Aku tumbuh sembari membenci payudara


Ya, aku tumbuh sembari membenci payudara.

Payudaraku bukan payudara berukuran superbesar. Meski juga tidak terlalu kecil. Bukan payudara yang membuatku merasa seksi seperti bintang film di Hollywood.

Payudaraku biasa saja, tapi aku tumbuh sembari membencinya.

Aku mulai bersekolah SD di Palembang saat tiga bulan terakhir kelas 6. Menjadi 'bukan pribumi' memberi pengalaman yang kurang menyenangkan. Banyak orang yang sangat mempedulikan persoalan kesukuan di sana.

Setiap pagi aku berangkat sekolah dengan melewati sebuah panti rehabilitasi. Orang bilang tempat tersebut didirikan untuk merehabilitasi anak nakal. Hingga kini aku masih belum paham terminologi anak nakal yang dimaksud.

Daerah sekolahku diberi nama Jalan Sosial bukan tanpa alasan. Di sebelah sekolahku adalah panti sosial, tempat menampung orang-orang yang tidak punya rumah. Sekitar 500 meter di depan sekolah adalah Rumah Sakit Jiwa, dan 200 meter di belakang sekolah adalah Panti Jompo. Dan panti rehabilitasi berada sekitar 300 meter barat daya sekolah.

Untuk menghemat waktu dan jarak tempuh, aku berjalan kaki melewati sepanjang Jalan Peternakan (dahulu sebelum aku pindah, Dinas Peternakan memiliki peternakan sapi di sana. Rasanya sampai tahun lalu areal peternakan sapi itu masih ada, dikelilingi tembok tinggi), lalu melewati masjid, lapangan, dan belakang panti sosial yang membawaku pada gerbang belakang sekolah.

Tahun 1999 tak banyak yang tertarik pada Palembang, daerah sepi penuh asap kebakaran hutan kala musim kemarau, serta tanah merah yang licin kala musim hujan. Masa saat anak-anak masih bisa bermain di pinggir sungai dangkal di sebelah rumah tanpa terseret arus, tanpa polusi air. Masa di mana capung berwarna merah, biru, hijau, dan kuning, baik besar maupun kecil terbang di depan mata, melewati hidung.

Selalu sepi saat aku berangkat sekolah. Biasanya keadaan yang sepi ini tidak menjadi masalah. Tapi pagi itu seorang anak laki-laki yang tidak kukenal berlari ke arahku dan mencengkram payudara yang belum lagi tumbuh itu.

Tentu payudaraku terasa sakit. Namun sakit pada payudara tidak lebih mengganggu dari pada kebingunganku. Anak kampung kelas 6 SD yang tak paham kejahatan seksual, bahkan tak mengerti hal yang barusan terjadi itu apa.

Namun aku tetap melanjutkan perjalanan. Sampai juga aku ke sekolah. Tak kuceritakan pada siapapun kejadian barusan. Bahkan tak paham kalau mencengkram payudara lalu kabur adalah salah dan tidak patut dilakukan. Jadi kuputuskan untuk diam saja.

Sampai kejadian yang sama terulang lagi.

Kali itu aku berangkat sekolah bersama adik laki-laki yang baru kelas 3 SD. Dia mati-matian berlari mengejar laki-laki itu. Tak terkejar juga. Dan aku kembali berjalan menuju sekolah seperti kemarin, dan kemarin dulu. Namun kali ini dengan kebingungan yang bertambah-tambah.

Aku menangis bingung. Itu tadi apa, kenapa dia begitu tertarik pada payudara, aku harus apa.

Sekolahku ini sekolah kampung yang cuma punya enam kelas dan guru yang mengajari seluruh pelajaran. Guru tanpa empati yang di akhir tahun pelajaran minta disuap agar nilai murid dibuat baik, dan kalau bersikeras tidak mau memberi apa-apa, niscaya nilai ujianmu menjadi begitu jeleknya.

Sekolah juga mendiamkan kejadian yang terjadi di belakang gerbang sekolah itu. Aku bertaruh Ibu Ros, guru kelas 6 kala itu, tidak benar-benar mendengarkan ceritaku. Dia hanya sepintas menghiraukan lalu menyuruhku untuk mengusap air mata dan segera masuk kelas.

Jadilah aku dianggap anak Jawa manja, setelah sebelumnya dianggap sombong karena tidak bisa berbahasa Palembang.

Itu bukan terakhir kali.

Payudara bertumbuh seiring perubahan bentuk tubuh dan progesteron. Begitu juga sensivitas dan kebencian pada payudara yang membuat hidup menjadi tidak nyaman pada masanya.

Aku mengenakan jilbab pada banyak waktu yang kuhabiskan di SMP dan SMU. Namun pakaian yang tidak membentuk lekuk tubuh, cenderung gombrong dengan jilbab panjang menutupi dada tidak juga mencegah laki-laki berpikiran kotor dan tidak tahu malu untuk tetap berpikir kotor dan bertindak tanpa malu.

