Pedagang Baru


Di gerbang sekolah ada pedagang baru. Berjejer bersama pedagang-pedagang lain yang meletakan barang-barangnya di atas terpal biru.

Pedagang-pedagang ini dilarang masuk sekolah. Kalau bel masuk berbunyi, gerbang ditutup, mereka tetap di sana, sampai kami pulang sekolah.

Kalau bel istirahat berbunyi dan ada anak yang malas ke kantin, dia diam-diam pergi ke gerbang sekolah. Kami bisa jajan dari balik gerbang. Menunjuk mainan dan makanan dari celah tembok.

Biasanya mereka, para pedagang, ada di sana, tetapi kadang-kadang juga tak ada. Itu adalah saat petugas berseragam datang, dengan mobil berwarna biru berkacak pinggang di luar gerbang sekolah.

Pedagang baru itu memakai kaus abu-abu. Belum pernah kulihat sebelumnya. Dia meletakan jualannya di samping tukang siomay. Aku melongok dari dalam mobil, ternyata dia menggelar gambar tempel. Banyak sekali gambar tempel. Ada gambar bunga, gambar tweety, mickey mouse, doraemon.

Setelah mobil sampai di dalam sekolah, aku meraih tangan ayah dan berpamitan. Kata ayah aku harus pandai di sekolah, tidak boleh cengeng, tidak boleh mengganggu anak lain, dan harus rajin.

Aku mengangguk, lalu berlari menuju kelas.

Tadi malam ayah mengajariku penjumlahan. Aku mahir menjumlah hingga lima. Namun aku belum terlalu pandai menjumlahkan angka enam dan tujuh.

Setelah mengajariku penjumlahan ayah berkata aku tidak boleh jajan di luar gerbang sekolah. Katanya nanti aku sakit perut karena makanannya tidak bersih dan tidak sehat. Apalagi banyak debu berterbangan. Lalu ayah membuatku berjanji agar tidak jajan di luar gerbang.

Aku tidak berani membantah. Padahal aku ingin sekali melihat-lihat jajanan di luar gerbang sekolah. Namun ayah masih menunggu jawabanku.

"Kalau hanya melihat boleh?"
"Apa yang mau dilihat?"
"Ya lihat ada apa di sana."
"Nanti kamu jadi pingin beli."
"Nggak kok."
"Betul?"
"Betul," jawabku mantap.
"kalau begitu, lihat dari dalam sekolah boleh-boleh saja."
"Betul betul?"
"Betul," kata ayah. "Tapi tetep harus janji nggak jajan."
"Oke bos!"

Tadi malam aku sudah berjanji. Tapi aku boleh melihat-lihat.

Sebelum masuk ke kelas, aku berjalan ke pinggir gerbang. Di pinggir gerbang, tidak hanya ada tembok, tapi ada daun teh-tehan dan bunga sepatu. Kupetik satu, sambil melihat si pedagang baru.

Comments

Popular posts from this blog

Karena usia cuma deretan angka-angka!

Aku tumbuh sembari membenci payudara

keterbiasaan pada pelecehan seksual