2013: Petualangan Pertama

Malam terakhir 2012 dan dini hari pertama 2013 kemarin sangat seru. Bermula ketika sampai di depan kos, ternyata telepon genggam raib. Tidak lagi di saku jaket.

Pertama-tama yang dilakukan adalah menelusuri jalan yang dilalui dari Gambir-Kuningan. Di tengah perjalanan muncul keteringatan mengenai aplikasi pelacakan telepon genggam bernama find my iphone.

Di sini petualangan dimulai.

Seorang teman dengan sangat baik hati melacak keberadaan telepon genggam, memandu saya dari kamarnya yang saya bayangkan begitu nyaman dari pada aspal pukul 12.30 dini hari.

Pelacakan pertama, telepon genggam berada di sekitar taman menteng. Saat asik menyisir parkiran toko ritel di depan taman menteng, teman berkata, pelacakan GPS menunjukan telepon genggam bergerak ke arah pojokan jalan Indramayu.

Mungkin setengah jam saya bolak balik di pojokan jalan indramayu. Seorang anak muda tampak gelisah dan mencurigakan. Saat saya mencoba menghubungi telepon genggam, dia tetiba mengeluarkan telepon genggam dari kantungnya, celingak celinguk gelisah, lalu memasukan lagi ke kantung.

Saat itu jarak kami terlalu jauh untuk bisa memastikan. Lalu aku mendekat, duduk di sebelahnya, dan mulai melakukan panggilan kembali. Kali ini dia bergeming. Aku pun bergeming. Tak mau bergerak dari situ.

Mungkin mengahabiskan waktu 10 menit hingga aku bergerak. Belaum terlalu jauh dari tempat semula, teman menghubungi: gerak ke arah taman menteng rik!

Sontak saya menengok ke arah lelaki mencurigakan tadi. Ha! dia hilang.

Pengejaran dimulai.

Secepat kilat saya menyebrang. Menyadari penuhnya taman menteng di malam tahun baru, saya merasa bodoh. Bagaimana mungkin menemukan secuil benda sebesar telapak tangan. Saya hanya duduk tercenung, hampir memutuskan pulang.

Sampai akhirnya sebuah pesan singkat masuk: dia gerak ke arah kuningan, sekarang uda tiga gedung dari taman menteng.

Saya kembali bersemangat. Berjalan menyusuri trotoar yang diinvasi anak muda masa kini berwajah sumringah, yang bersandar pada julangan gedung. Saya terus menysuri secermat mungkin sambil meminta teman menyalakan bunyi peringatan di telepon genggam dari jarak jauh.

Bodohnya, mana bisa nada peringatan telepon genggam menembus derap kembang api.

Dia gerak terus ke arah kuningan, uda mau imam bonjol. Pesan baru kembali masuk.

Teman lain yang bersama saya menjadi detektif dadakan malam itu memutuskan untuk mengambil motor. Maka kebut-kebutan di mulai.

Telepon genggam saya terus bergerak menuju kuningan, tendean, wijaya, hingga berhenti di depan CCF. Bodohnya saya tidak tahu di mana itu CCF. Maka kami menghabiskan banyak waktu tersesat di tengah malam di antara rumah-rumah mewah yang tidak mampu saya beli dengan 10 tahun gaji.

Sesampainya di CCF, telepon genggam justru bergerak ke Soto Kudus Senayan, lalu berhenti di sekitarab Cipaku III.

Manalah saya tahu di mana Cipaku III, atau Soto Kudus Senayan. Di tengah kebingungan tidak menemukan Soto Kudus Senayan, telepon genggam bergerak ke arah belakang kantor walikota, lalu menuju bundaran dekat Prapanca.

Dugaan saya dia menuju mesin anjungan tunai mandiri sebuah bank. Kemalasan dan kebutuhan untuk semakin ringkas membuat kita tidak lagi perlu turun dari kendaraan untuk sekadar mengambil dana tunai.

Saya pesimis dan kelelahan, 7 jam di kereta, dan 2 jam berjalan kaki sambil dihujani rintik. Akhirnya memutuskan pulang. Namun penelusur jejak berkata telepon genggam kembali bergerak ke arah tarakanita.

Kami bergerak menuju tarakanita dan terjebak pada gang-gang berportal. Jam 3 subuh itu, kami bersepakat meringkuk saja di kamar.

Siapa bilang saya puas. Sampai Kamar saya terburu mengecek apple ID. Ah, andaikan sepanjang perjalanan saya bisa melihat peta hibrid milik google sejelas ini. Aplikasi menunjukan dua rumah di sebelah tarakanita, rumah di Jalan Pulo Raya III.

Subuh itu saya tidak bisa tidur, penasaran. Maka 5.30 pagi, saya putuskan untuk mengecek Pulo raya III. Haha... saya memang obsesif.

di titik merah itu petualangan berakhir
Tentu telepon genggam tak ditemukan. Terkadang masih kesal memang. Karena telepon genggam itulah senjata untuk memotret segera paparan potongan data yang ditampilkan nara sumber, atau sekadar untuk menularkan jaringan internet.

Tapi sudahlah.

Setidaknya 2013 dimulai dengan petualangan.

Selamat datang!



Comments

  1. Tapi setidaknya iPhone bisa di lock dari jarak jauh juga kan? Biar gak bisa di pakai buat apa-apa

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular posts from this blog

First Travel dan betapa seksisnya media kita

Aku tumbuh sembari membenci payudara

keterbiasaan pada pelecehan seksual