Kejadian yang sama terjadi lagi saat SMP, lalu juga SMA. Seorang kenek bus berusaha meraih payudara saat aku berdiri di tengah jalan protokol, menunggu jalanan cukup sepi untuk menyebrang. Seolah payudara ini cuma dua benda bergelantungan yang entah punya siapa.

Begitu juga dengan anak laki-laki di sekolah. Saat SMP, sekolahku bukan sekolah negeri, kala itu kami belajar agama mungkin empat kali dalam seminggu. Sebut saja, akidah islam, tarikh islam, akhlaq, dan Al-Quran. Tidak termasuk Pelajaran bahasa Arab dan sejarah penyebaran Islam di Indonesia. Siapa bilang begitu banyaknya pelajaran agama membuat anak laki-laki ini tidak melecehkan perempuan yang berkerudung panjang.

Saat SMA lebih mengerikan lagi, seorang laki-laki mendatangi bilik warnet yang sedang kugunakan, dan meminta oral seks. Aku ingat betul, saat itu aku bercelana panjang, dengan kaus biru panjang dan berjilbab biru hingga ke pinggang. Apa-apaan ini.

Maka sejak itu aku yakin, baju panjang yang katanya melindungi tubuh perempuan ini, tidak benar-benar melindungi. Toh mereka bisa saja tetap melihat orang lain telanjang seberapa banyakpun kain yang melapisi badan. Sungguh tak adil kalau otak-otak mereka mereka yang rusak, tapi tubuh ini yang harus jadi sasaran untuk "dibenarkan".

Karena ini bukan salah tubuh perempuan, bukan salah payudara, tapi selalu ada otak-otak yang butuh perbaikan.

Comments

  1. meskipun saya tidak berpayudara, ikut kesal juga baca kelakuan orang-orang itu ya =(

    ReplyDelete
  2. di suatu blog islami milik muslim Amerika ada kisah:
    Suatu hari Nabi Muhammad sedang berjalan dengan sepupu laki-lakinya. Di tengah perjalanan mereka bertemu kenalan Nabi yg merupakan seorang wanita cantik jelita. Sepupunya Nabi langsung nafsu terhadap wanita itu, mulutnya melongo, matanya terbelalak...Nabi Muhammad melihat kejadian itu---STOP DULU CERITANYA--

    sekiranya pembaca dgn "mindset jongkok" akan mengira-ngira "Pasti tu cewek gak pake cadar atau jilbab", "Pasti tu cewek keliatan auratnya" dan selanjutnya "Nabi Muhammad akan menyuruh wanita itu menutup dgn cadar wajahnya yg menggoda iman..." atau "Pasti Nabi meminta wanita itu menutup auratnya, jika tidak, ia bukan muslimah lagi."

    LANJUTAN CERITANYA-----

    .........Nabi Muhammad yang melihat kejadian itu menoyor pipi sepupunya.

    Kesalahan bangsa patriarkis adalah menyalahkan wanita atas kasus pelecehan seksual, dan lupa mengoreksi diri bahwa pelakunya adalah laki-laki dan justru wanita adalah korban.

    Saya cuma heran MENGAPA teladan Nabi Muhammad pada kisah di atas TIDAK PERNAH SAMPAI INDONESIA. Ada apa dengan audience muslim di Indonesia??

    ReplyDelete
    Replies
    1. You know what?

      Karena hadits yang "beredar" adalah hadits yang sesuai dengan selera kaum elit ulama. Kalau ada hadits yang tidak relevan, kasih aja label doif atau palsu atau apa lah itu. Habis perkara.

      Contoh lain, tentang hadits yang lebih populer, yaitu tentang perintah Nabi untuk belajar bahkan kalau perlu sampai ke negeri Cina.

      Faktanya, hari ini mana ada ulama yang menganjurkan umat belajar ke negeri Cina. Dan Anda tahu apa jawaban teman saya yang lulusan pesantren mengenai hal ini? Katanya hadits ini lemah. Jadi gak perlu kita habiskan energi untuk menuruti hadits lemah ini.

      Yaelah. Kalo giliran yang berat2, dengan enaknya dibilang lemah. Kalo giliran yang enak2 semacam beristri empat, gak perlu repot2 cari kebenarannya, langsung aja dapat predikat hadits yang kuat (atau apalah itu istilahnya dalam bahasa Arab, saya gak ngerti).

      Delete
    2. atau juga mungkin tafsirnya kurang oke. mungkin maksud muhammad ga beneran kudu ke cina, tapi ke manapun sejauh apapun demi mencari ilmu. well, siapa tahu :D

      Delete
  3. Suka sekali dengan tulisannya, gamblang & kena sasaran. Salam kenal mba Rika :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Terima kasih, Mb Lenny, Salam kenal!

      Delete

Post a Comment

Popular posts from this blog

orang tua Indonesia lebih suka liat anaknya kawin dari pada bahagia

keterbiasaan pada pelecehan seksual