Tanggal Merah



Malam hampir larut, dan pengemis di jembatan penyebrangan bersungut-sungut
Karena ayah lewat tanpa melempar seribuan kusut

Malam sudah larut, adik juga bersungut-sungut
saat ayah mematikan televisi ketika berpura-pura sekadar melewati ruang keluarga.
Kata ayah anak pintar harus tidur jam sembilan.
Kata adik, ayah pintar seharusnya membiarkan anaknya terjaga sedikit lama karena esok tak perlu berangkat ke sekolahan.

Rupanya ayah lupa kalau besok tanggal merah.
Dia kira pemerintah menghitamkan semua kalendernya agar buruh terus bekerja dan lupa marah.
Tapi saat dia periksa, kalender di ruang kerja tak punya tanggal merah.

“Mungkin percetakan kehabisan tinta,”
            kata Ibu sambil tersenyum dan merengkuh pundak ayah.
Tapi Ibu tak di sana.
Sudah selarut ini, Ibu di mana.

“Ibu, Ibu di mana?” kataku pada corong telepon
“Aku di sini, di dalam sakitmu,” kata suara yang bukan milik Ibu di seberang yang tak kutahu ada di mana.

Comments

Popular posts from this blog

Karena usia cuma deretan angka-angka!

Aku tumbuh sembari membenci payudara

keterbiasaan pada pelecehan seksual