Rasanya seperti dilempar ke dalam kolam saat baru mulai terbakar.


Ada api yang harus dijaga dalam tiap diri kita, agar jangan pernah padam. Saat api itu padam, maka tak ada lagi yang menarik di dunia ini.

Saat memutuskan menjadi wartawan artinya menjaga komitmen untuk menjaga api itu, untuk selalu bersemangat, selalu gelisah, selalu penasaran, selalu ingin tahu, selalu ingin bercerita. Setidaknya menurutku.

Tapi, sekarang, mungkin apiku padam.
Perlahan padam sejak tahun lalu.

Sampai awal tahun lalu, aku pikir dia tidak akan pernah padam. Ini satu-satunya pekerjaan yang terbayang sejak bersekolah. Sampai-sampai aku berjanji tak akan bekerja di korporasi selama media masih bisa memberi upah layak meski tak besar. Sampai-sampai aku menolak tawaran kerja di beberapa korporasi karena masih merasa punya masa depan di sini.

Bahkan hingga bulan lalu, kepada seorang direktur aku berkata: aku masih begitu suka menjadi wartawan, bu.

Atau mungkin aku saja yang keras kepala.

Dan sekarang, mungkin dia sudah padam.

Bukan aku yang memadamkan, ada banyak hal di luar diri kita yang akan tidak sengaja memadamkan, atau mengincar pemadaman, saat kita lupa menjaganya.

Pertama-tama diwawancara oleh 9 orang, pernyataan bahwa mereka mencari laki-laki alih alih perempuan sudah sangat mengagetkan. Tahun 2010 masih ada yang memilih berdasarkan penis dan vagina padahal tak jarang manusia berpenis memutuskan untuk ogah panas-panasan karena takut hitam.

Belum lagi lelucon yang menganggap gay adalah warga kelas dua, anggapan persoalan lingkungan tidaklah penting dan Indonesia perlu terus menghabisi hutannya, siapa peduli kekeringan dan kehilangan sumber mata air masyarakat desa selama performa perusahaan membuat IHSG selalu di zona hijau. Atau keberpihakan pada deforestasi atas nama kedaulatan bangsa. Bah.

Dan bahwa satu-dua orang dapat menjadi begitu berkuasa pada organisasi media yang dalam logika normal seharusnya lebih demokratis. Satu-dua orang yang lebih suka punya tiga mulut tanpa telinga, yang menganggap navigasi bisnis harus didorong berita sex dan pertunjukan banal di televisi.

Juga soal kami yang harus jadi wartawan detik dan wallstreet sekaligus, padahal mereka mengaku paham konsep on-line yang sangat berbeda dengan koran tetapi sambil mencemooh media lain yang dianggap tidak efisien karena memisahkan pekerja online dan koran.

Dia lupa sudah diinjak-injak oleh media-media yang dia cemooh, bahkan dari sisi rating alexa kebanggaannya itu.

Mungkin apiku padam.

Saat sebuah bank mengundang menghadiri acara jam 10 pagi, dan belum lagi mulai hingga jam 3 sore tetapi bos memaksa agar aku menunggu, meski telah diperlakukan tidak adil, atas nama iklan yang maha kuasa.

Seperti menolak mengambil jalan tertentu, tetapi justru menciptakan jalan untuk ke arah itu bagi orang lain, melalui ceceran duit.

Rasanya seperti dilempar ke dalam kolam saat baru mulai terbakar.

Comments

Popular posts from this blog

First Travel dan betapa seksisnya media kita

Aku tumbuh sembari membenci payudara

keterbiasaan pada pelecehan seksual