Hey, little-troublemaker!


taken from wikipedia

Inti dari Django Unchained sebenarnya tidak berbeda jauh dengan film-film Disney, pangeran penyelamat putri yang sedang dalam kesusahan.

Ini cerita Django menyelamatkan Broomhilda. Kalau Aladin punya jin, Django punya Schultz, yang kemampuannya bahkan lebih dari sekadar jin yang cuma bisa memberi tiga permintaan.

Semacam Romeo dan Juliet yang terpisahkan karena terlahir dari keluarga tertentu, Django dan Broomhilda terpisahkan karena berkulit hitam dan percaya pada kebebasan. Kebebasan yang membuat gagap ketika benar-benar nyata.

Klasik.

Satu jam pertama adalah komedi yang nampar, dilanjut kisah sedih perbudakan, lalu soal minoritas dalam minoritas, disambung adegan penyelamatan yang norak (a bit cheesy but funny in a good way I supposed), akhirnya ditutup dengan gaya Hollywood, seolah sedang berkata: Hey, jangan lupa, ini film cowboy Hollywood loh!

Secara keseluruhan, brilian!

Meski ga sesadis inglorious basterd, yang mana sampe sekarang aku masi merinding kalo inget adegan mereka ngulitin kepala Jerman-Jerman itu, Django Unchained menggambarkan dengan sangat realistis bagaimana manusia berada dalam titik nol, titik kanibalisme sosial. Saat manusia relijius pemuja Tuhan menghabisi manusia lain atas dasar apa yang telah ditetapkan Tuhan mereka dan tidak bisa diubah manusia.

Dari semua kritik di Django Unchained soal sistim sosial, yang masih sangat relevan adalah soal minoritas dalam minoritas. Kanibalisme sosial tentu sangat jelas ditolak oleh hampir semua orang dalam masyarakat yang mengaku demokratis ini. Namun peminoritasan di dalam minoritas ini kadang masih terlewat dan tanpa sadar kita pun bertingkah seperti sebagian kelompok mayoritas sengak yang menyebalkan.

Kesadaran peminoritasan dalam minoritas ini dibangun saat Django mulai berperan sebagai pedagang budak. Semacam mandor buruh yang menindas buruh-buruhnya padahal ya sama buruh juga, atau nyonya rumah yang gemar menghukum pembantunya padahal sama-sama perempuan, bisa juga gay yang mencemooh gay lain cuma karena lebih gemulai, contoh lain, dalam sejarah kita, pribumi yang menindas pribumi lain sebagai kepanjangan tangan penjajah. Hal-hal semacam itu.

Ini seperti perlawanan Dewi Sartika disatukan dengan Christina Martatiahahu sekaligus. Perlawanan fisik, tanpa melupakan pendidikan. Django harus bisa membunuh dengan sangat baik, tapi juga harus bisa bersikap, dan berpikir cerdas, termasuk menahan diri. Intinya Django tidak boleh lagi menjadi budak belian yang tidak tahu bersikap, tidak boleh grasa-grusu dan emosional karena akan merugikan. Butuh banyak daya upaya, sebab itu dia harus lebih dulu berguru pada "godfather" Jerman-nya itu.

Lebih dari itu, perlawanan kelompok minoritas selalu butuh lebih banyak effort, melawan ketakutan dalam diri, melawan kelompoknya sendiri (yang minoritas dan meminoritaskan), juga melawan masyarakat dalam lingkar lebih luas.

Seperti Django yang begitu kaku menerima tubuh bebas. Gagap saat menyadari tubuh itu miliknya dan dia boleh melakukan apapun, dan memakai apapun untuk tubuh yang cuma satu-satunya itu. Bayangkan pertarungan mentalnya saat harus mulai terbiasa menggunakan tubuhnya sesuka dia.

Pada akhirnya politik tubuh, soal makna, nilai moral, dan batasan-batasan tubuh.

Sebagai budak belian kulit hitam, makna tubuh adalah properti milik empunya, tidak boleh betindak sesuai hati dan otak tubuh itu sendiri, melainkan tergantung hati dan otak si pemilik, dan dibatasi oleh banyak aturan sesuai kehendak si tuan.

