Vegetarian

Kenapa aku selalu menolak disebut vegetarian?
Mudah saja sih, karena aku masih makan ikan. Ha!

Sebenarnya tidak pernah memikirkan hal ini sebelumnya, sampai tadi malam,
Diana bertanya: so, how many vegetarian in this table?
Andrea sontak menjawab: it's three of us, me, tess, and rika.
Namun Tess langsung meralat: just me and andrea.

Tess adalah seorang vegetarian sejak berusia 13 tahun, teman lama waktu mengambil kelas sejarah politik Indonesia. Sepertinya dia ingat aku seolah selalu menolak disebut vegetarian. Setiap ada yang bertanya, aku lebih memilih untuk menjelaskan bahwa aku tidak makan daging, hanya sayur dan ikan, alih-alih menyebut diri vegetarian. Atau jika sedang malas menjelaskan, aku hanya berkata: yeah, kind of.

Dan aku tidak pernah memikirkan hal itu. Maksudnya aku tidak pernah secara sadar betul-betul menolak disebut vegetarian, tapi juga tidak pernah mengklaim sebagai vegetarian. Sampai tadi malam ketika Tess mengoreksi Andrea. Tersadar, kenapa aku selalu khawatir pada label vegetarian?

Pada akhirnya kupikir ini bukan soal vegetarian itu sendiri.
Karena sebenarnya aku pun selalu khawatir pada segala macam istilah yang bisa ditempel, feminis, vegetarian, environmentalist, heteroseksual, muslim, pintar, bodoh, apapunlah.

Kupikir ini soal label. Aku enggan dilabel.
Dan lebih dari itu.
Aku khawatir pada komitmen.

Saat aku bilang ya, aku vegetarian, aku justru khawatir tidak bisa memenuhi ekspektasi soal apa itu vegetarian. Ini semacam komitmen, saat aku mentahbiskan diri sebagai vegetarian maka aku harus bertingkah laku sebagaimana vegetarian.

Padahal aku baru tidak makan daging sekitar 2008 atau 2007, entah tahun berapa di antara keduanya. Lalu mulai lagi makan daging pada 2011 hingga pertengahan 2012 karena belum terbiasa dengan pola kerja wartawan dan amit amit susahnya cari sayur untuk makan malam. Cuma ada warung pecel lele bertebaran sepanjang Jakarta.

Aku cuma khawatir bahwa aku tidak bisa berkomitmen sebagai vegetarian. Semudah itu.

Seperti menjadi environmentalis. Aku sempat kaget ada seorang teman yang self-proclaim environmentalist. Seumur mengenalnya aku memang tahu belakangan dia aktif pada LSM pro lingkungan. Mungkin rasanya belum sampai setahun terakhir.

Aku selalu berfikir, sebelum melabel diri dengan sesuatu, kita harus paham betul hal tersebut dari semua aspek, teori, praktek, berbagai angle masalah, apapunlah yang berkaitan dengan pilihan label itu.

Di Jogja aku bekerja pada sebuah LSM di bidang sanitasi, lalu mendapat fellowship di GreenPeace Asia Tenggara. Tentu tak cukup untuk menyebut diri sebagai environmentalis. Meski berkomitmen pada hal-hal sederhana seperti menolak pakai plastik, menggunakan dua sisi kertas, mengikuti berbagai kampanye dan tindakan pro lingkungan, toh sering juga aku naik taksi cuma karena malas berkeringat lantaran sudah berdandan, malas juga aku naik kereta karena pesawat lebih cepat padahal amit-amit deh emisi gas buangnya, banyak juga tisu yang kuhabiskan untuk sekadar membuang ingus.

Meski selalu berusaha mencari dengan label against animal testing, tetapi siapa yang benar-benar tahu apakah semua toilletries yang aku gunakan sudah terbebas dari uji coba pada hewan.

Atau feminis. Aku selalu bilang mendukung hak azazi manusia dan kesetaraan gender, tidak berani menyebut diri feminis. Karena masih superbanyak hal-hal kecil yang tak bisa dipenuhi. Saat kecut hati aku masih cemberut pada pacar yang tak mau menjemput, padahal kenapa juga dia harus jemput. Atau saat kelelahan, terkadang berharap dalam hati supaya mas-mas yang duduk di bis mau memberi kursinya, karena aku perempuan. Padahal siapa tahu kalau masnya jauh lebih lelah dan jauh lebih lemah fisiknya.

Juga menjadi heteroseksual misalnya. Kenapa harus membatasi diri? Siapa tahu sejauh ini aku heteroseksual karena kebetulan selalu menemukan kecocokan dengan laki-laki, belum saja bertemu perempuan yang cocok. Walau sejauh ini belum ada ketertarikan juga sih. Tapi seharusnya cinta kan lebih universal, bukan sekadar urusan kelamin. Jadi ya siapa yang tahu akan bagaimana di masa depan?

Pun menjadi muslim. Toh awalnya karena ibu dan ayah muslim, juga kakek dan nenek, dan kita harus beragama di Indonesia Raya ini. Namun tak pernah ada yang bisa paham apakah kita benar-benar menghayati dalam hati. KTP-ku tentu berbunyi Islam. Namun Islam yang seperti apa, tingkah laku apa yang diharap dari label itu? Aku pikir ga cuma ada satu definisi juga kan.

Prek lah, Rik.

Jadi, sambil menghabiskan makan malam, aku berpikir, kenapa juga harus dilabel? Atau kenapa juga harus didefinisikan pada indikator-indikator tertentu? Biar sajalah kita punya definisi yang sangat detil dan sangat berbeda satu sama lain, sampai-sampai tak lagi terlihat seperti definisi melainkan penjabaran panjang lebar yang tak ada habisnya.

Namun, ya bolehlah juga kalau mau melabel diri, kenapa juga harus membatasi? ;)

Comments

Popular posts from this blog

First Travel dan betapa seksisnya media kita

Aku tumbuh sembari membenci payudara

keterbiasaan pada pelecehan seksual