Purnama


Ada purnama di atas kepala. Aku ingin bilang ia mengintip di balik jendela saat kita bercinta. Karena begitulah adanya. Tapi terdengar picisan. Sejak masa Pramoedya masih di penjara kalimat purnama di balik jendela sudah ada di mana-mana.

Purnama tak mengintip siapa-siapa. Aku yang mencuri lihat dari balik bahumu, ada sinar terang di atas sana, saat kau di dalamku, dan dia di atas kita. Lebih indah dari matamu, lebih syahdu dari dengkur halusmu.

Aku bilang padamu, ada purnama, tapi kau lebih peduli pada apa yang kupunya di bawah sana, dan aku tetap memandangi purnama. Aku tahu dia tak akan ke mana-mana, tapi aku ingin berlama-lama memandangnya, seolah dia akan melengos pergi begitu aku mengerjap mata.

Ini cuma purnama kedua, tapi rasanya sudah begitu lama. Purnama kedua, dan aku tak mau jadi milik siapa-siapa. Ah, baru purnama kedua.

Lalu aku tahu, dia bukan purnama, juga tak ke mana-mana.


Hey, 
Aku masih teringat percakapan kita 
sebelum purnama tiba, 
soal rajah pada payudara.

Kupikir kau sudah lupa.

Comments

Popular posts from this blog

First Travel dan betapa seksisnya media kita

Aku tumbuh sembari membenci payudara

keterbiasaan pada pelecehan seksual