Seperti kata Socrates, bisa jadi bagi Django dan Broomhilda, tubuh adalah penjara jiwa, tubuh mereka yang negro adalah rintangan bagi cinta. Mereka menjadi budak semata karena tubuh mereka, dan jiwa adalah sesuatu yang lain.

Maka halangan dari tubuh harus direduksi, dengan menghabisi manusia-manusia yang menciptakan definisi, nilai, dan batasan bagi tubuh negro mereka berdua. Sebab itu, matilah semua kulit putih yang punya peran signifikan dalam film ini.

Namun Django tidak bisa melakukan hal tersebut sebagai Django the Slave. Django harus melakukan hal tersebut sebagai Django Freeman. Manusia bebas yang memiliki hak seperti kulit putih dan berkuda bersama kulit putih.

Saat inilah dia menciptakan kelasnya sendiri. Kelas yang belum lagi disepakati sederajat dengan para kulit putih, tetapi juga tidak lagi sebagai budak belian. Kelas yang menjadikan minoritas bahkan menjadi lebih kecil lagi dalam kelompok minor.

Seperti pembedaan mayor-minor yang berujung pada kuasa, peminoran di dalam minoritas juga menghasilkan orang-orang yang merasa berderajat lebih tinggi dari manusia lain. Misalnya saja mbak-mbak berpakaian seksi yang berseliweran di Kemchick dengan opa-opa bule. Mbak-mbak berpakaian seksi ini kerap kali bersikap arogan pada pekerja Kemchick, atau pada orang Indonesia lain, lalu luar biasa ramah pada orang-orang kulit putih.

Ini bukan cuma soal post-kolonialisme. Ada suatu kepercayaan diri luar biasa yang dimiliki orang-orang yang merasa superior di dalam minor ini. Bisa jadi soal nilai-nilai mayoritas, semakin dia merasa lebih dekat dengan nilai-nilai mayor, semakin dia merasa lebih baik dari kelompok minor yang tidak dianggap baik oleh nilai-nilai mayor.

Dalam kasus mbak-mbak Kemchick, secara umum banyak yang merasa punya uang lebih banyak berarti lebih baik, negara dengan GDP lebih tinggi artinya lebih baik. Padahal cuma soal nilai tukar mata uang, bisa jadi opa-opa ini tidaklah kaya kalau kembali ke negaranya. Namun si mbak sudah merasa lebih baik dari pada buruh-buruh Kemchick yang harus banting tulang demi duit yang menipis pada minggu pertama dan habis sebelum gaji berikutnya datang.

Gay yang merasa lebih maskulin, bisa jadi sedang self-proclaimed bahwa dia lebih memenuhi ekspektasi dan nilai-nilai kebanyakan mayoritas soal laki-laki. Sebab itu dia merasa lebih berhak menilai buruk orang lain yang lebih feminin.

Sebagai pedagang budak yang ahli mandingo, maka Django menjadi lebih mayor dari pada kelompok minornya. Dia bisa memilih gaya berpakaiannya sendiri, menunggangi kuda, dan memiliki profesi. Sebab itu kala berperan sebagai ahli mandingo dia jadi lebih perkasa dari budak lain.

Namun bukan Django yang paling kentara, tapi Stephen. Seperti Kepala Kampung yang berpihak pada Belanda dan memberi tahu keberadaan Dji-ih, sahabat Si Pitung, Stephnn yang negro bersetia pada keluarga Candie hingga mati. Mungkin dia oreo, hitam di luar, putih di dalam. Negro yang memaki negro lainnya, karena memiliki akses langsung pada kekuasaan.

Seperti Aladin yang baru bisa mempersunting Jasmine dengan syarat dia punya kuasa berupa materi dan kerajaan yang tak pernah ada sebelumnya, maka Django pun mendapatkan kembali Broomhilda, melalui kuasa.


Comments

Popular posts from this blog

Karena usia cuma deretan angka-angka!

Aku tumbuh sembari membenci payudara

keterbiasaan pada pelecehan seksual