Rindu


Aku rindu jam 3 sore saat aku bersiap menyiapkan raket menuju lapangan tenis. Kala itu angin kemarau begitu kering, Ibu menyiapkan air hangat untuk mandi adik, dan ayah belum di rumah.

Aku rindu tanah merah becek dan mobil tua ayah. Rumah kami yang seadanya masih akan ditambah bakal anak perempuan dalam perut Ibu. Aku selalu berpikir keluarga ini terlalu besar. Betapa kasihan adik-adik harus lahir di dunia yang penuh kegelisahan ini. Namun aku tak pernah menyesali kelahiran mereka. Aku menyesali kelahiranku.

Aku rindu kembang ungu yang tak kutahu apa namanya pada genggam jemari kala menyusuri sungai di dekat rumah. Pada sungai itu adik laki-laki memancing dengan alat pancing buatan sendiri yang apa adanya, menarik ikan-ikan kecil yang juga apa adanya. Dan aku berjalan sejauh mungkin menyusuri sungai, mengikuti alir, sambil memandang takjub capung berbagai ukuran dan warna mengitari ilalang yang meletup di tengah sungai.

Ayah main gila dengan perempuan entah siapa, dan ibu mengurus adik-adik di rumah. Sampai sekarang aku tak bisa memutuskan mana yang lebih baik, biar ayah mati saja, atau biar dia main gila. Kalau hidup ini paralel, aku ingin mengintip dunia di mana ayah tak jadi mati dan hidup dengan perempuan itu, juga dunia di mana ayah dan ibu baik-baik saja dalam rumah tangganya, tanpa ada cerita kematian.

Namun, main gila atau tidak, dia tetap ayah. Meski dia mengusir ibu dari rumah dan mereka tak lagi berpasangan, dia tetap ayahku. Tak pernah ada mantan ayah. Tak perlu tes DNA, perangai kami sama. Bersumbu pendek, dan keras kepala.

Aku rindu saat ayah membentakku karena menangis. Dia tidak marah, dia hanya panik menghadapi anak perempuan yang menangis. Kala itu ayah begitu dingin, tak pernah tahu bagaimana menghadapi anak-anaknya. Apalagi aku anak yang tak diharap ada, muncul tiba-tiba membawa bencana bagi masa muda mereka.

Kerinduan yang membuatku iri pada relasi ibu dan adik-adik yang begitu dekat. Aku tak pernah dekat dengan siapapun. Saat aku kecil Ibu direnggut bayi-bayi di rumah sakit dan ibu-ibu lain yang hendak melahirkan. Saat berhenti bekerja, adik-adik mencuri ibu dariku. Tak sekalipun aku pernah memeluk ibu. Canggung.

Aku rindu saat-saat mengunci diri dalam lemari, atau dikurung dalam kamar mandi dengan lampu yang dimatikan. Menghilangkan dunia dari pandangku.

Aku rindu anak perempuan dalam lemari yang dahulu selalu menatap dari balik cermin. Anak perempuan yang tak pernah lagi kutemukan, di manapun.

Comments

Post a Comment

Popular posts from this blog

First Travel dan betapa seksisnya media kita

Aku tumbuh sembari membenci payudara

keterbiasaan pada pelecehan seksual