Posts

Showing posts from April, 2013

Kamila dan Janacek

Image
Kamila.
Ibuku bernama Kamila. Bukan nama yang banyak dipakai orang Indonesia masa kini. Juga orang Indonesia tahun 60-an saat ibu lahir, oh atau mungkin 70-an. Aku tak tahu pasti. Ibu saja tak tahu pasti tahun berapa ia lahir.

Ibu curiga akta kelahirannya tak tepat karena dia menemukan tanggal-tanggal kelahiran yang dicatat Ibunya (nenekku) setelah beliau meninggal. Maka kesempatan konfirmasi terakhir habis sudah.
Apalagi nama Ibu Kamila saja, tak ada nama tengah atau nama belakang. Padahal di nama tengah atau belakang lah orang Indonesia kerap mengindikasikan bulan kelahiran. Apalagi kata Kamila tak merujuk pada sesuatu hal. Seperti kubilang, tak banyak juga manusia yang kutahu bernama Kamila.

Kamila yang aku tahu, selain Ibu, adalah perempuan bersuami yang dicintai Janacek. Leoš Janáček, kupikir dia komposer yang tidak terlalu terkenal. Siapa yang tak tahu Beethoven, atau Mozart? Tapi siapa yang tahu Janacek?

(Oh, ada juga Camilla, istri Pangeran Charles, tapi dengan cara penulisan …

Kalau Aku Rindu (II)

Purnama

Aku Ingin

Orang Dewasa

Beberapa hari lalu aku menemukan berita bernada marah dan mengecam tindakan anak perempuan belasan tahun yang katanya menghina agama lantaran mempermainkan gerakan solat. Bahkan menurut media online yang kubaca, remaja-remaja itu dikeluarkan dari sekolah.

Saat seumur itu (kalau tidak salah mereka SMP) aku bersekolah di sekolah yang berlandaskan agama. Setiap hari jumat di sekolah kami ada kotak amal yang diedarkan ke ruang-ruang kelas.
Saat itu, aku punya uang mainan bernominal 20.000. Aku masukan saja uang itu ke kotak amal hijau yang mampir ke mejaku. Aku pikir itu lucu, dan aku ikhlas membagi 20.000-ku. Siapa sangka wakil kepala sekolah meminta bertemu di ruangannya dalam waktu kurang dari satu jam sejak uang itu kuloloskan dari lubang kecil di atas kotak amal.
Aku tak sendirian, teman yang duduk sebangku denganku juga dipanggil karena melakukan hal yang sama. Bedanya teman hanya diam saja ketika dicecar wakil kepala sekolah, dan aku bertanya terheran-heran.
Aku tetap tak paham ken…

sajak cinta

aku ingin menulis sajak cinta
soal mata birumu yang memantul bayangan pizza
juga air jeruk dan botol-botol vodka

sialnya
aku tak punya sajak cinta

cuma ada rebusan brokoli,
seporsi ayam bumbu kari,
dan harum tanakan nasi.

semoga lebih hangat dari sajak soal cinta mati
dan basa-basi

Kolam

Dulu ayah membuat kolam kecil di pekarangan rumah, dinaungi dua pohon palem, berisi ikan-ikan kecil berwarna-warni.

Lalu hampir setiap sore adik akan meloncat ke dalamnya
dan Ibu menghambur dari dalam rumah, menarik adik keluar dari kolam.
adik bisa saja terpeleset, terbentur, hingga pecah kepalanya,
adik bisa saja kedinginan lalu terkena flu,
atau adik bisa membuat ikan-ikan di kolam mati tersiksa.

Ketika aku masih suka melamun dan memperhatikan ikan-ikan ayah, aku
sering kali membayangkan bagaimana menjadi ayah
dengan istri, dan anak-anak
juga perempuan-perempuan yang berselingkuh dengannya.

Oblivion: self, soul, and other thousands of yourselves

Image
Was somebody asking to see the soul?  See, your own shape and countenance, persons, substances, beasts,  the trees, the running rivers, the rocks and sands. 
All hold spiritual joys and afterwards loosen them;  How can the real body ever die and be buried? 
Of your real body and any man's or woman's real body,  Item for item it will elude the hands of the corpse-cleaners and  pass to fitting spheres,  Carrying what has accrued to it from the moment of birth to the  moment of death. 
--Walt Whitman, Starting from Paumanok, section 13.





Seperti yang kutulis di Transformer: Pasal satu, militer selalu menang, jika militer kalah, kembali ke pasal satu. Kupikir sebaiknya jangan berharap lebih dari apa yang didapat ketika nonton Transformer. Dan yang pasti ini film Amerika, jelas berakhir bahagia.

Sebagai anak pemalas yang lebih suka menangkap makna dan ogah ribet mikirin efek, bagiku film ini semacam menye-menye soal kenangan, jiwa, dan tubuh-tubuh hidup yang mati.

Jack Harper naik …

Mobil Baru

Kata Ibu, adik tak suka mobil di rumah. Setelah bertahun lalu dia memodifikasi mobil keluarga menjadi mobil aneh dengan subwoofer yang tak pantas, hingga semua orang merasa tak lagi nyaman, kini dia marah-marah pada ibu soal betapa jeleknya mobil Ibu.

Dia bilang dia begitu kesal karena harus kehujanan saat berangkat kuliah akibat mengendarai sepeda motor. Saat Ibu meminta dia membawa mobil Ibu, dia bilang lebih baik dia menggunakan angkot dari pada mobil Ibu karena mobil Ibu sungguh memalukan bentuknya.

Ah, apakah anak kuliah masa kini menjadi begitu bergengsi sehingga malu memakai mobil tua?

Aku kuliah berjalan kaki. Kadang-kadang naik bis, kadang-kadang menebeng teman. Namun Fakultas Ilmu Sosial dan Politik pada 2004 diisi oleh orang-orang yang berjalan kaki atau naik sepeda. Jadi menebeng bukan opsi yang sering muncul, dan bis juga hanya satu-dua. Mungkin jam lima sudah hampir tak ada yang lewat, jalan juga akhirnya dari Bulaksumur ke Jalan Kaliurang Km 6.

Aku suka berjalan kaki. …