Cerita Gelisah


Salah satu hal menyenangkan di Jakarta ini adalah jalan kaki di malam hari. Biar gelisah keluar bersama keringat.

Ada tukang ojek yang sukanya siul siul minta diajak berantem, pegawai kantoran yang sedang berjajar di warung pecel lele, bule-bule yang menyampirkan jas dan bergegas, taksi yang menurunkan kecepatannya berharap aku ingin diantar, atau pemuda yang keranjang sepedanya penuh rentengan kopi.

Aku membayangkan si pegawai kantoran baru saja mengalami hari yang buruk karena bosnya sedang uring-uringan, lalu motornya macet di parkiran kantor, tak mau menyala, hingga akhirnya dia memutuskan untuk makan malam dahulu baru kemudian memikirkan jalan keluar.

Bule yang bergegas mungkin frustrasi dengan macetnya Thamrin, hingga memutuskan jalan kaki saja menuju apartemen.

Bapak taksi mungkin sedang bahagia karena akan memiliki momongan, sekaligus gelisah pada biaya persalinan, padahal sejak tadi tak ada lagi penumpang. Namun kebahagiaannya mengalahkan kegelisahan, sehingga ia berkendara dengan riang.

Dan si penjaja kopi sepeda sedang ingin menyatakan cintanya pada tetangga sebelah. Namun dia tak berani. Perempuan yang ditaksirnya itu anak tukang ojek, sedang ia, jangankan motor, pulang nanti sepeda masi harus dikembalikan, beserta setoran kepada pengepul. Terlalu malu pada rumah kardusnya untuk bicara cinta.

Kita tidak pernah tahu ada cerita apa dengan puluhan, ratusan orang yang berbagi jalan dengan kita. Mungkin salah satu dari mereka pernah berbagai kursi bis patas 15 dengan kita 2 minggu yang lalu, tetapi tak satu pun yang menyadari. Mungkin juga pria yang berpapasan di jalan barusan nantinya akan jadi ayah dari keponakan-keponakan kelak. Mungkin mobil yang melintas di depan mata berisikan orang yang menentukan jabatan ayah di kantor.

Bagaimana kalau besok ada nuklir dahsyat meledak lalu menghanguskan seluruh orang-orang yang tadi kita temui? Bagaimana kalau bulan depan ternyata kau berpagut cium dengan pria yang tadinya kukenal sekadarnya, sebagai orang yang berbagi atap dalam mencari nafkah? Bagaimana kalau besok aku mati sehingga tak akan lagi menapaki trotoar di sini? Bagaimana kalau bis transjakarta asal China itu dibeli dengan perjanjian China mencarikan pasar serapan untuk rotan Indonesia?

Ah, kita tak pernah tahu kegelisahan mereka, juga sebaliknya. Atau bahkan jangan-jangan kita juga sebenarnya tak pernah terlalu memahami kegelisahan diri kita masing-masing? Kenapa aku ada di sini? Untuk apa? Apa yang aku cari dalam hidup? Mau apa? Mau ke mana? Bagaimana?

Ah jalanan Jakarta selalu terlalu ramai dan terlalu sepi untuk bisa menjawab setiap kegelisahan.

Comments

  1. Aduh suka sekali saya tulisan ini..
    Jadi ingat waktu Seno Gumira Ajidarma bilang di bukunya, jalan tol jakarta kalau malam suka berubah jadi puitik..

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular posts from this blog

First Travel dan betapa seksisnya media kita

Aku tumbuh sembari membenci payudara

keterbiasaan pada pelecehan seksual