah panjang dari sananya. Hingga akhirnya Jerold tak lagi bisa berjalan-jalan sambil memakan dahan di sepanjang jalan. Jerold tak mau jalanan jadi macet, pemerintah juga tak mau pekerjaannya bertambah-tambah mengurusi macet akibat Jerold.

Pada jam tertentu, tengah malam misalnya, Jerold memang bisa berjalan-jalan sesukanya. Namun kalau sudah tengah malam, Jerold lebih suka membaca buku saja di rumahnya. Jerold tidak senang dengan keadaan ini.

Suatu hari Jerold bangun pagi dengan ide: kenapa tak pindah ke Jogja saja. Entah dari mana ide ini muncul. Dia mengungkapkan ide tersebut kepada Jane, sang pacar, dan Jane tidak menolak.

Maka pergilah mereka ke Jogja.

Di Jogja Jerold sangat suka. Ada pantai, ada gunung, dan ada banyak pepohonan. Jerold dan Jane makan banyak daun di pucuk-pucuk tertinggi pepohonan setiap hari.

Keduanya makan dengan hati-hati, tak serakah menghabiskan pohon. Mereka hanya makan pepohonan yang sudah cukup tua untuk dimakan, dan hanya memakan beberapa bagian saja. Memberi kesempatan untuk pohon itu tumbuh kembali sampai siap dimakan lagi. Sehingga persediaan makanan keduanya berkesinambungan.

Namun suatu hari, Jerold dan Jane terlalu banyak minum, hingga menjadi sangat mabuk. Keduanya makan begitu banyak pepohonan di sekitar Keraton, di sepanjang Jalan Mangkubumi, Jalan Sudirman, Jalan Solo, Jalan Kaliurang, semuanya habis dimakan.

Keesokan harinya Sultan mendapati pepohonan di sepanjang jalan gundul, dimakan Jerold. Sultan sangat marah, dan mengirim utusan kepada Jerold dan Jane.

Jerold dan Jane ketakutan. Mereka tahu mereka bersalah dan tak bisa mengelak. Mereka terlalu mabuk sehingga makan terlalu banyak. Semua pohon habis dimakan. Maka mereka tak berani berbantah-bantahan.

Utusan Sultan berkata keduanya harus memperbaiki seluruh pohon yang mereka gunduli, merewat pepohonan itu, sampai daunnya tumbuh lagi. Selain itu, Jerold dan Jane juga harus memberikan pendidikan lingkungan kepada anak muda di sekitar.

Jerold dan Jane menjalani hukuman dengan bahagia. Mereka lega tak diusir dari Jogja, karena mereka suka berada di sana.

Sekarang pepohonan di sepanjang jalan sudah muncul lagi daunnya karena keduanya merawat dengan suka cita. Jerold dan Jane memiliki sekolah alam yang mengajarkan anak-anak bagaimana hidup berdampingan dengan binatang dan tumbuhan, menghemat energi, merawat bumi, dan tidak rakus menghabiskan isinya, karena bumi akan diwariskan ke generasi berikutnya.

Begitulah mereka hidup bahagia selamanya.



----

*Ini dongeng yang diceritakan pagi tadi, dengan spontan, usai sarapan. Aku hanya menulis ulang dengan sedikit tambahan.

Comments

Popular posts from this blog

First Travel dan betapa seksisnya media kita

Aku tumbuh sembari membenci payudara

keterbiasaan pada pelecehan seksual