Perkosa


Sungguh mengerikan kalau ada yang bilang korban perkosaan merasakan kenikmatan, begitu juga, tentu saja, pelakunya. Kalau keduanya merasakan kenikmatan, itu bukan perkosaan namanya, tapi hubungan seks.

Bagi saya, perkosaan itu bukan soal libido. Libido muncul kadang tanpa diundang, tetiba saja muncul tanpa direncanakan. Namun perkosaan tidak mungkin tidak terencana. Memangnya tidak butuh daya upaya untuk melakukan perkosaan?

Perkosaan bukan urusan libido. Jelas. Misalnya saya melihat pria dengan bibir seksi dan wangi, yang membuat saya berimajinasi ingin segera mengecup basah bibir seksinya dan melucuti pakaiannya, bukan berarti lantas saya menarik pria seksi itu ke semak dan memerkosanya di sana.

Tentu saja saya punya libido saat melihat pria seksi, memangnya libido cuma punya laki-laki?!

Misalnya lagi, saat perempuan-perempuan kaukasoid berjemur hanya dengan bikini di sepanjang Kuta, tak ada kurang seksinya. Tetap saja tidak lantas ada serombongan pria yang langsung bernafsu dan memerkosa mereka beramai-ramai di pinggir pantai.

Namun, seorang perempuan berjilbab bau keringat akibat baru keluar dari pabrik yang memaksimalkan upayanya agar tidak terlihat seksi, tetap saja diperkosa dalam perjalanan menuju rumah.

Seorang nenek tua renta, atau anak perempuan 5 tahun yang bahkan belum tumbuh betul fungsi vagina-nya, diperkosa tetangga atau pamannya. Anak laki-laki juga sering kali menjadi korban perkosaan dari orang dekat yang ia kenal.

Libido macam apa ini?

Sebab itu saya selalu menolak jika dibilang perempuan berpakaian seksi menggugah nafsu seks. Pertama, kalaupun birahi naik karena melihat sesuatu, ya sudah semestinya otak mengatur bagaimana berperilaku dan mengatasi persoalan nafsu yang muncul itu.

Seperti yang saya bilang tadi, saat melihat pria seksi yang menggugah nafsu, bukan berarti saya lantas terobsesi untuk berhubungan seks dengan pria itu kan. Jadi tidak ada hubungannya berpenampilan cantik atau seksi dengan perilaku biadab.

Toh buktinya perempuan berjilbab, balita, anak-anak (baik lelaki atau perempuan) dan nenek renta juga tak jarang jadi korban.

Perkosaan bukan soal libido, tapi soal relasi kuasa, pemaksaan, pengobjekan. Bukan semata soal penis yang masuk ke vagina tapi perendahan martabat korban, yang juga sama-sama manusia. Perkosaan bukan soal hubungan seksual, tapi kejahatan.

Kenapa relasi kuasa? Pasti pernah dengar santri yang diperkosa guru ngajinya, atau guru yang melecehkan muridnya, paman yang memperkosa keponakannya, majikan yang memperkosa pekerja rumah tangga.

Relasi dan ketimpangan biasanya semakin parah ketika pelaku punya kendali atas korban. Guru punya kendali pengetahuan atas muridnya, majikan punya kendali ekonomi atas pekerja rumah tangga, atau kyai memiliki status sosial atau yang dikenal dengan modal sosial di masyarakat.

Pemerkosaan terjadi karena korban tidak dilihat sebagai manusia yang setara dengan pelaku. Perkosaan terjadi karena sejak kecil banyak anak laki-laki yang dibesarkan dengan pola pikir bahwa perempuan adalah objek, dan perempuan adalah milik laki-laki.

Perkosaan bukan soal tubuh. Tapi soal isi kepala yang memaknai tubuh itu sendiri. Apakah mereka melihat tubuh sekadar tulang dan daging, atau melihat tubuh sebagai satu kesatuan utuh yang disebut manusia, yang setara dengan mereka.

Comments

Popular posts from this blog

First Travel dan betapa seksisnya media kita

Aku tumbuh sembari membenci payudara

keterbiasaan pada pelecehan seksual